
Tidak ada yang mengetahui dengan alur kehidupan. Hanya Sang Pencipta-lah yang mengatur segalanya. Sebagai manusia, kita hanya bisa berjalan mengikuti roda berputar.
Mengeluh wajar dalam menghadapi masalah kehidupan namun, hilangkan rasa putus asa dalam hatimu saat menghadapi masalah yang besar.
Malam ini suasana di kediaman ustadz Rian sangat mencekam, sorot mata penuh kelelahan nampak dari semua orang yang sedang duduk di ruang tamu. Hanya ada keheningan yang ada di ruangan tersebut.
"Kalian pulanglah, ini sudah malam. Kalian pasti capek," ucap ustadz Rian pada Nabila, Riko, Aldi, Nathan, dan ustadz Fauzi.
Mereka berenam sudah mencari Nisa sejak siang tadi, mencari ke segala tempat yang biasa Nisa kunjungi, menanyakan kepada orang-orang yang mungkin melihat Nisa. Namun hasilnya nihil, mereka tidak menemukan keberadaan Nisa sama sekali.
Pihak restoran juga meminta maaf, atas keteledoran para penjaga keamanannya dalam kasus ini.
Penculikan ini seperti sudah di rencanakan secara matang, buktinya saja para penculik berhasil mengelabui petugas keamanan di restoran dan merusak beberapa CCTV tempat kejadian perkara. Mereka hanya menemukan cincin Nisa yang di temukan di depan toilet restoran.
"Pak Rian, ini salah kami. Seandainya kami lebih menjaga Nisa, pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Kami minta maaf Pak," ucap Nathan dengan penuh rasa bersalah. Dia juga sungguh khawatir dengan kondisi Nisa.
"Kalian tidak salah, ini sudah menjadi rencana dan takdir-Nya. Ada hikmah di balik penculikan ini, Bapak meminta kalian mendo'akan Nisa saja supaya keadaannya baik-baik saja." Ustadz Rian berucap seolah-olah tegar, padahal saat ini dia sedang rapuh sekali memikirkan bagaimana kondisi Nisa.
"Kami selalu mendo'akan Nisa Pak, kami berjanji Pak, akan membantu Bapak mencari Nisa sampai ketemu," jawab Nabila.
"Iya Pak, kami akan membantu mencari bebeb Nisa," timpal Aldi dan Riko.
Ustadz Rian tersenyum tipis. "Besok kita lanjutkan mencari Nisa, kalian pulang dan istirahatlah. Bapak juga berterima kasih kepada kalian."
Aldi, Riko, Nathan dan Nabila pun berpamitan pulang kepada ustadz Rian.
"Yan, kamu harus kuat menghadapi ini," ucap ustadz Fauzi menepuk pundak sahabatnya, memberikan semangat agar tidak putus asa. Ustadz Fauzi baru kali melihat sisi rapuh dari sahabatnya.
"Aku mau menemanimu Yan, kondisi kamu saat ini tidak meyakinkan untukku, meninggalkan kamu sendiri."
"Jangan terlalu menghawatirkan aku Zi, aku baik-baik saja. Kamu juga perlu istirahat."
"Baiklah, jangan terlalu bersedih Yan. Kita masih punya Allah yang bisa membantu kita, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum," pamit ustadz Fauzi lalu bangkit.
"Wa'alaikumussalam," jawab ustadz Rian.
Setelah kepergian mereka, ustadz Rian berjalan ke balkon kamarnya, menikmati semilir angin malam, ia menatap langit yang bertaburan bintang dengan tatapan kosong.
'Ya Allah, semoga Nisa selalu ada dalam lindungan-Mu.'
Satu bulir air mata jatuh di pipi ustadz Rian, menjadi bukti bahwa ia sangat khawatir dengan kondisi Nisa sekarang.
'Nisa, mas sangat mencintaimu. Mas rindumu denganmu Nis.' Suara ustadz Rian terdengar lirih, dia tidak mau kehilangan sosok Nisa dalam hidupnya.
****
Di dalam ruangan yang serba gelap hanya terdengar suara tangisan dan rintihan kesakitan dari gadis yang masih menggunakan seragam putih abu-abu sekolahnya. Gadis itu tak lain adalah Nisa. Nisa disekap bahkan disiksa oleh penculik yang menculiknya. Tetesan darah dari tangan Nisa mengalir begitu saja di lantai ruangan tersebut. Sungguh kejam orang-orang yang menculik Nisa sekarang, mereka tidak segan-segan melukai tubuh Nisa dengan senjata tajam.
'Hubby, Nisa takut.' Suara Nisa terdengar melemah, ia tidak tahan lagi menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Harapan Nisa sekarang hanya pada-Nya, Nisa berpasrah bila memang dia harus kembali pada-Nya dengan cara ini Nisa ikhlas. Dan sangat ikhlas sekali, Nisa tidak kuat lagi, menahan siksaan ini.
'Bu, Yah, mungkin sebentar lagi kita akan berkumpul dan bersama lagi. Hubby maafkan Nisa.'