
"Jangan terlalu bersedih karena pertolongan akan selalu datang bersama dengan kesabaran".
{ HR. Ahmad }
Gadis yang sedang duduk termenung sendirian di tepi kolam, menatap langit malam yang bertabur bintang dengan tatapan kosong. Gadis itu adalah Nisa. Bulir air mata terus membasahi pipinya.
Nisa tak pernah menyangka bahwa ustadz Rian lebih mempercayai orang lain daripada dirinya yang merupakan istrinya sendiri.
Masih terbesit di pikiran Nisa ucapan ustadz Rian yang sangat menusuk ulu hatinya.
"Mas kecewa denganmu! Mas tidak menyangka kalau kamu juga sama dengan perempuan yang di luar sana!" sentak ustadz Rian dengan nada suara yang meninggi.
Tubuh Nisa gemetaran saat itu, Nisa tak pernah melihat kemarahan ustadz Rian seperti itu.
"Hubby, egois! Hubby jahat hiks ... hiks ..." isak Nisa bergumam menunduk menyembunyikan kepalanya di atas lekukan lututnya.
Flashback on
Selesai memakaikan kalung di leher Nisa, ustadz Rian beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Senyum terus terukir di bibir Nisa saat melihat dirinya di depan cermin mengenakan kalung pemberian dari ustadz Rian.
Namun, senyuman itu hilang sekita ketika ustadz Rian melontarkan berbagai pertanyaan yang membuat Nisa kebingungan dan di pojokan.
"Nisa kamu pergi ke mana selama Mas di luar kota?!" tanya ustadz Rian dengan ekspresi kecewa.
"Nisa nggak pernah kemana-mana kok," jawab Nisa santai. Toh, Ia memang tidak pernah kemana-mana dan berkata jujur.
"Jawab jujur!" nada suara ustadz Rian naik dua oktaf.
Nisa terpelonjak kaget karena nada suara ustadz Rian yang meninggi. Nisa menelan saliva-nya. Tubuh Nisa gemetaran ketakutan, ustadz Rian yang sekarang ada di hadapannya bukan ustadz Rian yang biasanya.
"Hubby Nisa sudah ju---jur."
" ... lalu, apa maksud ini?!" tanya ustadz Rian memperlihatkan sebuah foto dari handphonenya kepada Nisa. Dimana foto itu adalah foto Nisa bersama pria lain. Pria itu tak lain adalah Nathan.
Nisa terdiam.
"Jawab Nisa!" nada suara ustadz Rian kian meninggi.
"Mas tidak perlu penjelasan kamu. Semua telah jelas, mas kecewa!" ustadz Rian memalingkan wajahnya. "Mas kecewa denganmu! Mas tidak menyangka kamu juga sama dengan perempuan yang di luar sana!" sambungnya lagi lalu pergi meninggalkan Nisa.
"Hubby, ini salah paham. Tolong dengar penjelasan Nisa," isak Nisa dan berusaha mengejar ustadz Rian.
"Mas sudah kecewa! kamu lupa, kamu itu sudah bersuami Nisa. Atau jangan-jangan kau berhubungan dengan pria itu?!" kata ustadz Rian dan menepis tangan Nisa yang mencoba menahannya. Ustadz Rian benar-benar emosi kepada Nisa.
Kondisi Nisa jangan di tanyakan lagi, Nisa benar-benar rapuh saat itu.
Flashback off
Malam sudah semakin larut, Nisa belum juga beranjak masuk ke dalam rumah. Matanya sembab, akibat menangis yang berlebihan.
"Masuk! kamu ingin mati kedinginan di sini?" suara ketus dan dingin dari ustadz Rian.
Nisa menoleh sekilas, tanpa berniat bangkit sedikit pun.
"Apa pedulimu!" jawab Nisa tak kalah ketus.
"Keras kepala, masuk sekarang juga!" sentak ustadz Rian lagi.
"Nggak! tidak perlu peduli denganku lagi. Dasar egois!"
"Siapa yang perduli denganmu? jangan geer'," ucap ustadz Rian tersenyum miring.
"Jahat!" Nisa lalu bangkit dan berlari ke kamar. Hatinya benar-benar sakit dengan sikap ustadz Rian.
"Maafkan mas yang sudah membuatmu menangis. Mas cuman kecewa dengan kamu." batin ustadz Rian merasa bersalah dengan sikapnya.
Kalau boleh jujur, ustadz Rian terbakar api cemburu setelah melihat foto Nisa dengan Nathan. Suami mana yang tidak marah dan cemburu, ketika istrinya berfoto dengan pose berpelukan dengan laki-laki lain.
Tetapi itu tidak seburuk yang terlintas di pikiran ustadz Rian, Nisa bisa menjelaskan semua tentang foto itu. Namun, ustadz Rian tetap kukuh dengan pendiriannya bahwa Nisa salah dan telah mengkhianatinya.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS Al Baqarah ayat 216).”
Tetaplah berhuznuzon kepada siapapun.