My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Nafisah



Sebenarnya novel ini belum ending, masih panjang. Aku cuman mau fokus dengan novel aku yang satu itu.


.


.


.


Pertemuan akan selalu berbanding lurus dengan perpisahan. Dan kuncinya ialah keikhlasan, keikhlasan untuk menerima. Kesedihan tidak akan membelenggu ... saat kau memiliki kuncinya.


Kondisi Nisa sudah sangat membaik, dan sore ini dia sudah di bolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


Nisa dan ustadz Rian saling tatap setelah melihat dua mobil mewah terparkir di halaman rumah ustadz Rian.


"Hubby ada tamu sore ini?" tanya Nisa penasaran.


"Enggak ada. Nisa," jawab ustadz Rian. Dia juga bingung siapa yang bertamu di rumahnya saat ini.


"Nyoya Elin dan Tuan Wilson sudah pulang dari luar negeri, Tuan Rian. Mereka sedang menunggu Tuan di dalam," ucap Bibi Ati di ambang pintu.


'Paman dan Bibi sudah pulang dari luar negeri, kenapa tiba-tiba seperti ini dan tidak memberitahuku,' batin ustadz Rian.


Raut kebingungan tampak di wajah Nisa saat melihat sesosok perempuan bercadar dengan bulu mata lentik mengagumkan yang mampu membuat Nisa tak bergeming melihatnya.


"Mas," ucap perempuan bercadar itu lembut, dengan suara yang selembut sutra meneduhkan hati siapa saja yang mendengarnya. Perempuan itu berjalan ke arah ustadz Rian, lalu memeluk tubuh ustadz Rian dengan erat.


"Siapa kamu?" tanya ustadz Rian bingung dan menjauhkan tubuhnya dari perempuan bercadar itu.


"Dia adalah istri kamu. Rian," tutur pria paruh baya yang tak lain Wilson. Dia adalah paman dari ustadz Rian yang mengurusnya selama ini.


"Istri? Maksud Paman apa?" Ustadz Rian benar-benar bingung.


Nisa yang masih berdiri di belakang ustadz Rian, masih terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar kata 'istri' terhadap perempuan bercadar di hadapannya itu.


"Duduk dulu, Rian. Bibi akan menjelaskan pada kamu," titah Elin.


Hening beberapa saat.


"Ada rahasia yang selama ini belum kami beri tahu kepada kamu, Rian. Sebelumnya Bibi dan Paman minta maaf atas hal ini. Mungkin ini terlambat untuk mengatakan kepada kamu." Bibi Elin membuka keheningan di ruang tamu itu.


"Biar saya yang akan menjelaskan pada, Mas Rian. Bi," jawab perempuan bercadar itu.


"Mas aku Nafisah istri Mas." Perempuan bercadar itu, membuka kain yang menutupi wajahnya. Dia memperlihatkan wajahnya terhadap Ustadz Rian, berharap ingatan suaminya pulih kembali.


Ustadz Rian tercengang melihat wajah yang sangat familiar itu, dia memegang kepalanya yang terasa sakit mengingat hal-hal yang di lupakan.


"Nafisah ini benar kamu?" tanya ustadz Rian mencakup pipi Nafisah. Nafisah mengaguk, satu bulir air mata jatuh di pipi wanita itu.


"Mas sudah ingat denganku?"


Ustadz Rian langsung memeluk tubuh Nafisah. "Aku sangat merindukanmu, Sah."


Sakit. Hanya kata itu yang bisa mewakili perasaan Nisa saat ini. Dia mematung di tempat memperhatikan pria yang sangat dia cintai berpelukan dengan wanita lain dan kelihatan sangat bahagia sekali bertemu dengan sosok Nafisah.


'Lalu aku di sini tidak di anggap lagi,' batin Nisa bersedih.


"Abah dan Umma pasti senang bisa mengetahui ini, Mas. Sekarang kita pergi pesantren yah," pinta Nafisah. Kediaman Ustadz Rian dengan pesantren Nafisah cukup jauh.


Ustadz Rian mengaguk setuju.


"Siapa kamu?" tanya Bibi Elin kepada Nisa yang masih berdiri mematung di tempat. Pernikahan Nisa dan ustadz Rian memang belum tidak di ketahui oleh Elin maupun Wilson.


