My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Kenapa kamu kembali?



Di tengah perjalanan pulang Nisa bertemu kembali dengan sahabat kecilnya atau bisa dikatakan lebih dari hubungan sahabat. Mereka pernah berjanji akan selalu bersama hingga tua nanti. Tapi itu cuman janji belakang, Nisa menahan rindu selama dua tahun. Dia pergi meninggalkan Nisa begitu saja, tanpa ada kabar, dan selamat tinggal.


Nisa ingin mencari jalan lain, agar Nisa tidak bertemu dengan dia. Namun sayangnya dia terlebih dahulu mengetahui kehadiran Nisa di depannya.


"Nis," suara yang amat di rindukan Nisa selama ini.


Nisa tidak menggubrisnya, dia tetap melanjutkan langkah kakinya.


"Nisa tunggu, gue rindu sama kamu," ucap lelaki itu dan menahan tangan Nisa agar tidak pergi.


Bulir air mata Nisa lolos begitu saja di pipi Nisa.


"Kenapa kamu kembali lagi Nat? tanya Nisa menghentikan langkahnya dan berbalik badan kepada Nathan.


"Setelah kamu meninggalkan aku begitu–"


Belum Nisa selesai berbicara, Nathan sudah menarik tubuh Nisa ke dalam pelukannya.


"Aku kembali karena kamu Nisa, maafin aku karena pergi begitu saja tanpa memberi tau kamu Nis." jelas Nathan masih memeluk Nisa.


"Nathan, kamu jahat! aku sudah menahan rindu selama ini karena ke kamu. Dan kamu dengan mudahnya meminta maaf sama aku, setelah apa yang kamu lakukan." isak Nisa dan Ia mencoba melepaskan pelukan dari Nathan.


Tetapi Nathan enggan melepaskan pelukannya.


"Nis, aku juga rindu sama kamu. Aku bisa menjelaskan semuanya ke kamu."


"Tidak ada yang perlu di jelaskan Nat, kamu sudah terlambat." kata Nisa lalu melepaskan pelukan Nathan.


"Maksud kamu Nisa?"


"Aku sudah dijodohkan, lebih baik kamu menjauhiku sekarang!"


"Nis, kamu ingatkan janji kita dulu. Kenapa kamu menerima perjodohan itu?"


"Aku ingat Nat, dan tidak akan pernah lupa dengan janji itu. Namun hatiku sudah tertutup buat kamu. Anggaplah janji itu cuman sebuah permainan saja."


"Aku berubah karena kamu Nat, kepergian kamu tanpa selamat tinggal itu, mengajarkan aku untuk ikhlas. Dan dari itu aku berubah dan menguburkan kenangan yang indah bersama kamu. Anggaplah kita tidak pernah bertemu dan bersama Nat, kamu sekarang adalah orang asing buatku."


"Perasaan aku sama kamu masih sama Nis, dan tidak akan pernah berubah. Aku masih mencintaimu!"


"Lupakan aku Nat, karena aku sudah lama melupakanmu ...," ucap Nisa meneteskan air mata.


Cuaca hari itu cukup mendung, seakan mewakili perasaan Nisa yang teramat sedih.


"Aku selama ini setia Nisa di sana, karena di hatiku aku cuman ada kamu."


"Sudahlah Nat, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Hubungan kita sudah berakhir setelah kepergian kamu, dan aku tegaskan lagi aku sudah melupakanmu ...," ucap Nisa lalu meninggalkan Nathan begitu saja.


"Nisa aku sayang sama kamu!" teriak Nathan dari kejauhan.


Hujan turun dengan derasnya, tubuh Nisa sangat rapuh saat itu. Dia berjalan dengan bulir air mata terus mengalir di pipinya bersama dengan tetesan air hujan.


"Nat, aku benci sama kamu," ucap Nisa rapuh.


"Kenapa kamu kembali, di saat aku mulai melupakanmu." gumam Nisa meneteskan air mata.


***


Hujan adalah sesuatu yang sangat di benci oleh Nisa. Memori Nisa langsung berputar ke masa lalu, di mana saat hujan turun dia dan Nathan akan mandi dan bermain hujan bersama-sama. Mereka bahkan sampai lupa waktu gara-gara mandi hujan. Namun itu hanya kenangan di masa kecil mereka. Masih teringat jelas di benak Nisa, ketika umur 14 tahun, Nisa berjanji akan pergi kerja tugas ke rumah Nathan. Nisa terus memanggil nama Nathan tetapi tidak ada jawaban. Rumahnya sepi dan sunyi menandakan bahwa seperti tidak ada orang lagi di dalam rumah itu.


"Nak, penghuni rumah itu sudah pindah," ucap tetangga Nathan.


Tubuh Nisa langsung lemah, mendengar keterangan dari tetangga Nathan.


"Nathan!" isak Nisa.


"Kenapa kamu meninggalkanku. Dan tidak pamit dulu kepadaku," ucap Nisa menangis tersendu-sendu di depan rumah Nathan.


Nisa terus menangis, dan hujan pun turun saat itu. Sejak saat itulah Nisa membenci hujan. Dan sekarang Nathan, kembali bersamaan dengan hujan yang dia selalu benci.