
Nisa berjalan malas menuju dalam kelas, Ia sangat tidak suka ketika melihat ustadz Rian dengan Vivi.
"Nisa kamu dari mana saja, aku carian kamu dari tadi," ucap Nabila pada Nisa yang sedang duduk di kursi.
"Dari ruang guru, antar buku." ketus Nisa.
"Tumben kamu diam dan murung, kamu punya masalah Nis?" tanya Nabila khawatir.
"Nggak kok, gue cuman kesal sama pak Rian." jawab Nisa.
"Emang kamu punya masalah apa sama Pak Rian?"
"Aku di lamar oleh Pak Rian dan tadi aku lihat dia sama perempuan lain. Aku kesal aja sama tu ustadz nggak hargain perasaanku!"
"Apa? kamu di lamar oleh Pak Rian?" kata Nabila tidak percaya.
"Sutt, jangan berisik dan lebay dong Bil."
"Ya maaf, aku masih tidak percaya saja kamu di lamar sama Pak Rian yang ganteng itu. Kenapa dia bisa lamar kamu Nis?" tanya Nabila.
"Aku juga nggak tahu, kenapa ustadz nyebelin itu pergi ngelamar. Mungkin ustadz Rian jatuh cinta padaku pada pandangan pertama." bangga Nisa.
"Iii kepedean." sahut Nabila.
"Kenapa kamu panggil Pak Rian dengan sebutan ustadz juga?" tanya Nabila lagi.
"Kepo! pokoknya ceritanya panjang aku malas cerita." sahut Nisa.
"Hmmm." Nabila berdehem kesal.
****
Pulang sekolah.
"Nisa kita pulang bareng ya," ucap Nabila.
"Oke, tapi kenapa kamu nggak pulang sama pacar kamu itu?"
"Sudah aku putusin, masa dia selingkuh di belakangku coba." kata Nabila dengan ekspresi sedih.
"Ooo kasihannya sahabatku yang satu ini, sabar ya. Makanya kamu harus ikuti jejak aku. Langsung di lamar."
"Sombong."
"Bilang aja iri!"
"Benar sih Nisa, kamu itu beruntung di lamar sama pak Rian itu. Sudah ganteng, sholeh, calon lelaki idaman banget."
"Sudahlah puji ustadz nyebelin itu, ayo kita pulang." sahut Nisa dan mereka pun berjalan pulang.
"Nisa, itu pak Rian memanggil kamu." Nabila memperingati Nisa, yang tidak peduli dengan teriakan ustadz Rian, dari atas motornya.
"Nggak usah di urusin, aku lagi marah sama tu ustadz." sahut Nisa kesal dan mempercepat langkah kaki.
"Jangan gitu dong Nisa, aku percaya Pak Rian itu lelaki yang baik. Kamu harus menyelesaikan masalah ini." Nabila memberi saran lalu menahan Nisa agar berhenti berjalan.
"Iya deh." pasrah Nisa.
"Akhirnya kalian berhenti juga." kata ustadz Rian dan menepikan motornya.
"Khairunnisa tolong dengar penjelasan ustadz." mohon ustadz Rian.
"Hmm, baiklah saya akan dengarkan." Nisa memutar bola matanya dengan malas ke arah ustadz Rian.
"Jadi Vivi itu tunangan ustadz dulu, tetapi dia pergi menghilang begitu saja ketika mendekati hari pernikahan. Keluarga besar ustadz sangat kecewa padanya karena dia sudah berkhianat. Sejak saat itulah ustadz melepaskan dan melupakan Vivi. Mulai dari itu ustadz sadar bahwa jodoh adalah Allah yang mengatur. Entah mengapa Vivi datang kembali di kehidupan ustadz, ketika sudah beberapa tahun menghilang, dia terus meminta maaf, dan mencoba untuk kembali dengan ustadz. Ustadz memafkannya, tapi ustadz tidak bisa menerimanya kembali karena hati ustadz sudah tertutup rapat kepada Vivi." jelas ustadz Rian panjang lebar.
Nisa hanya manggut-manggut mengerti.
"Nisa bisa memaafkan ustadz?" tanya ustadz Rian.
