
Ustadz Rian sudah menjelaskan dan memberitahu semuanya pada Nafisah dan keluarganya bahwa dirinya sudah menikah selama Nafisah menghilang. Semua orang tentu saja syok dan terkecuali bagi Nafisah.
Sudah dua minggu ini Nafisah selalu bersama suaminya. Semakin hari Nafisah semakin menyadari bahwa hati ustadz Rian tidak bisa dia genggam lagi, sudah ada wanita lain di hati suaminya itu yang menggantikan posisi dirinya. Buktinya saja, beberapa hari terakhir ini suaminya itu tidak pernah menyentuhnya selayak suami istri pada umumnya atau memberikan nafkah batin.
"Mas," ucap Nafisah lembut.
"Iya, Sha. Ada apa?" tanya ustadz Rian.
Nafisah menggengam tangan ustadz Rian. "Maafkan, Nafisah. Nafisah yang tiba-tiba kembali selama dua tahun ini menghancurkan kebahagiaan Mas dan Nisa."
"Maksud kamu apa, Sha?" Ustadz Rian masih belum mengerti omongan Nafisah mengarah ke mana.
Nafisah tersenyum tipis. "Kembali pada Nisa, Mas. Nafisah tahu Mas sangat mencintainya. Meski Nafisah tidak kenal dengan sosok Nisa, tetapi Nafisah yakin dia wanita yang baik," ucap Nafisah penuh yakin.
Ustadz Rian tidak menjawab.
"Biarkan Nafisah yang mengalah, Mas harus kembali pada Nisa. Nafisah tidak mau memaksakan Mas untuk mencintai Nafisah kembali. Nafisah tidak mau menjadi wanita egois," ucap Nafisah menatap lekat netra milik suaminya itu.
Ustadz Rian memeluk tubuh Nafisah. "Maafkan Mas, Sha."
Nafisah mendorong pelan tubuh ustadz Rian. "Mas, tidak salah. Nafisahlah yang salah. Sekarang kita pergi menemui Nisa, kalian berdua harus kembali dan bahagia setelah ini. Nafisah berjanji tidak akan menggangu Mas dan Nisa." Satu bulir air mata jatuh di pelupuk mata Nafisah namun, segera mungkin Nafisah menghapusnya. Memang sulit bagi Nafisah melepaskan ustadz Rian tetapi, dia juga tidak mau memaksakan perasaan cinta itu.
Ustadz Rian segera menelepon Nabila, ustadz Rian tahu pasti Nisa berada di rumah Nabila. Ustadz Rian sudah mencoba menghubungi ponsel milik Nisa, tetapi sayangnya nomornya tidak aktif. Dengan berbagai bujukan dan bernegosiasi dengan Nabila, akhirnya Nabila menyetujui dan akan mempertemukan Nisa dan ustadz Rian di sebuah taman.
Tanpa berpikir panjang lagi ustadz Rian dan Nafisah segera meninggalkan pondok pesantren dan menuju taman.
Beberapa menit kemudian mobil milik ustadz Rian sampai di taman.
"Mas jalan duluan, Nafisah mau terima telepon terlebih dahulu," ucap Nafisah, ustadz Rian mengaguk setuju lalu keluar dari mobil.
Nisa duduk di kursi panjang besi, tatapan mata hampa dan kosong. Senyum seakan hilang di bibir gadis ini. Nisa menebak pertemuan saat ini dengan ustadz Rian pasti akan menyerahkan surat perceraian pada dirinya.
Ustadz Rian langsung memeluk tubuh Nisa, dia tidak dapat membohongi perasaannya dia hanya mencintai Nisa.
"Hub---"
"Mas sangat rindu pada kamu, Nisa."
Nisa membalas pelukan itu, pelukan hangat yang beberapa hari ini hilang darinya.
"Jangan buat Nisa semakin sulit untuk melupakan dan melepaskan, Hubby. Jika Hubby bersikap seperti ini pada Nisa." Nisa mencoba melepaskan pelukan itu. Namun, ustadz Rian tetap keukeh, dia semakin mengeratkan pelukan itu.
"Jangan berkata seperti itu, kita akan selalu bersama selamanya."
