My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Balas Dendam Vivi



"Silahkan hina diriku sepuas kalian, aku akan tetap diam saja. Bukannya aku tidak punya jawaban, tapi singa tidak selalu membalas gonggongan anjing."


[ Imam Syafi'i ]


Nisa mendatangi seseorang yang sedang mengenakan jas putih yang sedang duduk ruang tamu menunggunya, yang tak lain adalah ustadz Rian. Ustadz Rian terpesona melihat Nisa yang begitu cantik menggunakan dress syar'i berwarna hitam yang di taburi dengan bordiran emas yang begitu elegan, anggun, dan menawan. Tak lupa dengan jilbab pashmina berwarna pink yang membaluti kepalanya.


"Hubby Nisa lama ya," ucap Nisa.


Ustadz Rian masih diam dan tidak berkedip sedikitpun memperhatikan keindahan makhluk Tuhan yang disuguhkan di depan matanya.


"Hubby, kok diam sih," kesal Nisa karena ustadz Rian tidak merespon pembicaraannya.


"MasyaaAllah kamu cantik sekali, sayang," puji ustadz Rian bangkit lalu mengecup kening Nisa.


Nisa tersipu malu mendengar penuturan ustadz Rian, pipinya langsung memanas saking gugupnya.


"Nggak bosan apa, cium Nisa mulu," kata Nisa memanyunkan bibirnya.


"Nggak, malahan Nas pengen lebih dari itu." goda ustadz Rian.


"Ii mesum deh." Nisa mencubit pinggang ustadz Rian.


"Auh sakit Nisa ...," lirih ustadz Rian pura-pura kesakitan.


"Makanya jangan nyeblin dan mesum!" kata Nisa cemberut.


Ustadz Rian mencubit gemas pipi Nisa.


"Jangan cemberut dong. Nanti cantiknya hilang lo."


"Biarin," keukeh Nisa.


Cup!


Ustadz Rian kembali mencium kening Nisa.


"Huft ... Hubby memang nyeblin deh!" Nisa mendengus nafas berat, "lihat ujung hijab Nisa, jadi jelek kan," lanjutnya lagi sambil menunjuk hijabnya.


"Sini Mas bagusin," ucap ustadz Rian lalu memperbaiki ujung jilbab Nisa yang agak berantakan.


"Suami pintar," kata Nisa tersenyum senang karena hijabnya sudah bagus kembali.


"Jelas dong, suami siapa dulu?" bangga ustadz Rian.


"Khairunnisa dong, hehehe ...," kata Nisa cengengesan.


Malam ini ustadz Rian dan Nisa akan pergi menghadiri pesta pernikahan rekan bisnis ustadz Rian. Sebenarnya Nisa tidak mau, tetapi karena ustadz Rian yang terus memohon dan membujuk Nisa. Akhirnya Nisa luluh juga.


"Ayo kita berangkat," kata ustadz Rian dan menarik tangan Nisa untuk segera beranjak.


Selama dalam perjalanan keduanya berbincang ringan, sambil tertawa kecil mendengar cerita dirinya masing-masing.


"Hub."


"Hemm."


"Nisa malu, pasti yang datang orang-orang kalangan atas ya. Nisa tak pantas, Nisa nggak masuk deh," keluh Nisa saat mobil mereka tiba di parkiran.


Ustadz Rian menggenggam tangan Nisa.


"Ada Mas di sini. Kalau kamu tidak masuk, Mas juga nggak masuk," kata ustadz Rian sedikit kecewa dengan keputusan Nisa. Nisa pun tidak tega melihat kesedihan di wajah suaminya.


"Ya sudah masuk yuk, nanti di dalam Hubby jangan jauh-jauh dari Nisa. Nisa malu Hubby," ucap Nisa manja sambil memeluk tubuh ustadz Rian.


"Iya sayang," kata ustadz Rian tersenyum manis lalu mengandeng tangan Nisa.


Semua mata tamu undangan tertuju atas kedatangan ustadz Rian dan Nisa. Ada orang yang senang melihat kedatangan mereka dan ada juga orang yang tidak suka melihat mereka. Terutama kehadiran Nisa bersama ustadz Rian. Siapa yang tidak kenal dengan CEO Rian, yang menggapai banyak penghargaan dan sangat di hormati banyak orang.


