
"Khem ..." Nathan, Riko, dan Aldi berdehem bersamaan melihat kemesraan Nisa dan ustadz Rian di hadapannya.
"Kalau udah ketemu sama Pak Rian, kita di cuekin dan dilupakan. Ya 'kan, Nat?" tanya Nabila meminta persetujuan Nathan. Mereka berempat keluar dari persembunyiannya. Sedari tadi mereka diam-diam mengintip Nisa dan ustadz Rian di semak-semak di taman itu.
"Iya, Bil," jawab Nathan.
Nisa bangkit dari duduknya lalu memeluk tubuh sahabatnya itu. "Aku sayang sama Nabila kok. Nabila 'kan sahabat terbaikku."
"Aku juga," sahut Nabila membalas pelukan Nisa. Dia ikut senang akhirnya sahabatnya bisa bahagia kembali.
"Beb Nisa, kalau sama kami sayang nggak?" tanya Riko antusias.
"Sayang kok, kalian berempat memang terbaik bagi aku. Terutama Abang Nathan." Nisa tersenyum tipis ke arah Nathan.
Nathan menarik lembut pipi Nisa. "Tentu saja, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi kamu, Nisa." Nathan tersenyum simpul.
Ustadz Rian merasa senang, melihat Nisa dikelilingi oleh teman-temannya yang sangat baik dan sangat menyayangi satu sama lain.
"Oh ya, Pak Rian jangan lupa negosiasi kita tadi. Aku sudah bantu Bapak loh untuk ketemu sama Nisa." Nabila menagih janji kepada Pak Rian.
Ustadz Rian mengedipkan sebelah matanya ke arah Nabila. "Nanti Bapak kirim lewat chat aja."
"Negosiasi apa, Hubby?" tanya Nisa penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Sayang."
Nisa mencubit pinggang ustadz Rian. "Kasih tahu Nisa, Hubby. Kalau nggak Nisa nggak mau pulang ke rumah!" Nisa mengancam keras.
"Nabila hanya minta nomor WA Ustadz Fauzi," sahut Ustadz Rian pasrah. Nabila melemaskan badannya, dia bersembunyi di balik punggung Nisa karena malu.
'Pak Rian nggak bisa pegang janji. Padahal aku sudah bilang jangan kasih tahu Nisa,' batin Nabila mencebik.
"Hahaha ... Nabila suka sama, Kak Fauzi?" Nisa tertawa kecil, dia mencolek lengan Nabila. "Ciee Bil, jatuh cinta sama ustadz juga," goda Nisa dengan tawanya.
"Mana ada, aku cuman ingin nomor WA aja kok." Nabila membela diri.
"Aku nggak bisa dibohongin, Bil. Dalam sejarah kita berteman, kamu baru kali ini minta nomor WA pria loh. Bilang aja kalau suka ...," tutur Nisa.
Nabila menutup mulut Nisa. "Sudah Nisa, aku malu. Kalau ada Kak Fauzi disini juga, bagaimana? Malu aku, Nis."
"Kalau ada, emang kenapa?" tanya Ustadz Fauzi yang baru saja sampai di taman itu.
Nabila membulatkan matanya mendengar suara itu. Mendengar suara saja sudah membuat jantung Nabila berdegup dua kali lebih kencang. "Tuh 'kan Nisa, Kak Fauzi datang," bisik Nabila. Nabila menundukkan kepalanya dalam-dalam, pipinya sudah bersemu merah karena gugup dan malu. Sementara Nisa hanya tertawa cengengesan melihat wajah Nabila.
"Betul, Kak Fauzi. Nabila gadis baik dan cantik ko---"
"Walaupun pendek," potong Riko cepat.
Nabila menatap sangar ke arah Riko, bisa-bisanya Riko becanda saat dia sedang di landa kegugupan saat ini. Nabila menarik tangan Nisa untuk pergi meninggalkan tempat itu. Detak jantungnya tidak dapat di kendalikan lagi.
"Jemput Nisa di rumah Nabila, Hubby," teriak Nisa dari kejauhan. Ustadz Rian hanya mengaguk setuju.
***
Nisa sibuk melipatkan pakaiannya yang ada dalam koper lalu ditaruh di tatah rapi di dalam lemari.
"Mas bantu, yah," ujar Ustadz Rian yang baru pulang dari masjid.
"Eh, Hubby udah pulang. Nggak makan dulu?" tanyanya dengan ramah. Nisa akan berusaha menjadi istri yang lebih baik mulai hari ini.
"Selesaikan dulu lipat bajunya, kita makan bersama," sahut Ustadz Rian menarik lembut pipi chubby Nisa.
Nisa mengangguk kecil. Tidak butuh lama mereka berdua selesai melipat baju. Nisa kagum dengan suaminya yang bisa dalam segala hal.
"Hubby, Nisa yang masak. Semoga Hubby suka," katanya sembari memeluk lengan Ustadz Rian.
"Pasti enak, kalau kamu yang masak, Sayang," jawab Ustadz Rian, mengecup puncak kening Nisa singkat.
Nisa mengerucutkan bibirnya saat melihat teman-temannya sudah duduk manis di meja makan.
"Kapan kalian berempat datang?" tanya Nisa heran.
"Barusan, Ustadz Rian yang ajak kami kesini."
"Oh."
"Kami ganggu ya, Nisa?" tanya Nabila tidak enakkan melihat raut wajah sahabatnya itu.
"Nggak sih, tumben aja kalian nggak kabarin dulu. Biar aku masak banyak. Kalian sudah makan?"
"Belum. Kami datang kesini buat makan gratis, Beb Nisa," sahut Aldi.
"Lo kalau ngomong suka benar, Al," timpal Riko cengengesan.