My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Keluarga Nathan



La Tahzan Innallaha Ma'anna ....


Aku pergi bukan karena perasaanku juga pergi, melainkan masing-masing dari kita berhenti untuk saling menyakiti.


Semilir angin malam berhembus meniup jilbab dari wanita yang sedang berjalan rapuh itu. Entah kemana dia pergi sekarang, tatapan matanya kosong menelusuri trotoar jalan. Langit malam yang mendung dan gemuruh petir pertanda sebentara lagi akan turunnya hujan terdengar di telinga wanita itu.


'Aku harus ke mana sekarang?' batin Nisa bertanya pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar melemah.


Tetesan air hujan sudah mulai turun membasahi jalan raya. Nisa masih berdiri di tempat, air mata kembali luruh di pipi gadis itu.


Pemuda yang sedang mengemudi mobil mewah hitam itu tampak menepikan mobilnya ke tepi jalan. Matanya memicing melihat perempuan yang sangat familiar yang sedang berjalan sendirian itu.


"Itu kan bebeb Nisa," ucap Riko.


"Benar Nat, itu bebeb Nisa," timpal Aldi sependapat dengan Riko.


"Kalian tunggu di dalam mobil, biar gue aja yang keluar." Nathan segera membuka mobil dan berlari kecil ke arah Nisa.


Mendengar suara hentakan kaki seseorang yang berjalan ke arahnya, Nisa memberhentikan langkahnya.


"Nisa?" tanya Nathan memastikan.


Nisa membalikan badannya, menghadap Nathan sepenuhnya. "Nathan ...."


Hujan semakin turun dengan deras malam itu.


"Kamu mau ke mana malam-malam hujan seperti ini? kamu baru saja keluar dari rumah sakit, Nisa," tutur Nathan menatap lekat netra milik Nisa. Meski hujan, Nathan bisa melihat bulir air mata yang jatuh di pipi wanita di hadapannya itu.


Nisa tidak menjawab, dia menundukkan kepalanya merasakan sesak yang masih melanda dadanya.


Nathan mengangkat dagu Nisa. "Ada apa, Nisa?" tanyanya khawatir.


Nisa langsung memeluk tubuh Nathan. "Nathan, aku kecewa sama ustadz Rian." Nisa menangis sejadi-jadinya di pelukan Nathan.


Nathan mendorong pelan tubuh Nisa. "Kita masuk ke dalam mobil dulu, Nisa. Nanti kamu sakit." Nathan menarik lembut tangan Nisa.


"Bebeb Nisa, kamu kenapa?" tanya Riko dan Aldi kompak.


"Sudah, lo berdua jangan berisik!" Nathan melepaskan jaket yang di pakai dan di berikan kepada Nisa.


Riko dan Aldi duduk di kursi depan, sementara Nathan memilih duduk di kursi belakang bersama Nisa. Hati Nathan sakit melihat wajah gadis yang duduk di samping itu yang biasa ceria sekarang murung dan terlihat sangat sedih lagi.


"Cerita sama gue semuanya, Nisa."


Iris layu Nisa, menatap wajah Nathan. "Ternyata aku hanyalah istri kedua dari ustadz Rian, Nat."


"Apa?" Ketiga pria itu kaget bukan main. Riko yang mengemudi mobil langsung mengerem mendadak mendengar ucapan Nisa.


"Jadi Pak Rian, sudah menikah sebelum menikah dengan lo, Nisa?" tanya Nathan. Nisa hanya mengangguk.


"Pak Rian, brengs4k!" umpat Nathan penuh kebencian.


Nisa kembali menundukkan kepalanya. "Sekarang aku nggak punya siapa-siapa lagi, Nat. Hidup aku sudah hancur dan tidak ada gunanya lagi," lirihnya.


"Lihat gue sekarang, Nisa!" titah Nathan.


Nisa mendongak kepalanya mengikuti perintah Nathan. Nathan menghapus lembut air mata di pipi gadis itu.


Nathan tersenyum tipis. "Lo masih punya Allah, Nisa. Dan jangan anggap lo sendiri, masih banyak orang yang sayang dan cinta sama lo. Termasuk gue," ujar Nathan penuh keyakinan. Nathan menarik tubuh Nisa ke dalam dekapannya. "Gue akan selalu ada di sisi lo, Nisa."


Nisa melepaskan pelukan itu. "Kita bukan mahram, Nat." Nisa menjauhkan tubuhnya dari Nathan.


"Maaf, gue nggak tega lihat lo kaya gini."


Nisa mengangguk kecil, dia berusaha tegar dan kuat. "Kamu mau ajak aku ke mana, Nat?" tanya Nisa bingung.


"Ke rumah."


Nisa menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak usah, antar aku ke rumah Nabila aja, Nat."