"Siapa tuh perempuan, istrinya Rian?" tanya seorang wanita menatap Nisa tidak suka.


"Palingan juga sepupunya, nggak mungkin istrinya. Rian kan belum nikah kali," sahut temannya lagi.


"Baguslah kita masih mempunyai kesempatan mendekati Rian." Riangnya gembira dan di balas anggukan oleh temannya.


Nisa mengeratkan gandengannya, ustadz Rian dapat merasakan bahwa Nisa sedang gugup, Nisa hanya tidak suka menjadi pusat perhatian semua orang di situ.


"Tersenyumlah kepada mereka untuk menghadapi gugupmu," bisik ustadz Rian. Nisa pun mengikuti saran ustadz Rian.


Dari kejauhan Vivi bersama kedua temannya, menatap Nisa tidak suka. Vivi juga ikut hadir di pernikahan itu, karena Ia memang salah satu karyawan di perusahaan atasannya yang menikah malam ini. Ia tersenyum misterius, kepada kedua temannya.


"Aku harap kita berhasil membuat bocah tengil itu malu malam ini," kata Vivi tersenyum kecut.


"Tentu saja Vi, kita pasti berhasil," sahut kedua teman Vivi. Mereka pun tertawa sinis membayangkan rencana mereka yang akan berhasil nantinya.


Ustadz Rian mengajak Nisa duduk di salah satu meja di samping kolam renang.


"Hubby, pesta pernikahannya mewah banget ya," kagum Nisa sambil melihat sekelilingnya.


"Hemm iya. Mas juga ingin mengadakan pesta pernikahan kita sayang. Nanti setelah kamu menerima kelulusan. Kamu mau?"


"Tidak usah Hubby."


"Kenapa?"


"Karena Nisa tidak suka menjadi pusat perhatian, apalagi di kenal banyak orang. Hubby kan pebisnis yang sukses pasti banyak perempuan yang suka kan, nanti kalau kita adakan pesta pernikahan. Pasti banyak orang yang tidak suka sama Nisa, dan hidup Nisa jadi terusik nanti."


"Mas tidak memaksa, kalau memang kamu tidak mau nggak apa-apa. Yang terpenting pernikahan kita sah di mata hukum dan agama," jawab ustadz Rian lalu menggenggam tangan Nisa.


"Aku tahu kalian sudah halal, tapi tolong hargailah orang yang jomblo di sini," ucap ustadz Fauzi merajuk melihat ustadz Rian dan Nisa masih berpegang tangan di depannya.


Ustadz Rian dan Nisa tertawa geli melihat wajah ustadz Fauzi yang sedang merajuk.


"Siapa suruh datang ke sini sendirian. Pesta pernikahan ini di khususkan untuk orang yang sudah punya pasangan saja Zi. Haha ...," ucap ustadz Rian tertawa mengejek.


"Hubby tidak boleh bicara seperti itu, kasihan kakak Fauzi." kata Nisa sambil mencubit lengan ustadz Rian.


"Becanda Zi, kamu suka aja merajuk." Ustadz Rian memberhentikan tawanya lalu menepuk pundak sahabatnya.


"Aku tidak apa-apa kok, Yan," kata ustadz Fauzi tersenyum, Ia sudah kebal terhadap ejekan sahabatnya. "Dek, kamu cantik sekali." puji ustadz Fauzi pada Nisa.


"Jelaslah istrinya Rian." Bangga ustadz Rian.


"Aku memuji Nisa bukan kamu, Yan."


"Aku ini suaminya."


"Tetapi kamu bukan Nisa kan."


"Sudah-sudah, kenapa ribut sih." oceh Nisa menatap sangar kedua lelaki yang ada di hadapannya.


"Salah kamu sih Fauzi, istriku jadi marah."


"Kenapa aku, kamulah yang salah."


Nisa menutup kedua telinganya, mendengar perdebatan konyol kedua ustadz di hadapannya.


"Tolong jangan berisik! nggak malu apa dilihatin banyak orang," ucap Nisa kesal.


"Maaf kan kami," jawab serempak ustadz Rian dan ustadz Fauzi lalu diam.


Mereka bertiga pun mengobrol ringan dan santai menikmati acara demi acara resepsi pernikahan itu. Hingga akhirnya ustadz Fauzi memilih pergi ke meja lain. Ustadz Fauzi tidak tahan lagi melihat kemesraan ustadz Rian dan Nisa di hadapan matanya.


