My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Perubahan Nisa



Azan subuh berkumandang, Nisa masih menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ustadz Rian beringsut duduk dan menggeliatkan tubuh.


Senyum tipis terukir di bibir ustadz Rian saat melihat wajah istrinya yang lagi tidur itu.


“Mas sangat mencintaimu, Nisa,” gumam ustadz Rian lalu mengelus lembut rambut panjang Nisa.


Ustadz Rian segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya sebelum pergi shalat subuh berjamaah di masjid.


“Nisa ... sudah azan subuh. Kamu bangun sudah," ucap ustadz Rian lembut. Dia menggerakkan tubuh Nisa pelan.


“Iya ustadz, Nisa sebentara lagi bangun kok. Ustadz pergi sudah shalat subuh berjamaah,” jawab Nisa dengan mata masih terpejam.


“Baiklah, ustadz pergi ke masjid dulu. Assalamu'alaikum ..."


“Wa'alaikumussalam,” jawab Nisa dengan suara khas bangun tidur.


Nisa memandang langit-langit kamar sejenak sebelum bangkit. “Aku akan belajar menerima pernikahan ini," batin Nisa.


***


“Kamu cantik pakai jilbab begini,” puji ustadz Rian saat melihat Nisa sudah lengkap dengan seragam sekolahnya dan tak lupa jilbab yang membaluti kepalanya.


Jantung Nisa berdegup dua kali lebih kencang, pipinya langsung merona. “Hehehe, Nisa akan mencoba untuk selalu memakai jilbab ini," jawab Nisa. Ustadz Rian hanya tersenyum simpul.


Setelah selesai sarapan pagi, Nisa sudah siap-siap akan pergi ke sekolah.


“Kamu naik sama ustadz saja pergi ke sekolah," tawar ustadz Rian.


Nisa cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Nggak bisa ustadz, nanti satu sekolah curiga sama kita. Ingat ya ustadz, harus rahasiakan pernikahan ini. Nisa naik angkot aja."


“Iya udah, kalau nggak mau.”


“Nisa pamit dulu, assalamu'alaikum.” Dengan ragu-ragu Nisa meraih tangan ustadz Rian lalu mencium punggung tangan pria itu.


Sebelum benar-benar Nisa pergi, ustadz Rian menahan tangan Nisa.


"Ada apa, us--tadz?" tanya Nisa gugup.


Cup!


Satu kecupan singkat mendarat di kening Nisa. Membuat jantung Nisa kembali berdegup dengan kencang.


“Eh, apa yang ustadz lakukan," kesal Nisa menaruh muka sangar.


“Belajar yang rajin istriku,” sahut ustadz Rian tanpa memedulikan Nisa yang sudah marah pada dirinya.


“Huh ... dasar main cium aja kening Nisa." Nisa menghentakkan kakinya kesal keluar dari dalam rumah. Sangat menyebalkan sekali dengan ustadz Rian yang menciumnya seenak jidat.


***


“Nisa ini kamu?" tanya Nabila tak percaya yang melihat penampilan Nisa.


“Kamu pikir aku setan apa,” jawab Nisa kesal.


“Hehe kok tumben kamu pakai hijab syar'i gini, Nis.”


“Salah emangnya?”


“Ya, enggak Nis. Aku cuman heran aja.”


“Aku akan berusaha menjadi wanita yang lebih baik, Nabil.”


“Hemmm, oo gitu baguslah. Kamu jadi pantas bersanding dengan, Pak Rian.”


“Kamu juga, mulai besok harus pakai hijab. Kamu tau satu langkah kakimu keluar dari rumah tidak menutup aurat, maka satu langkah juga Ayah kamu masuk neraka. Emang kamu mau Ayah kamu masuk neraka apa?” Nisa mengingat ceramah ustadz Rian semalam, dan meneruskan kepada sahabatnya itu.


Nabila bertepuk tangan mendengar perkataan sahabatnya ini. "Wah, kamu sudah pintar agama sekarang. Tapi Nis, pakai hijab itu panas," keluh Nabila.


"Lama-kelamaan kamu akan biasa, aku juga kepanasan sih. Tapi mengingat dosa itu, aku nggak apa-apa kok. Mungkin lama kelamaan aku biasa.”


