My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Haruskah Aku Kembali Padamu?



~Masa itu kau datang buatku tersenyum


Juga datang buatku menangis


Aku tak mengerti,


Apa aku harus mengulang kembali


Semua sakit yang pernah aku alami


Semua gelap yang pernah aku lalui


Aku berharap ini hanya kebetulan


Aku berharap kamu tak seperti yang sudah berlalu


Yang hanya ingin memeluk, dan pergi untuk melihatku tersakiti ...


________


Nisa kembali duduk termenung di dalam kamar, pikirannya masih saja memikirkan Nathan. Nisa melihat gelang yang masih melingkar manis di tangannya. Gelang itu adalah pemberian dari Nathan, sebelum Nathan pergi menghilang begitu saja.


Lamunan Nisa buyar setelah handphonenya berdering, Nisa pun mengambil handphonenya yang berbunyi. Ternyata ada seseorang menelpon, sementara nomor telepon itu asing, dan tidak terdaftar di kontak handphone Nisa.


"Ah, nomor siapa ini." dengus Nisa kesal setelah melihat handphone.


Nisa tidak mengangkat telpon dari nomor yang tidak di kenal itu. Nisa mulai kesal karena handphonenya berdering terus menerus. Akhirnya dia mengangkat telepon tersebut.


[ Kamu siapa sih, bisa nggak jangan ganggu aku. ] ucap Nisa kesal.


[ Nis, maaf aku ganggu yah. ]


Nisa langsung diam seribu bahasa, mendengar suara itu lagi.


[ Nis, kamu kenapa kamu diam? ] ucap seseorang itu yang tak lain Nathan.


Air mata Nisa lolos begitu saja di pipinya, dan Nisa langsung memutuskan pembicaraan itu.


Nathan


Nisa tolong, jangan matiin telponnya, ada hal yang perlu aku bicara dengan kamu.


Nisa mengangkat lagi telpon itu dengan paksa.


[ Apa yang perlu di bicarakan lagi Nat? dan kenapa kamu bisa tau nomor teleponku? ]


[ Aku minta kamu keluar, dan aku tunggu di depan rumah kamu! ]


[ Aku nggak mau Nat, ingat kita tidak ada hubungan lagi! ]


Nathan lalu mematikan telpon secara sepihak, dan Nisa sangat kesal sekali.


"Kalau nggak aku nekad Nis, kamu mau aku masuk ke dalam rumah kamu, atau kamu nemuin aku." via sms lagi dari Nathan.


'Kenapa dia ngancam sih, kalau ibu tau aku masih punya hubungan dengan Nathan bisa marah nanti.' batin Nisa.


Akhirnya Nisa memutuskan untuk pergi menemui Nathan, Nisa berjalan keluar dari kamarnya pelan-pelan takut ibunya mengetahui.


Nisa melihat Nathan sudah tersenyum manis di depan rumahnya, Nisa hanya membalas dengan tatapan benci.


"Ngomong apa lagi Nat, apa kurang penjelasan dari aku tadi," ucap Nisa yang sekarang berhadapan dengan Nathan.


Nathan memegang kedua tangan Nisa, jantung Nisa langsung berdegup dengan kencang.


"Nggak usah pegang Nat, cepat deh kamu mau ngomong apa," tegas Nisa sambil melepaskan tangan Nathan.


"Nis, aku cuman mau kasih ini," ucap Nathan menyodorkan sebuah buku.


"Itu buku diaryku, aku mau kamu baca semua yang ada di situ. Kamu akan mengetahui kenapa aku pergi meninggalkan kamu begitu saja," ucap Nathan menatap Nisa penuh harap.


Nisa diam, lalu mengambil buku diary itu. Baru lembar pertama Nisa membaca, air matanya sudah mulai jatuh. Setelah Nisa selesai membacanya dia langsung memeluk tubuh Nathan.


"Nat maafin aku, karena tidak mendengarkan penjelasan kamu tadi," ucap Nisa.


"Nggak apa-apa Nis, aku paham. Yang penting kamu sudah mengetahui alasan aku pergi meninggalkan kamu dulu, dan tentang perasaan aku ke kamu," sahut Nathan.


"Maaf, aku lancang meluk kamu," ucap Nisa melepaskan pelukannya.


"Nis, kamu bisa menerima aku kembali lagi?" tanya Nathan.


"Nggak bisa Nat!"


"Kamu kan sudah mengetahui alasan aku pergi, apa kamu masih benci denganku?"


"Nggak Nat, aku nggak lagi benci sama kamu. Aku sudah maafin kamu Nat, tapi maaf aku nggak bisa kembali lagi dengan kamu."


"Tapi aku cinta sama kamu Nis."


"Nat, aku sudah bilang bahwa aku sudah di jodohkan, dan tamat SMA nanti aku langsung nikah Nat. Aku mau kita menjadi sahabat seperti dulu lagi, dan tidak lebih dari itu ... "


"Selama kamu belum menjadi istri sah dari orang yang akan menikahi kamu Nis, aku akan terus berusaha mendapatkan kamu Nis!"


"Nat aku masuk dulu, kamu harus ikhlas dan menerima semua ini," ucap Nisa lalu pergi masuk dengan air matanya yang terus jatuh.


"Sampai kapanpun Nis, aku akan tetap mencintaimu karena kamu adalah cinta pertamaku," teriak Nathan.


Nisa menangis sejadi-jadinya di dalam kamar, gelang yang ada di tangannya langsung di buang begitu saja. Nisa benar-benar pusing memikirkan semua ini. Nisa cuman takut Nathan akan nekad untuk melakukan apapun demi mendapatkan dia kembali. Karena Nisa sudah mengenal sifat Nathan dari dulu, kalau Nathan sudah mengucapkan apapun yang menjadi keinginannya, Nathan akan berusaha menggapainya sekalipun nyawa menjadi taruhan.


Like dan komen ya, supaya author tetap semangat up