My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Kesal



"Masih marah sama, Mas?" tanya ustadz Rian kepada Nisa, yang baru saja sampai di depan rumahnya.


"Nggak kok," sahut Nisa sambil berjalan ke dalam rumah.


Ustadz Rian mengejar Nisa, dan menghentikan langkah kaki Nisa.


"Ada apa lagi sih ustadz? aku mau mandi nih," kesal Nisa kepada ustadz Rian.


"Senyum dong, Mas nggak suka muka kamu itu di mayun mulu," kekeh ustadz Rian.


Nisa pun senyum terpaksa. "Hmm. Ustadz dah puas," ucap Nisa lalu meninggalkan ustadz Rian.


"Assalamu'alaikum, Bibi." Salam Nisa kepada Bibi Ati dan menyalami tangannya.


"Wa'alaikumussalam Non," jawab Bibi


Ati. "Gimana joggingnya Non, Non senang?" sambung Bibi Ati.


"Senang sih Bi, tapi tuh," ucap Nisa melirik ke arah ustadz Rian. "Ngeselin dan nyeblin, Bi," sambungnya.


Bibi Ati hanya tersenyum geli dengan sikap kedua majikannya yang tak pernah akur.


"Kok lihat ustadz sih," ucap ustadz Rian heran dan mengerutkan keningnya.


"Emang salah," ketus Nisa.


"Dasar bayi gede keras kepala!"


"Ustadz nyeblin," sahut Nisa tak mau kalah.


"Bayi gede keras kepala!"


"Ustadz nyebelin."


Bibi Ati pusing mendengar perdebatan konyol antara ustadz Rian dan Nisa.


"Sudah, jangan berdebat terus," kata Bibi Ati melerai keduanya. Dan ustadz Rian dan Nisa pun diam.


"Maafnya Bi, istri saya ini memang gini. Otaknya mungkin agak geser sedikit," ledek ustadz Rian lalu berlari secepat kilat untuk menghindari amukan Nisa.


"Ustadz! jaga omongan ustadz. Emang aku gila apa," cerocos Nisa sambil mengejar ustadz Rian.


"Ya gitulah," kekeh ustadz Rian yang berada di ambang pintu kamar.


"Buka nggak kamar mandinya," kesel Nisa karena ustadz Rian bersembunyi di dalam kamar mandi.


"Buka! kalau nggak aku cincang tubuh ustadz nanti," ucap Nisa geram sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Ustadz lagi mandi nih. Kamu mandi bareng ustadz?" Goda ustadz Rian sambil tersenyum dan menghayal ekspresi Nisa yang kesal dengan dirinya saat ini.


"Ogah! dasar ustadz mesum," umpat Nisa kesal.


Nisa mendengus kesal dengan sikap ustadz Rian.


Pintu kamar mandi pun terbuka, dan betapa terkejutnya Nisa ketika melihat ustadz Rian tidak menggunakan kaos dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja.


"Aaaa," pekik Nisa dan langsung menutup matanya.


"Ada apa sih, kenapa teriak-teriak," ucap ustadz Rian lalu berjalan mendekati mendekati Nisa.


"Masih nanya lagi, cepat ustadz pakai baju sana. Dan jangan dekat-dekat," titah Nisa masih menutup matanya. "Zina mata tahu ...," sambung Nisa lagi.


Ustadz Rian malah tertawa mendengar perkataan Nisa. "Istriku, aku ini suamimu. Apa kamu lupa."


"Aku tidak peduli, cepat ustadz pakai baju sana!" Perintah Nisa lagi.


"Iya deh," pasrah ustadz Rian dan memakai bajunya.


"Buka mata kamu, mas sudah pakai baju."


Nisa memandang ustadz Rian penuh takjub dan matanya tidak berkedip sedikit pun.


Dengan rambut ustadz Rian yang masih basah, dan kaos hitam polos yang di gunakan di kulit yang putih membuat siapapun yang memandangnya akan klepek-klepek deh.


"Kok diam sih," ucap ustadz Rian sambil melambaikan tangannya di depan wajah Nisa.


"Ustadz tau kalau ustadz ganteng." Bangga ustadz Rian yang melihat Nisa masih tidak berkedip.


Nisa pun tersadar dan sedikit malu karena tertangkap basah oleh ustadz Rian.


"Pede amat sih, biasa saja. Aku mau mandi dulu."


"Pergi sudah, lagian sudah bau."


"Harum gini di bilangin bau, hidung ustadz itu rusak," ketus Nisa. "Awas ngintip Nisa lagi mandi!"


"Seperti nggak pekerjaan lain saja, kalau mas intip kamu mandi," sahut ustadz Rian. "Lagi pula mas sudah lihat segalanya juga," sambung ustadz Rian berbohong. Ustadz Rian sangat suka melihat wajah Nisa kalau lagi kesal yang akan membuat ustadz Rian gemas melihatnya.


Nisa membulatkan kedua matanya mendengar penuturan ustadz Rian.


"Ustadz!" teriak Nisa dengan nada suara yang sangat tidak bersahabat.


"Hahaha .... bercanda," ucap ustadz Rian karena tidak tega menjahili Nisa terus.


Nisa langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras. Hampir saja membuat jantung Nisa copot mendengar pengakuan ustadz Rian.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah...