
Hari berganti hari, ujian kelulusan sekolah telah usai. Nisa hanya tinggal menunggu hasil kelulusan saja.
Hari ini, Nisa sangat senang sekali. Karena hari ini adalah hari kepulangan ustadz Rian. Intinya Nisa sudah sangat rindu. Tapi di sisi lain Nisa juga kesal karena ustadz Rian tidak pernah menelpon atau memberi kabar kembali. Terakhir ustadz Rian menelpon Nisa pada waktu pulang sekolah bersama bodyguard itu, hingga detik ini tak ada kabar sedikitpun dari suaminya itu.
Nisa kembali kesal dan kecewa dengan ustadz Rian, setelah melihat notifikasi pesan dari ustadz Rian. Bahwa ustadz Rian tidak akan pulang hari ini karena ada suatu kendala. Tentunya Nisa sangat sedih, dia sudah teramat rindu dengan suaminya.
Padahal itu cuman kebohongan ustadz Rian saja. Ustadz Rian senang sekali menjahili dan mengerjai Nisa apalagi melihat wajah Nisa yang gemas ketika marah. Pesawat Garuda Indonesia yang di tumpangi oleh ustadz Rian dan ustadz Fauzi mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 8 malam. Ustadz Rian rasanya tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya yang beberapa hari di tinggal pergi.
"Yan, kenapa senyum-senyum sendiri. Nggak biasanya kamu gitu?" tanya ustadz Fauzi yang merasa aneh dengan tingkah sahabatnya.
"Nggak ada kok. Emang salah kalau senyum, senyum kan sedekah."
"Iya aku tahu, Yan. Tapi kamu itu senyum-senyum sendiri, seperti orang gila saja. Awas kesambet kamu, Yan." kekeh ustadz Fauzi.
"Hemm." ustadz Rian hanya berdehem menanggapi lelucon sahabatnya.
Nisa duduk bertopang dagu di dalam kamar, dia merasa sangat kesepian malam ini. Nabila sahabatnya sudah pulang tadi siang, dia pulang karena ibunya sakit. Dan lagi pula Nabila sudah nginap di rumah Nisa hampir seminggu.
"Huft, aku bosan juga di dalam kamar," gumam Nisa menghembus nafas berat.
Nisa memutuskan untuk pergi nonton TV, untuk menghilangkan kebosanannya.
"Bibi!" panggil Nisa kepada bibi Ati yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Bibi Ati segera menghampiri majikannya. "Iya Non, ada apa?"
Dari banyaknya ART di rumah itu, bersama bibi Atilah, Nisa paling akrab. Nisa sudah menganggap wanita paruh baya itu seperti ibu kandungnya sendiri.
"Nonton bareng Nisa ya, Nisa kesepian Bi."
"Maaf ya Non, Bibi nggak bisa. Bibi masih banyak pekerjaan."
"Humm ya deh nggak apa-apa."
Disisi lain ustadz Rian baru saja sampai rumah. Ustadz Rian masuk ke dalam rumah sambil mengendap-endap. Ustadz Rian hanya ingin memberikan kejutan kepada Nisa. Bibi Ati yang melihat kepulangan tuan mudanya ingin menghampirinya dan memberi tahu Nisa, tapi segera mungkin ustadz Rian memberikan kode untuk tetap diam.
"Non, Bibi balik ke dapur dulu," pamit bibi Ati dan Nisa hanya membalas dengan anggukan kecil.
Pikiran Nisa melayang kemana-mana, dan Nisa tidak fokus dengan apa yang di tonton. Saking tidak fokusnya Nisa tidak menyadari seseorang yang sedang di pikirkan, sekarang sedang duduk manis di sampingnya.
"Kok aku cium bau parfum Hubby sih." kata Nisa dengan nada suara kecil, namun masih mampu di dengar oleh ustadz Rian dan ustadz Rian hanya terkekeh mendengarnya.
Nisa memutar bola matanya ke samping, dan betapa senangnya Nisa ketika melihat wajah ustadz Rian yang sedang senyum manis di hadapannya.
"Hubby!" kaget Nisa dan langsung memeluk tubuh ustadz Rian dengan erat.
