My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
End



Tidak terasa enam bulan berlalu sudah. Banyak hal yang terjadi dalam waktu itu. Contoh saja, Nabila. Kini ia sudah menyandang status sebagai isterinya dari sahabat Ustaz Rian. Iya benar. Ustaz Fauzi. Kisah cintanya hampir mirip dengan Nisa. Sedangkan, Nathan, Riko, dan Aldi. Masih menempuh pendidikan di luar negeri. Mengejar mimpi mereka masing-masing.


Sudut bibir gadis ini tertarik. Melihat foto-foto kenangan dengan keempat sahabatnya. Bening kristal jatuh di pelupuk matanya. Rindu. Berkumpul bersama. Semua sahabatnya sibuk. Tidak ada lagi waktu mereka berkumpul seperti dulu.


Nisa tersentak sejenak menoleh ke arah handphonenya yang berbunyi di atas nakas. Ia kembali tersenyum manis. Melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Siapa lagi kalau bukan Ustaz Rian. Dengan gerak cepat, ia menggeser tombol hijau.


"Assalamu'alaikum, Hubby. Gimana kabarnya? Kok baru nelepon sih? Kapan pulang?" Pertanyaan beruntun keluar begitu saja.


Ustaz Rian yang berada di seberang sana menggelengkan kepalanya pelan mendengar pertanyaan beruntun itu.


"Wa'alaikumussalam, Sayang. Alhamdulillah mas baik-baik saja."


"Aku rindu, Hubby. Sibuk banget ya, sampai dua hari ini Hubby nggak kasih kabar," ucap Nisa dengan sendu.


"Maafin mas. Handphone mas ketinggalan di salah satu masjid. Tapi, untungnya jamaah itu datang mengembalikan ke hotel tempat mas menginap. Kamu bagaimana kabarnya?"


"Baik juga. Hubby tahu nggak, aku ...."


"Hm. Apa? Kelihatannya kabar bahagia." Ustadz Rian memotong cepat.


Nisa terkekeh kecil seraya berkata, "Rahasia. Nanti kalau Hubby udah pulang. Nisa kasih tahu," jawabnya.


"Huft. Main rahasian. Kasih tahu sekaranglah, Sayang."


"Nggak. Ini kejutan. Kalau kasih tahu sekarang itu bukan namanya kejutan, Hubby."


"Baiklah. Butik gimana?"


"Makin ramai pelanggannya. Sepertinya Nisa harus tambah karyawan lagi deh Hubby. Hubby setuju?" tanya Nisa meminta izin.


"Mas setuju saja. Ingat ya kamu jangan sampai kelelahan mengurus butik." Ustaz Rian memperingati cukup keras.


Sebenarnya Ustaz Rian tidak mengizinkan isterinya itu untuk bekerja. Namun, karena rengekkan Nisa yang tidak bisa ditolak ia akhirnya luluh. Butik itu tidak jauh dari kediaman mereka.


"Siap! Tapi, kapan pulangnya?" Nisa bertanya lagi.


"InsyaAllah besok, Sayang."


"Yeah," girang Nisa bahagia.


Obrolan mereka berlanjut panjang malam itu. Melepaskan kerinduan satu sama lain. Saking terlarut dalam obrolan mereka.


Nisa tertidur pulas. Sementara Ustadz Rian berbicara sendiri melalui sambungan telepon itu.


***


Gadis yang menggunakan jilbab segiempat warna peach itu. Mondar-mandir di ambang pintu rumah. Menunggu kepulangan suami tercintanya.


"Katanya, bentar lagi sampai. Kok belum juga sampai rumah yah," monolog Nisa. Gadis ini terlihat tidak sabaran. Ia sangat rindu dengan sosok suaminya itu. Dua minggu. Waktu yang lama baginya ditinggal oleh Ustaz Rian ke luar kota.


Tin! Tin! Tin!