"Sa–ya keponakan dari Bibi Ati. Pembantu di rumah ini," jawab Nisa berbohong. Nisa tidak mau merusak suasana di ruangan itu. Dia melemparkan senyum tipis ke arah Elin dan Wilson. Senyum palsu terukir di bibir gadis itu. Bibi Elin membalas senyuman itu.


Netra milik ustadz Rian dan Nisa bertubrukan saat ustadz Rian berdiri dan menggandeng tangan Nafisah, Nisa menundukkan kepalanya memutuskan kontak mata itu. Nisa tidak sanggup melihat kemesraan itu di depan matanya.


Mereka semua segera pergi ke pesantren milik Nafisah, meninggalkan Nisa dengan sejuta luka di hatinya.


Tubuh Nisa merosot ke lantai, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bulir air mata jatuh membasahi pipi gadis ini. Nisa ingin pergi berlari sejauh-jauhnya, dia tidak sanggup menerima kenyataan ini.


"Non, kenapa berbohong kepada mereka?" tanya Bibi Ati. Wanita paruh baya ini, menarik tubuh Nisa ke dalam dekapannya.


"Bibi, Nisa masih tidak ngerti, apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang di sembunyikan oleh Ustadz Rian selama ini kepada Nisa, Bi?" tanya Nisa dengan derai air matanya.


"Tuan Rian tidak menyembunyikan apa-apa dari Non Nisa. Tuan Rian hanya hilang ingatannya selama dua tahun ini, Non."


"Ceritakan kepada Nisa semuanya, Bi," pinta Nisa.


Bibi Ati mengembuskan napas


panjang. "Dua tahun silam terjadi kecelakaan hebat di mobil sepasang suami istri yang baru saja menikah. Dan Non Nisa harus tahu sepasang suami istri itu adalah Tuan Rian dan istrinya. Mobil itu terjatuh ke jurang, Tuan Rian berhasil di selamatkan. Tapi sayangnya istrinya dinyatakan hilang dan kemungkinan sudah meninggal dunia oleh pihak kepolisian yang menyelidikinya."


Bibi Ati berhenti sejenak mengambil napasnya, Nisa mendengarnya antusias dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


"Karena benturan keras saat kecelakaan itu, Tuan Rian hilang ingatannya dan mengambil depresi berat beberapa bulan. Seiring berjalannya waktu kondisi Tuan Rian mulai pulih, ingatannya masih belum terlalu kembali normal, masih banyak hal yang dilupakan. Bahkan Tuan Rian tidak mengenal dirinya siapa, tapi Tuan Wilson terus membantu mengembalikan ingatannya, walau tidak sepenuhnya pulih.


Tuan Wilson dan Nyoya Elin memilih menyembunyikan semua yang terjadi, mereka tidak mau membuat Tuan Rian sakit lagi. Dan mulai dari itu Tuan Rian membuka lembaran baru hidupnya kembali, Tuan Wilson dan Nyoya Elin menyembunyikan semuanya dari Tuan Rian selama ini, mereka berpikir tidak ada perlu di khawatirkan lagi. Karena Non Nafisah sudah tidak di temukan lagi." Bibi Ati mengusap punggung Nisa, memberikan semangat supaya gadis itu tidak putus asa. "Bibi juga syok hari ini Non, setelah melihat kehadiran Non Nafisah."


"Jadi Nisa hanyalah sebuah pelarian ustadz Rian selama ini," lirih Nisa. "Pasti setelah ini, Ustadz Rian menceraikan Nisa, Bi." Suara Nisa terdengar sendu, tatapan matanya kosong.


Nisa segera berlari ke atas menuju kamar, mengemasi barang-barangnya.


"Mau ke mana, Non. Hari sudah mulai gelap?" tanya Bibi Ati setelah melihat Nisa menuruni tangga sambil menarik tuas kopernya.


"Nisa akan pergi dari sini, Bi. Kehadiran Nisa tidak di perlukan lagi." Nisa mengeluarkan cincin pernikahannya dan sebuah surat ke tangan Bibi Ati. "Tolong, berikan ini pada Ustadz Rian."


Nisa mempercepat langkah kakinya untuk segera keluar dari rumah.


' ... terima kasih atas cinta yang Hubby berikan walau hanya sesaat. Dan terima kasih atas rasa sakit ini,' batin Nisa, dia berbalik sejenak. Entah, gadis ini akan kemana.