"Untuk malam ini lo nginap di rumah gue aja, besok gue antar lo ke rumah Nabila."


Selang beberapa menit kemudian mobil milik Nathan sampai di halaman rumahnya.


"Rik, bawa koper Nisa ke atas," titah Nathan. Riko dan Aldi berjalan mendahului Nathan dan Nisa.


Nisa menahan tangan Nathan sebelum masuk ke dalam rumah. "Aku takut ngerepotin kamu, Nat."


"Nggaklah, Nisa."


Nisa berjalan mengekor di belakang Nathan.


"Nathan, bawa pulang perempuan ke rumah Pah, wah kita akan ada mantu," girang Silvi senang setelah melihat kepulangan putranya dan di ikuti gadis di belakangnya.


Iwan tersenyum senang juga. "Siapa perempuan di belakang kamu itu, Nathan?" tanya pria paruh baya itu yang merupakan ayah Nathan.


" Ini Nisa." Nathan menarik tangan Nisa untuk berdiri ke sampingnya.


"Nisa ... ini benar kamu, Nak?" tanya Silvi tak percaya, dia langsung bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh Nisa.


"Iya, Tante," jawab Nisa canggung lalu mencium punggung tangan Silvi.


"Makin cantik aja kamu, Nak. Makanya Nathan bersikeras pindah ke sini," tutur Silvi menggoda putranya.


"Ma!" Nathan menunjukkan ekspresi tidak suka dengan lelucon mamanya itu.


"Kenapa kamu bawa Nisa ke sini, Nathan?" tanya Iwan, pria paruh baya itu melemparkan senyum tipis ke arah Nisa.


"Ceritanya panjang, Pa."


"Sudah, sekarang antar Nisa ke kamar Nathan," titah Silvi yang melihat kondisi Nisa sangat kelelahan. "Nisa anggap aja seperti rumah sendiri yah." Silvi mengusap lembut pipi Nisa. Silvi mengetahui penderitaan gadis di hadapannya itu.


Nisa tersenyum tipis. "Maaf kalau Nisa merepotkan keluarga, Tante," ucap Nisa canggung.


"Tidak apa-apa, Nak. Tak berapa lama juga kamu akan menjadi mantu di rumah kami. Iya kan, Pah?" Silvi meminta pendapat suaminya.


"Tentu saja, Ma." Iwan mendukung godaan istrinya.


Nisa hanya tersipu malu mendengar penuturan orang tua Nathan. Keluarga Nathan tidak pernah berubah dari dulu. Mereka selalu baik pada dirinya dan selalu saja menjodohkannya dengan Nathan.


Nathan segera menarik tangan Nisa untuk meninggalkan kedua orang tuanya yang terus saja menggodanya dengan Nisa. "Jangan dengarkan omongan Papa dan Mama gue yah, Nisa."


Nathan berhenti di salah satu kamar. "Lo bisa istirahat di kamar ini," ucap Nathan lalu membuka pintu kamar.


"Makasih, Nat."


"Masuk udah, ganti baju lo. Nanti lo masuk angin."


"Bebeb Nisa jangan sedih, ada kami yang selalu dukung bebeb Nisa." Riko tersenyum simpul dan memberikan semangat kepada Nisa.


"Semangat dong bebeb Nisa dan jangan sedih lagi," ujar Aldi.


"Kalian memang yang terbaik," ucap Nisa tersenyum tulus.


"Selamat tidur Nisa, kalau ada apa-apa panggil aja gue. Kamar gue di ujung sana," kata Nathan sambil menunjuk salah satu kamar.


"Iya."


Nathan menarik paksa tangan Riko dan Aldi untuk meninggalkan Nisa. Nathan ingin membiarkan Nisa istirahat dan menenangkan diri.


Nisa segera masuk dan mengganti pakaiannya yang basah.


"Non, ini jahe hangat. Biar tubuh Non nggak kedinginan," ucap wanita paruh baya di ambang pintu yang merupakan pembantu rumah tangga di rumah Nathan.


"Masuk, Bi!" Nisa duduk di tepi ranjang.


"Kalau ada perlu apa-apa, Non bisa panggil Bibi," ucapnya lalu menaruh jahe hangat itu di atas meja. Nisa mengaguk kecil.


Setelah kepergian ART itu, Nisa merebahkan tubuhnya ke atas kasur king size itu. Matanya tidak bisa terpejam, pikiran masih melayang mengingat kejadian di rumah ustadz Rian.


'Nisa sangat mencintai, Hubby. Tapi kenapa, Hubby membuat Nisa jatuh kembali dalam keterpurukan ini. Hubby ... kau adalah orang yang Nisa pilih dari banyaknya mereka yang meminta Nisa percaya,' batin Nisa. Dia tertawa sumbang lalu menyeka air matanya yang kembali jatuh di pipinya secara kasar.