Nisa menangis dalam pelukan ustadz Rian. "Nisa nggak mau merusak kebahagiaan Hubby dan Nafisah. Nisa nggak mau jadi wanita egois!" Nisa mendorong tubuh ustadz Rian dari tubuhnya secara kasar.
"Kamu tidak egois tetapi akulah yang egois," tutur Nafisah yang baru saja datang. Ustadz Rian menggeser tubuhnya. Memberikan kedua wanita itu berbicara.
"Kak Nafisah?" tanya Nisa memastikan.
Tangan Nafisah menghapus lembut bening air mata yang masih jatuh di pipi Nisa. "Mas Rian hanya mencintaimu, Nisa."
Nisa menggelengkan kepalanya cepat. "Ustadz Rian lebih mencintai, Kak Nafisah, kalian berdua pasangan yang cocok dan sangat serasi."
Nafisah menarik tangan ustadz Rian dan Nisa lalu menyatukannya. "Kamu wanita beruntung, Nisa. Mendapatkan hati, Mas Rian. Kalian tetaplah bersama." Nafisah tersenyum di balik cadarnya.
Nafisah memeluk tubuh Nisa lalu membisikkan sesuatu.
"Aku titip Mas Rian pada kamu Nisa. Aku bahagia jika kalian berdua juga bahagia."
Nisa memeluk tubuh Nafisah kembali dengan erat. "Kenapa hati Kak Nafisah begitu mulia melepaskan ustadz Rian begitu saja. Bukannya Kak juga sangat mencintainya?" tanya Nisa dengan bulir air kembali jatuh.
"Benar Nisa aku sangat mencintai, Mas Rian. Tetapi aku juga tidak mau bertahan jika kebahagiaan Mas Rian ada pada dirimu. Cinta Mas Rian yang dulu padaku sudah hilang, dan sekarang hatinya hanya milikmu." Nafisah segera bangkit dari duduknya. "Aku minta maaf pada kalian berdua, tetaplah bahagia." Nafisah melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Kak Nafisah mau ke mana?" teriak Nisa.
"Balik ke pesantren."
"Biarkan aku mengantarmu, Sha."
"Nggak usah, Mas. Nafisah naik taksi saja. Mas nggak usah khawatir, Nafisah tidak apa-apa. Nafisah ikhlas ...," kata Nafisah sangat yakin. Nafisah pun berlalu di hadapan mereka berdua.
Setelah kepergian Nafisah, tiba-tiba terjadi kecanggungan kedua insan itu.
"Nisa," ucap ustadz Rian menghilangkan kecanggungan keduanya.
"Hubby, Nisa nggak mimpi 'kan saat ini?" Nisa masih tidak percaya apa yang terjadi barusan. Nafisah mengalah dan membiarkan dirinya dan ustadz Rian kembali.
Ustadz Rian tersenyum lebar lalu mencubit pipi Nisa.
"Hubby kok cubit pipi Nisa sih, 'kan sakit," ucap Nisa kesal lalu memegang pipinya.
"Kalau sakit berarti kamu tidak mimpi saat ini." Ustadz Rian menarik Nisa ke dalam dekapannya. "Ana uhibbuki fillah, Khairunnisa," ucapnya penuh keyakinan. Ustadz Rian mengambil cincin di dalam sakunya lalu memakaikan kembali ke jari manis Nisa.
Senyum merekah di bibir Nisa. "Ana uhibbuka fillah, Muhammad Apriansyah," sahutnya.
Satu kecupan singkat mendarat di kening Nisa.
"Hubby, Nisa nggak jahat 'kan? Nisa merasa bersalah pada kakak Nafisah. Kita bahagia di atas penderita Kak Nafisah."
"Kamu tidak jahat, ini sudah menjadi takdir kita berdua untuk selalu bersama," jelas ustadz Rian.
"Terima kasih telah memilih Nisa, Hubby. Nisa berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Hubby ---"
"Dan untuk anak-anak kita kelak," potong ustadz Rian cepat.
Keduanya pun larut dalam kebahagiaan.
“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu setelah banyaknya kesabaran yang telah kamu jalani, yang membuat kamu terpanah sehingga kamu lupa betapa perihnya rasa sakit.”
[ Ali Bin Abi Thalib ]
.
.
.
TBC