"Iya aku akan maafkan ustadz, tetapi ada syaratnya."
"Syarat?"
"Iya syarat!"
"Apa syaratnya?"
"Traktir makan, karena cerita ustadz yang panjang tadi membuat cacing di dalam perutku ini berdemo karena kelaparan." sahut Nisa.
"Gimana ustadz mudaku, sanggup nggak?" tanya Nisa sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Gitu dong." Nisa tersenyum puas.
"Bang sini!" teriak Nisa kepada penjual bakso yang ada di sebarang jalan.
"Nisa kamu mengerjai pak Rian ya, Nisa kasihan pak Rian itu." bisik Nabila.
"Biarin, yang penting kita kenyang hari ini." sahut Nisa.
"Pesan berapa Neng?" tanya penjual bakso tersebut.
"Pesan 6 mangkuk Bang, dan bungkus 4 ya." pinta Nisa.
"Banyaknya kamu pesan Khairunnisa, siapa yang makan?" tanya ustadz Rian heran dan geleng-geleng kepala.
"Nisalah yang makan, masa sih ustadz. Yang aku bungkus untuk tetangga di rumah. Mumpung ustadz Rian yang bayarin." Nisa tersenyum jahil.
"Hemm." ustadz Rian hanya berdehem menanggapinya.
"Nih Neng." kata tukang bakso, lalu memberikan nampan bakso kepada Nisa.
"Nabila kamu mau berapa mangkuk?" tanya Nisa.
"Satu saja." sahut Nabila.
"Ya udah, aku aja yang habisin lima mangkuk ini."
"Baca doa dulu," ucap ustadz Rian kepada Nisa.
"Bismillah." Nisa langsung memakan bakso dengan lahapnya.
"Dasar rakus." batin ustadz Rian.
"Ustadz mau?" tawar Nisa yang sedang memakan bakso.
"Nggak ustadz sudah kenyang."
"Ya sudah." sahut Nisa melanjutkan makannya.
"Jangan makan terlalu banyak Khairunnisa nanti perut kamu sakit." saran ustadz Rian.
"Bodo amat!" keukeh Nisa.
"Kamu cemburu tadi di sekolah? makanya kamu ngambek ya. Ustadz tidak menyangka, bahwa kamu sudah menaruh hati pada ustadz." goda ustadz Rian.
Uhuk ...uhuk ... uhuk...
"Minum air ini." Nabila, langsung menyodorkan minuman kepada Nisa
"Nisa nggak cemburu ya ustadz." sahut Nisa membela diri.
"Nisa bohong Pak, dia benar kok cemburu." kata Nabila keceplosan.
"Nabila mulutmu ember!" kesal Nisa lalu mencubit pinggang Nabila.
"Aww sakit Nis, aku nggak sengaja ucapin nya." sahut Nabila senyum nyinyir.
Ustadz Rian hanya tertawa geli melihat perilaku Nisa yang sedang malu.
"Bang baksonya di bayar sama orang itu." tunjuk Nisa pada ustadz Rian.
"Iya Neng."
Nisa berjalan mendekati ustadz Rian.
"Ustadz makasih traktirnya, memang baik hati deh calon suamiku," ucap Nisa tersenyum manis lalu menarik hidung ustadz Rian. Ia pun pamit untuk pulang.
"Khairunnisa main tarik saja hidung ustadz–" teriak ustadz Rian.
"Siapa suruh hidung ustadz mancung banget." potong Nisa cepat dari kejauhan.
Ustadz Rian, memasang wajah kesal. Dan beristighfar di dalam hatinya menghadapi tingkah laku Nisa.
"Bang berapa total semuanya?" tanya ustadz Rian kepada penjual bakso.
"Satu mangkuk 20 ribu, jadi totalnya 200 ribu." sahut penjual bakso.
"Bisa habis uang tabunganku untuk biaya pernikahan nanti, dasar bayi gede keras kepala." batin ustadz Rian menatap dompetnya yang mulai menipis
Selama perjalanan pulang, Nisa tersenyum riang karena sudah berhasil mengerjai calon suaminya.