
Nisa mendengus kesal ketika membuka kado yang diberikan oleh Nabila semalam. Gadis ini melongo melihat sebuah pakaian tipis sekali. "Ini, bukannya lingerie yah?" Tebak Nisa. Ia langsung melemparkan benda itu disembarang tempat. Menyebalkan. Sahabatnya itu. Untuk apa Nabila memberikan baju seperti itu padanya?
Nisa mengambil sepucuk surat yang jatuh dari baju itu. Ia semakin kesal ketika membaca sepucuk surat itu yang isinya;
Jangan lupa pakai ya. Aku sudah sangat dan sangat susah payah banget belinya, uang jajan aku sisihkan untuk beli pakaian itu. Kata ibu, itu jurus ampuh untuk menggoda suami. Mendengar itu aku beli lah untuk sahabatku. Mengingat kamu sudah punya suami. Harus pake, oke?
Nisa meremas kertas itu, membuangnya ke tempat sampah. Kesal. Ia benar-benar kesal dengan Nabila. Tidak ada kado yang lebih bergunakah untuk diberikan oleh sahabatnya itu? Nisa tidak mempunyai niat sekali pun untuk memakainya. Otak Nisa terasa mulai pecah. Makin hari, tingkah Nabila makin aneh.
Kekesalan itu lenyap ketika melihat kado pemberian Nathan. Sebuah lukisan wajahnya yang sangat bagus sekali. Nisa tahu pasti sangat susah payah bagi Nathan untuk membuat lukisan itu. Senyum manis terukir di sudut bibirnya lagi. Sebuah boneka doraemon, pemberian Aldi dan Riko. Nisa sungguh bersyukur bisa memiliki sahabat seperti mereka.
Nisa mengambil buku pemberian Ustaz Rian yang ada di atas nakas. Tentu saja ini kado yang paling spesial baginya, karena diberikan oleh orang yang sangat spesial juga.
Setelah membaca beberapa lembar buku itu. Nisa beranjak bangkit untuk segera mandi. Hari ini ia akan pergi jalan-jalan dengan suami tercintanya.
"Hubby!" Nisa berteriak keras dari kamar mandi.
Ustaz Rian yang baru selesai melaksanakan sholat sunah dhuha itu buru-buru melipat sajadahnya. "Ada apa, Nisa?" tanyanya di depan pintu kamar mandi. Pria ini sangat khawatir.
"Hubby, keran airnya kok mati?" teriak Nisa dari dalam sana.
"Benarkah?" Ustaz Rian bertanya balik.
"Buka pintunya, biar mas perbaiki."
Nisa menuruti instruksi Ustaz Rian, dengan segera ia membuka pintu kamar mandi. Gluk. Ustaz Rian menelan saliva susah payah, melihat tubuh istrinya yang hanya dililit oleh handuk. Benteng pertahanannya lama-lama bisa runtuh kalau seperti ini.
"Kenapa nggak pakai baju?" tanyanya langsung membuang pandangan ke arah lain. Memandang benda apa pun yang ada dalam kamar mandi, untuk menghilangkan kontak mata dengan Nisa. Halal memang memandangnya, tapi ini bukan saatnya. Ustaz Rian harus menunggu sampai Nisa selesai haid. Sangat menyiksa dirinya, tapi inilah konsekuensi yang harus diterima.
Nisa mengangkat kedua alisnya. "Nisa udah bilang belum selesai mandi, Hubby. Kenapa sih lihat Nisa kayak kaget gitu? Ada yang aneh?" Nisa tidak sadar kalau lekuk tubuhnya itu berhasil membuat pikiran Ustaz Rian mulai tidak waras. Apalagi mengingat sudah beberapa bulan, ia berpuasa.
"Hm, nggak ada," sahut Ustaz Rian tanpa menoleh. Ia memukul sedikit kepalanya, mencoba menjernihkan pikirannya.
"Hubby, sakit?" Nisa bertanya khawatir lalu berjalan mendekat ke arah suaminya itu
"Menjauh lah!"
"Kenapa sih?!" tanyanya Nisa sengit, melihat Ustaz Rian seperti alergi melihatnya. Karena kesal Nisa langsung menghentakkan kakinya keluar dari kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, untuk memperbaiki keran air itu. "Eh, kok sudah pakai baju. Kan belum selesai mandi?" Ustaz Rian bertanya heran.
"Nggak pa-pa. Nisa nggak mood lagi untuk mandi. Kesal sama, Hubby," sahutnya sembari menyisir rambutnya di depan cermin.