My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Penyelamatan[2]



"Hahaha ... mauku, Yan? nyawa harus dibayar nyawa!" jawab pria yang menggunakan jas kulit itu penuh penekanan. Pria yang bernama Iksan itu tersenyum miring. Pistol revolver di tangannya di masukkan kembali ke dalam saku celananya. Iksan mempunyai dendam kepada ustadz Rian karena kematian adik perempuan yang bernama Maya, dia menyalahkan ustadz Rian sebagai penyebab kematian Maya karena gara-gara ustadz Rian adiknya itu bunuh diri.


"Aku tidak ingin melakukan tindakan kejahatan, lepasin istriku!" sahut ustadz Rian. Ustadz Rian melihat sekelilingnya, ada sekitar dua puluh lima orang lebih pria yang tubuh kekar mengelilingi mereka, sementara mereka hanya datang sepuluh orang. Mereka kalah telak!


Nathan, ustadz Fauzi, Aldi, dan Riko menatap waspada sekelilingnya. Takut terjadi penyerangan tiba-tiba.


"Hahaha." Iksan kembali tertawa jahat.


Ustadz Fauzi tersenyum culas. "Bertaubatlah sebelum terlambat, Iksan!" tegas ustadz Fauzi.


"Serang! Perkataan ustadz Fauzi barusan membuat Iksan naik pitam dan tidak terima. Pertempuran tidak terelakkan lagi.


Dengan cekatan ustadz Rian menangkis tendangan dari Iksan.


Bug!


Satu tendangan balasan telak mengenai punggung Iksan dari ustadz Rian, sehingga Iksan langsung jatuh tumbang ke lantai. Sudut bibir Iksan mengeluarkan darah segar.


Disisi lain dengan tenang ustadz Fauzi menangkis pukulan demi pukulan yang diarahkan kepada dirinya. Sudah lima pria butuh kekar berhasil dia kalahkan.


Nathan, Riko, dan Aldi, tak mau kalah mereka bertiga berhasil melumpuhkan lawan. Sudah lama mereka bertiga tidak adu jotos seperti ini dan mereka bertiga menganggap ini suatu kesenangan yang mereka cari.


Setelah berhasil mengalahkan Iksan, ustadz Rian segera berlari menaiki tangga untuk mencari Nisa ke atas.


Netra hitam pekat ustadz Rian teriris sakit saat melihat gadis yang dicintai sudah terduduk lemah di kursi dengan kaki dan tangannya di ikat. Mulut Nisa ditutup menggunakan lakban.


Bug!


Satu tinjuan dari pria yang berbadan tambun dari arah belakangnya, membuat tubuh ustadz Rian langsung terjatuh ke ubin keramik.


"Hub--by," cicit Nisa dengan suara melemah saat melihat ustadz Rian merintih kesakitan. Air mata gadis itu luruh melihat ustadz Rian dihajar habis-habisan oleh ketiga pria yang menjaganya.


Dengan tenaga yang masih ada, ustadz Rian mencoba bangkit dan menghajar habis-habisan ketiga pria itu. Ustadz Rian mengambil kunci dari kantong salah satu pria yang berhasil dia kalahkan itu dan langsung membuka gembok jeruji besi itu. Ustadz Rian berjalan ke arah Nisa, segera melepaskan ikatan tali di kaki dan tangan istrinya itu.


"Maaf, mas datang terlambat, Nisa." Ustadz Rian segera menggendong tubuh Nisa yang sudah melemah itu. Pria ini kian khawatir saat pergelangan tangan Nisa mengeluarkan darah banyak. Iksan benar-benar ingin membunuh istrinya.


"Yan, hati-hati!" teriak ustadz Fauzi dari bawah.


Netra ustadz melebar saat Iksan membidikkan pistol revolvel-nya ke arah dirinya yang sedang menggendong Nisa


"Berhenti!" Suara lantang dari seseorang yang baru saja datang. Menendang pistol revolvel-nya dari tangan Iksan sebelum pelatuk pistol revolver itu berhasil ditarik. Iksan bergetar ketakutan saat melihat wajah pria yang baru saja datang itu.


Ustadz bernapas lega melihat siapa yang datang.


Iksan menelan ludah dalam-dalam. "Ka–kak ... Willy."


Willy menatap sengit ke arah Iksan.


"Apa yang terjadi?" suara lantang Willy menatap sangar kepada Iksan dan bawahannya. Willy adalah kakak sepupu dari Iksan. Willy sudah mengetahui penculikan ini, hanya saja ia ingin datang di waktu yang tepat dan memberikan kejutan kepada Iksan. Willy tidak mau Iksan membuat onar lagi gara-gara kematian adiknya itu, sudah berapa kali Iksan keluar masuk penjara karena kasus pembunuhan.