"Hubby, Nisa rindu. Hiks ... hiks ..." Nisa menangis bahagia di pelukan ustadz Rian.
"Sayang kenapa kamu menangis?"
"Nggak apa-apa, Nisa cuman rindu," rengek Nisa. Namun, setelah itu Nisa langsung melepaskan pelukannya. Dan mengintrogasi ustadz Rian karena berbohong padanya.
"Hubby kenapa bohong sama Nisa? ayo jawab!?" kata Nisa dengan ekspresi cemberut.
"Hmm Mas nggak bohong kok, Mas cuman ingin memberikan kejutan untukmu, sayang," tutur ustadz Rian sambil tersenyum simpul kepada Nisa.
Nisa mengerucutkan bibirnya. "Nisa nggak suka di bohongin. Hubby jahat! Nisa sudah sedih ketika melihat notifikasi pesan dari Hubby. Eh, ternyata bohong. Nisa nggak suka ya Hubby!" Nisa memalingkan wajahnya dari hadapan ustadz Rian. Dan hal itu membuat ustadz Rian semakin gemas kepada Nisa.
"Nisa, marah sama Mas?" tanya ustadz Rian sambil menaiki sebelah alisnya.
"Iya, masih nanya lagi," ketus Nisa tanpa menoleh.
"Kalau gitu mas minta maaf ya."
Ustadz Rian refleks memeluk tubuh Nisa dari belakang. Sehingga membuat jantung Nisa berdegup dengan kencang.
"Ana uhibbuka fillah, Nisa," bisik ustadz Rian tepat di samping di telinga Nisa.
Pipi Nisa memanas, ntah seperti apa warna pipinya sekarang. Darahnya seakan berhenti mengalir saat ini. Jangan di tanyakan lagi, Nisa sangat gugup sekali dengan kelakuan ustadz Rian saat ini.
"Hub--by," ucap Nisa gugup.
"Hemm." Ustadz Rian masih dalam keadaan memeluk tubuh Nisa.
"Malu tahu. Lepasin dong Hubby, lihat tu Bibi lihat kita."
"Biarin!"
"Nisa ngantuk. Lepasin pelukannya Hubby. Nisa nggak bisa nafas nih," kata Nisa dengan suara lembut, Nisa hanya ngeles supaya ustadz Rian melepaskan pelukannya.
"Tapi jangan marah lagi. Dan harus maafin mas."
"Iya deh Nisa maafin."
Ustadz Rian pun melepaskan pelukannya, lalu menggendong tubuh Nisa ke kamar.
"Iii Hubby nyebelin ya. Main gendong aja." pekik Nisa memukul bidang dada ustadz Rian.
"Turunin!"
"Nggak, Mas rindu gendong tubuh kamu sayang."
Nisa pasrah saja, ingin memberontak tapi suaminya ini tetap kukuh dan keras kepala.
"Mas ada hadiah buat kamu," ucap ustadz Rian setelah menurunkan tubuh Nisa di tepi ranjang.
"Hadiah apa?" tanya Nisa antusias.
"Tutup mata dulu!" titah ustadz Rian.
"Baiklah." Nisa langsung menutup matanya menuruti perintah suaminya itu.
Ustadz Rian segera mengambil sebuah kalung emas dari saku jaketnya. Yang sempat di beli saat ke luar kota.
"Sekarang buka matamu."
"Wah, kalung. Cantik sekali," girang Nisa bahagia.
"Kamu suka."
"Iya, suka banget Hubby."
"Mas pakain di leher kamu ya." Ustadz Rian lalu memakai kan kalung itu di leher Nisa.
"Makasih, Hubby," ucap Nisa lalu memeluk tubuh ustadz Rian.
"Iya, sayang," jawab ustadz Rian dan mengecup singkat kening Nisa.
Nisa mendongak wajahnya, dan menarik manja hidung ustadz Rian.
"Hubby aku sangat menyayangimu. Tetaplah seperti ini sampai maut memisahkan kita."
"Mas begitu pun sebaliknya. Tetaplah menjadi Nisa yang mas kenal, jangan pernah berubah," kata ustadz Rian dan tak henti-hentinya mengecup kening Nisa.
Mereka berdua larut dalam kebahagiaan dan melepaskan rindu yang selama ini terpendam.