
Ibu Nisa khawatir, karena putrinya belum pulang ke rumah, sementara hujan masih turun dengan derasnya dan hari semakin gelap.
Tutt...
Sambungan telepon ibu Nisa terhubung dengan ustadz Rian.
[ Assalamu'alaikum, ustadz Rian. Ibu mau tanya Nisa sudah pulang dari masjid? ]
[ Wa'alaikumussalam Bu, Khairunnisa sudah pulang dari tadi Bu. ]
[ Kenapa Nisa belum sampai rumah ya ustadz, ibu khawatir takut terjadi apa-apa dengannya. ]
[ Astaghfirullah Khairunnisa belum pulang Bu, biar saya akan mencarinya. ]
[ Tidak usah ustadz, biar ibu saja yang mencari Nisa. ]
[ Ibu diam di rumah saja, karena hujan masih deras, nanti ibu sakit. Biar saya saja. ]
[ Terimakasih ustadz, jadi nggak enak ibu ngerepotin ustadz saja. ]
[ Jangan ngomong seperti itu Bu, saya ikhlas bantuin Ibu. ]
Percakapan antara ustadz Rian dan ibu Nisa berakhir. Ustadz Rian khawatir dengan kondisi Nisa, dan dia segera mencari Nisa tanpa memperdulikan hujan yang turun dengan derasnya.
Nisa masih menangis di bawa rintikan air hujan, berjalan pun seakan tidak mampu, dan pikirannya terus melayang ke masa-masa antara dia dan Nathan.
"Kalau mau mandi hujan ya nggak gini-gini amat Khairunnisa, gimana kalau kamu sakit. Ibu kamu di rumah khawatir dengan kamu," omel ustadz Rian sambil memegang payung.
"Ustadz Rian!" ucap Nisa kaget dan segera mungkin mengusap air matanya.
"Ayo kita berteduh ke sana," ajak ustadz Rian.
"Nggak mau, aku mau tetap di sini!" keukeh Nisa.
"Ini bukan waktunya keras kepala Khairunnisa.
"Ayo cepat!"
Nisa mau tidak mau mengalah untuk hari ini, Nisa dan ustadz Rian berada di bawa satu payung. Entah mengapa Nisa tertarik untuk memperhatikan wajah ustadz Rian.
"Nggak usah tatap ustadz segitunya, ustadz tau kok kalau ustadz ini ganteng."
"Apaan sih, jangan geer deh," ucap Nisa malu karena tertangkap basah oleh ustadz Rian.
Kesedihan Nisa mulai menghilang karena kehadiran ustadz Rian, Nisa merasa bahagia ketika bertemu dengan ustadz Rian. Walau kadang kala Nisa merasa kesal.
Nisa hanya diam dan tidak menggubris perkataan ustadz Rian.
Ustadz Rian melihat Nisa seperti sedang sedih dan tidak ada semangat sekali. Wajahnya lesu dan seperti sedang mengalami masalah besar.
"Khairunnisa kamu sakit, kenapa melamun dari tadi? tidak biasanya kamu bengong gitu." ucap ustadz Rian yang sedang duduk dengan jarak lumayan jauh dengan Nisa.
"Nggak kok, itu cuman perasaan ustadz saja. Aku cuman kedinginan."
Ustadz Rian merasa bodoh dan langsung menepuk jidatnya. Ustadz Rian kemudian melepaskan jaket yang dipakai dan di berikan kepada Nisa.
"Nih pake jaket ustadz, supaya kamu tidak kedinginan."
"Nggak usah, amit-amit deh aku pakai jaket ustadz. Nanti tubuh aku jadi gatel lagi, dan nanti aku jadi orang yang nyebelin kaya ustadz, kan serem," tolak Nisa mentah-mentah dengan nada sinis.
"Ya sudah kalau nggak mau, ya nggak apa-apa. Ustadz tidak maksa," sahut ustadz Rian dengan sedikit kecewa karena ucapan Nisa
"Nggak kok ustadz, Nisa cuman becanda jangan di masukkan ke dalam hati ya kata-kata Nisa tadi. Tidak usah ngambek," ucap Nisa merasa bersalah dan mengambil jaket di tangan ustadz Rian.
Setelah itu hanya ada keheningan di antara mereka, mereka berdua hanyut dalam pikirannya masing-masing.
***
Beberapa jam kemudian hujan pun reda dan ustadz Rian segera mengantar Nisa pulang.
"Ustadz Rian makasih," ucap Nisa tersenyum manis.
"Sama-sama."
"Ustadz nggak mampir dulu ke rumah," tawar Nisa ramah.
"Tumben baik," kekeh ustadz Rian.
"Jadi baik salah, dasar ustadz nyebelin."
"Bayi gede keras kepala!" ustadz Rian tak mau kalah.
"Dasar ustadz nyebelin, sudah pergi pulang sana," usir Nisa.
"Tapi bentar dulu," ucap Nisa lalu menarik hidung ustadz Rian dan Nisa lari terbirit-birit ke dalam rumahnya.
"Anggaplah itu sebagai ucapan terimakasih kasihku ke ustadz," teriak Nisa di dalam rumah.
Kebiasaan main tarik saja, awas kamu Nisa kalau sudah halal nanti ustadz nggak akan kasih ampunan kepada kamu