“Akan aku usahakan deh pakai hijab besok.”


“Jangan cuman di usahakan tapi harus! mengerti kan?”


“Iya, ustadzah Nisa.”


Nathan yang baru sampai kelas, merasa kagum dengan perubahan Nisa. Nathan menghentikan langkahnya tepat di meja Nisa.


"Pagi Nis, kamu makin cantik pakai hijab," ucap Nathan sembari tersenyum.


"Ooo," ketus Nisa.


Nisa meminta izin kepada guru mata pelajaran di kelas untuk pergi ke toilet sebentar. Saat bersamaan Nathan juga izin ke toilet.


“Nisa tunggu,” panggil Nathan.


“Apa sih, kenapa kamu ngikutin aku.”


“Aku cuman mau kembalikan ini,” jawab Nathan menyodorkan sebuah jam tangan


“Nggak sengaja aku nemuin kemarin.”


”Thanks.”


“Nis, kamu bisa nggak bersikap baik dengan aku seperti dulu.”


"Nggak bisa ...,"


“Lah kenapa?”


“Suatu hari kamu pasti akan tau Nat.”


“Aku tidak akan menyerah Nis, untuk mendapatkan kamu.”


“Sudahlah Nat, berhenti dan jangan berharap padaku lagi,” ucap Nisa lalu pergi.


__________


Kantin


“Nis, traktir aku dong,” mohon Nabila.


“Emangnya aku ATM kamu apa,” ketus Nisa.


“Ya, pelit amat sih.”


“Bodo amat!”


Saat Nisa hendak membayar makanan. Nisa merogoh uang di dalam saku baju, Nisa lupa membawa uang.


“Uang aku ketinggalan di rumah, Bil.”


“Bagaimana ini, uangku juga pas-pasan, Nis.”


“Ya udah, kamu tunggu sebentar di sini. Aku akan balik.”


“Kamu mau pergi ke mana?”


"Minta uang," teriak Nisa dari kejauhan.


Nisa berjalan menuju Musholla untuk menemui ustadz Rian. Nisa yakin ustadz Rian pasti ada di Musholla karena setiap jam istirahat berbunyi ustadz Rian sering ada di situ.


"Ustadz," panggil Nisa lemah lembut.


"Ada apa istriku, tumben datang nemuin ustadz. Kamu rindu ya," jawab ustadz Rian senyum.


“Yaelah, jangan geer deh ustadz.”


“Terus ... buat apa datang ke sini?”


Nisa menunjukkan senyum yang paling manis, dengan mata yang berbinar-binar.


"Ustadz minta uang ya, uangku ketinggalan tadi di rumah," mohon Nisa.


“Nggak mau,” tolak ustadz Rian cepat.


"Ustadz, Nisa mohon," ucap Nisa sambil memegang tangan ustadz Rian.


“Nggak.” Ustadz Rian tetap keukeh.


"Ustadz, Nisa udah makan di kantin dan belum Nisa bayar. Cepatlah suamiku, nanti ibu kantin marah," mohon Nisa menunjukkan mukanya yang imut.


“Oke ustadz akan kasih uang, tentu ada syaratnya.”


“Syaratnya apa?” ucap Nisa mulai kesal melihat senyum yang tidak bisa di tebak di bibir pria di hadapannya itu.


Ustadz Rian menunjukkan pipinya.


“Nisa tidak mau, ustadz ini di lingkungan sekolah. Terus kalau ada yang lihat gimana coba,” cerocos Nisa menolak mentah-mentah kemauan ustadz Rian.


“Ya sudah kalau tidak mau, ustadz mau balik dulu ke ruangan.”


"Iya- iya deh," jawab Nisa pasrah, dia langsung mencium pipi ustadz Rian.


"Semoga saja tidak ada yang melihat, dasar ustadz nyebelin," omel Nisa.


"Nih, uangnya," sahut ustadz Rian tersenyum kecil karena berhasil mengerjai Nisa.


Dari kejauhan ternyata ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua. Yang tak lain Nathan. Emosi Nathan memuncak setelah melihat kejadian tersebut.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak