My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Penyelamatan[1]



Tiga hari kemudian ...


"Aku sudah membayar beberapa orang untuk menemani kita ke tempat itu, Zi," ucap ustadz Rian, lalu membuka pintu mobil pajero putih di depannya.


Siang ini mereka akan pergi ke tempat dimana Nisa disekap. Sekitar pukul dua dini hari lalu, ustadz Rian menerima telepon dari nomor asing yang dipakai oleh Nisa untuk menelponnya.


Saat para penjaga tertidur pulas, kesempatan bagi Nisa untuk mengambil handphone mereka secara diam-diam dan langsung menelpon ustadz Rian. Dengan hal itu, ustadz Rian dapat melacak keberadaan Nisa.


Ustadz Fauzi menghela napas berat.


"Perasaan aku nggak enak, Yan."


Melihat mimik cemas di wajah sahabatnya, ustadz Rian tersenyum dan menepuk pundak ustadz Fauzi.


"InsyaAllah, Zi. Kita semua akan baik-baik saja."


Mobil lain terparkir di belakang mobil ustadz Rian, ada tiga mobil dengan merek yang berbeda-beda. Tepat di belakang mobil ustadz Rian, ada mobil Nathan. Di dalam mobil Nathan, ada Riko dan Aldi juga yang ikut.


"Pak Rian, yuhu ..." Riko tersenyum lebar dan menyembulkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka sempurna. Dia melambai-lambaikan tangan yang dibalas anggukan singkat oleh ustadz Rian.


Tapi perasaan ustadz Fauzi masih tidak enak. "Kita datang berapa orang, Yan?" tanyanya. Fauzi ingin memastikan, ia tidak ingin memberikan celah kekalahan sedikitpun.


"Kita datang sepuluh orang, Zi" Ustadz Rian berusaha meyakinkan sahabatnya. Walau dalam benak dia takut apa yang dikhawatirkan Fauzi benar-benar kejadian. Ustadz Rian hanya berdoa, semoga rencananya hari ini untuk datang ke sana tidak tercium oleh para penculik.


****


Empat mobil yang berbeda merek itu berjalan beriringan.


"Lo berdua bisa nggak jangan berisik!" Nathan yang mengemudi mobil merasa jengkel dengan omongan kedua sahabatnya itu. Sangat berisik, kupingnya terasa panas mendengar ocehan nggak jelas dari kursi belakang.


"Kami nggak sabar aja mau adu jotos dengan orang yang menculik bebeb Nisa. Beraninya sama perempuan aja!" ujar Riko.


"Betul tuh, gue juga sudah lama nggak mukul orang," timpal Aldi.


Satu jam perjalanan, keempat mobil itu sampai di sebuah bangunan yang jauh dari pemukiman penduduk. Tepatnya di dalam hutan.


"Yakin disini, Pak? kayaknya nggak ada penghuni di bangunan ini." Nathan menepuk pundak ustadz Rian. Netranya menatap tidak terlalu yakin pada bangunan tua dihadapannya.


"Yuk kita masuk, Pak. Nggak sabar aja." Aldi bersemangat antusias.


Ustadz Rian mengaguk setuju, dia berjalan memimpin didepan diikuti dengan Fauzi Nathan, Riko, dan Aldi dibelakangnya. Tak lupa lima pria yang bertubuh kekar dan berotot yang dibayar yang mengekor di belakang.


Sepi. Tidak ada aktivitas apa pun didalam bangunan tua itu. Hawa-hawa aneh membuat bulu kuduk mereka berdiri.


"Aku semakin yakin kita sepertinya salah tempat, Pak," ujar Nathan. Bangunan yang mereka masuki terlihat sangat tidak terurus, debu-debu menempel dimana-mana.


"Aku sependapat dengan kamu, Dek," jawab ustadz Fauzi menyetujui ucapan Nathan.


Dor!


Satu tembakan meleset sedikit dari badan ustadz Rian dari seseorang pria yang baru saja muncul di balik tangga, di ikuti oleh anak buahnya dibelakang.


"Welcome, Rian!" sapa pria itu membuang puntung rokoknya sembarang tempat, "apa kabar? sudah lama tak jumpa?" tanyanya diringi seringai jahat.


"Apa maumu, Iksan?" Ustadz bertanya sengit.


"Hahaha ... mauku, Yan? nyawa harus dibayar nyawa!" jawab pria yang menggunakan jas kulit itu penuh penekanan.


.


.


.


.


-Bersambung-


Tinggalkan jejak kalian


Makasih :)