Bunyi klakson mobil terdengar dari depan. Pintu gerbang yang menjulang tinggi itu terbuka pelan. Netra Nisa berbinar bahagia.


"Hubby!" Nisa berlari kecil ke arah Ustaz Rian yang baru turun dari mobil itu.


Ustaz Rian tersenyum simpul. Memeluk tubuh mungil Nisa dengan erat. Kecupan singkat mendarat di puncak kening isterinya itu


Ustaz Rian mendudukkan tubuhnya di atas sofa diikuti oleh Nisa di sampingnya.


"Hubby, mau makan? Aku sudah masak makanan kesukaan Hubby lho." Nisa menawar antusias.


"Boleh. Mas mandi dulu, cukup gerah."


***


Semua makanan yang ada di atas meja habis tidak ada sisa. Nisa tertawa geli melihat suaminya yang terlihat sangat kelaparan.


"Sekarang katakan pada mas. Apa kejutan yang ingin kamu berikan." Ustaz Rian menagih janji. Kecupan demi kecupan mendarat di setiap inci Nisa.


Nisa tersenyum malu. "Tutup mata dulu," ujarnya.


Ustaz Rian menurut. Nisa bangkit berdiri mengambil sesuatu di dalam laci meja. Gadis ini kembali duduk di hadapan Ustaz Rian.


"Ini." Nisa menyerahkan testpack ke tangan Ustaz Rian.


Ustaz Rian membuka kedua bola matanya, mengerutkan kening sejenak. Masih belum paham. Namun, satu detik kemudian ia benar-benar bahagia. Melihat dua garis biru terpampang jelas di depan matanya.


"Aku positif hamil, Hubby."


Ustaz Rian langsung memeluk tubuh Nisa dengan erat. Terharu sekaligus bahagia. Akhirnya doa-doa di setiap akhir sujud-nya dikabulkan oleh Allah. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?


"Alhamdulillah, Sayang. Sebentar lagi kita menjadi orang tua. Mas menjadi seorang ayah."


Nisa membalas pelukan hangat suaminya. "Nisa akan jadi ibu," jawabnya tidak kalah bahagia mengetahui dirinya positif hamil.


Ustaz Rian menundukkan kepalanya. Mencium lembut perut Nisa yang masih rata. "Selamat datang anak ayah. Jangan buat bundamu kecapean," tuturnya. Pria ini kembali mencium kedua pipi Nisa. "Sekarang kamu mau makan apa?" tanyanya dengan semangat.


Nisa menggelengkan kepalanya pelan. "Aku nggak mau makan apa-apa. Aku cuman mau tidur dipeluk sama Hubby aja," ucapnya dengan malu-malu.


Ustaz Rian segera mengendong tubuh Nisa menuju kamar. Nisa yang mendapat perlakuan itu cukup kaget.


"Hubby, turunin! Nisa masih bisa jalan."


"Mas cuman tidak mau kamu kelelahan." Ustaz Rian menurunkan tubuh Nisa dengan hati-hati di atas kasur. Menarik selimut menutupi setengah tubuh Nisa.


"Hubby, Nisa udah bilang. Nisa mau tidur sambil dipeluk," rengeknya.


Ustaz Rian melepaskan sandalnya ikut naik ke atas kasur.


"Sini, Sayang. " Ustaz Rian menepuk lengannya. Menyuruh Nisa untuk mendekat.


Nisa menggeserkan tubuhnya. "Hubby jangan nakal! Kata dokter yang memeriksa Nisa. Hindari hubungan itu dulu."


Ustaz Rian menghela napas panjang. "Kalau ini boleh?" tanyanya minta izin. Jari telunjuknya bergerak mengusap bibir ranum milik istrinya itu.


Nisa membalas dengan anggukan kecil. Ia menutup matanya ketika merasakan benda kenyal milik Ustaz Rian mendarat lembut di bibirnya.


-TAMAT-


Akhirnya selesai juga. Maaf ya karena author jarang up. Terima kasih atas segala dukungan kalian:)