"Jawab! kalian semua bisu, hah?" Suara Willy menggema. Helaan napas kasar, dan urat leher menenggang menambah kesan betapa mengerikannya. Maju selangkah, menyorot penuh tajam pria yang menunduk, yang berusaha menghindari kontak mata dengannya.


Kepala Iksan terlempar ke samping saat satu kepalan tangan menghantamnya keras. Namun, sikap keras kepalanya tetap dia pertahankan. Tetap menunduk dan bungkam, mengabaikan aura mematikan dari laki-laki yang lagi-lagi melayangkan tinju di wajahnya.


"Kak, aku minta maaf ....," Iksan menjawab takut-takut. Willy adalah salah satu kelemahan Iksan, Iksan tidak dapat berkutik sedikitpun bila sudah berhadapan dengan Willy.


Willy berdecih. "Kamu masih sangat keras kepala! sudah berapa kali kakak peringatin ke kamu, untuk berhenti menjadi seorang pembunuh. Sudah berapa banyak, nyawa orang yang tidak bersalah mati ditangan kamu karena dendam konyolmu itu, hah?" Willy mengusap wajah secara kasar, sungguh mengurusi urusan Iksan hal yang sangat melelehkannya baginya. Kalau bukan karena amanah dari almarhum kedua orang tua Iksan, dia sama sekali tidak mau ikut campur urusan adik sepupu yang tidak tahu diri itu.


Willy berjalan ke arah ustadz


Rian. "Gue minta maaf Yan, atas kelakuan adik gue." Willy menepuk pundak ustadz Rian. Mereka berdua alumni jurusan yang sama pada saat waktu kuliah dulu. Walaupun tidak berteman dekat, Willy mengenal ustadz Rian sosok pria yang baik.


Ustadz Rian melemparkan senyum


tipis. "Nggak apa-apa, Wil. Semoga Iksan segera mendapat hidayah dari Allah," sahutnya lalu melirik ke arah Iksan sejenak.


Setelah berbincang singkat dengan Willy, ustadz Rian dan yang lainnya segera bergegas pergi. Ustadz Rian sangat khawatir dengan kondisi Nisa yang terus merintih kesakitan.


Ustadz Rian memangku kepala Nisa. Bulir mata air pria ini jatuh saja melihat kondisi Nisa yang semakin melemah.


Nisa terbatuk-batuk, ustadz Rian memfokuskan tatapan pada wajah istrinya itu. "Nisa kamu harus kuat, kamu pasti sembuh sayang. Bertahanlah sebentar," lirihnya dengan tangis yang tidak dapat di bendung lagi.


Kesadaran Nisa nyaris hilang.


"Nisa maafin, mas. Ini salah, mas," lirih ustadz Rian kian cemas dan khawatir.


Iris layu Nisa menatap teduh pada wajah ustadz Rian. Tangannya terangkat lemah untuk menghapus air mata di kedua pipi pria itu. "Hubby, jangan cengeng." Nisa berucap lemah, ia tersenyum tipis mencoba meyakinkan dirinya baik-baik saja.


"Nisa ... sangat mencintai Hub–by," cicit Nisa sebelum kesadarannya benar-benar di renggut.


"Nisa ... Nisa!" ustadz Rian menepuk-nepuk berulang kali pipi Nisa. Namun, tak ada pergerakan sama sekali. Ustadz Rian mengecek nadi di pergelangan tangan Nisa dan ternyata masih ada, hanya saja berdetak sangat lemah hingga membuatnya takut jika Nisa tidak bisa diselamatkan.


"Cepatan, Zi!" teriak ustadz Rian.


Ustadz Fauzi yang mengemudi mobil langsung mengaguk, ia melajukan mobil semakin kencang. Selang beberapa menit mobil berhenti di depan rumah sakit.


Pikiran ustadz Rian tidak tenang, luka fisik dibeberapa bagian tubuhnya tidak dihiraukan saat ini, ia memikirkan kondisi Nisa.


Nisa dimasukkan ke UGD. Ustadz Rian mengusap wajah kasar, ia berdiri di depan pintu. Tatapannya kosong, jiwanya seolah hilang.


Nathan, Riko, dan Aldi yang baru tiba ikut khawatir melihat ekspresi kedua pria dihadapannya yang terlihat frustrasi.


"Bagaimana kondisi Nisa, Pak?" tanya Nathan.


"Nisa masih ditangani oleh Dokter," jawab ustadz Rian.


Ustadz Rian menatap penuh rasa bersalah pada pintu transparan buram yang tertutup itu. "Mas, percaya kamu kuat, Nisa." Suara ustadz Rian terdengar sendu, satu bulir air mata kembali jatuh di pipi pria ini namun, secepat kilat ia menghapusnya.