"Sayang, mas pergi ke toilet sebentar." Nisa mengaguk kecil dan ustadz Rian segera bangkit lalu pergi meninggalkan Nisa.


Di ujung sana Vivi dan kedua temannya berjalan ke arah Nisa. Inilah kesempatan mereka untuk memberi pelajaran kepada Nisa.


Nisa duduk santai, sambil menikmati hidangan yang disediakan. Hingga akhirnya Vivi datang dan langsung menumpahkan air jus di pakaian Nisa.


"Maaf, tetapi aku memang sengaja," kata Vivi tersenyum miring melihat pakaian Nisa yang sudah basah.


"Kasihan bajunya basah ya. Mau nangis dianya, Vi," ejek teman Vivi yang satunya.


"Cengengnya dirimu, mau minta bantuan kepada Rian, dia tidak akan datang!" ucap Vivi tersenyum sinis dan kembali menuangkan jus itu di pakaian Nisa.


Nisa mendongak kepalanya, kesabarannya hampir habis.


"Apa ma--"


Plak!


Vivi langsung menampar pipi Nisa dengan kerasnya.


"Aw sakit," lirih Nisa memegang pipinya yang terasa perih.


Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu bersifat bodo amat, tanpa berniat untuk melerai atau pun membantu Nisa.


Di sisi lain, ustadz Rian berusaha membuka pintu toilet. Tetapi nihil, pintu toilet di kunci dari luar. Pintu toilet di kunci dari luar oleh teman Vivi, ini sudah menjadi salah satu rencananya. Agar mereka dapat memberikan pelajaran kepada Nisa tanpa ada kendala. Untung saja ustadz Rian membawa handphonenya dan meminta bantuan ustadz Fauzi untuk membukanya.


"Dasar bocah picik! bilang saja kamu menikahi Rian karena hartanya kan. Kamu hanya wanita miskin yang tidak tahu diri," hardik Vivi sangat menusuk ulu hati Nisa.


"Sok polos, dasar bocah ingusan!" sahut teman Vivi lagi.


"Wanita murahan! palingan Rian menikahmu karena kasihan dan bukan dasar cinta. Jadi egomu jangan terlalu tinggi, nanti jatuh sakit tahu!"


"Rian itu cuman mencintai Vivi bukan mencintai bocah ingusan seperti dirimu. Kau tidak sebanding dengan Vivi."


"Hubby, bantu Nisa. Semua orang di sini jahat." Nisa menangis dalam diam.


Nisa tidak tahan lagi mendengar perkataan Vivi dan temannya yang menusuk ulu hatinya. Ia segera bangkit lalu berlari ke toilet, berniat menemui ustadz Rian di sana. Namun, saat Nisa berlari, kaki Nisa tersandung. Hingga Ia terjatuh tersungkur ke trotoar. Orang-orang merasa iba kepada Nisa tetapi mereka tidak berniat membantu sedikit pun.


"Aduh sakit," rintih Nisa memegang kedua lututnya.


Vivi dan kedua temannya tertawa penuh kemenangan melihat kesakitan yang di rasakan oleh Nisa.


"Itu masih bukan seberapa balas dendamku, kepada kamu bocah picik!" batin Vivi.


Pria bertubuh kekar dan tinggi berjalan mendekati Nisa, keberadaan dirinya berhasil menarik perhatian semua orang yang menghadiri pesta pernikahan itu. Apalagi kaum hawa.


"Mari aku bantu," katanya sambil mengulurkan tangannya.


Nisa tidak bergelimang, Ia tidak peduli dengan seseorang yang mengulurkan tangannya kepada dirinya.


"Tidak usah, aku bisa sen--"


Belum juga Nisa menyelesaikan perkataannya, pria ini langsung memapah tubuh Nisa.


"Itu Alvaro, beruntungnya tuh cewek. Kalau gitu aku mau jatuh biar di bantu oleh Alvaro yang ganteng itu," pekik seorang gadis.


"Siapa kamu, beraninya menyentuhku?" Nisa memberontak.


Pria ini tidak peduli dengan ocehan gadis yang tidak Ia kenal ini. Namun, ada sebuah ketertarikan yang membuat seorang Alvaro, yang terkenal dingin dan cuek membantu gadis berhijab ini.


"Menarik," gumamnya.