My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Pindah Rumah



Beberapa hari kemudian, kesedihan Nisa atas kepergian ibunya sudah mulai menghilang. Nisa akan mencoba mengikhlaskan kepergian ibunya, sungguh berat yang dirasakan oleh Nisa di tinggalkan oleh kedua orang yang disayangi untuk selamanya.


Namun, kini hadir sosok lelaki yang akan akan menjaga dan menemani Nisa sampai maut memisahkan mereka. Yang tak lain adalah ustadz Rian.


Nisa akan tinggal di rumah ustadz Rian, sebenarnya Nisa masih ingin tinggal di rumahnya, karena masih banyak kenangan antara dia dan keluarganya. Tetapi Nisa menyadari bahwa dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali ustadz Rian yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Sampainya di depan rumah ustadz Rian, Nisa kagum, bahkan matanya tidak bisa berkedip ketika melihat rumah ustadz Rian. Rumah ustadz Rian bertingkat dua dan mewah, dengan desain rumah unik dan modern.


"Ini benar rumah ustadz Rian?" tanya Nisa penuh selidik.


"Iya ini rumah ustadz, mari kita masuk," sahut ustadz Rian.


"Ustadz orang kaya, yah?"


Ustadz Rian hanya tersenyum tipis, dan menarik tangan Nisa untuk segera masuk.


"Tapi, kenapa penampilan ustadz biasa saja, dan ustadz tidak pernah sombong seperti orang-orang kaya yang aku kenal, biasanya mereka berlagak sok." ucapnya lagi.


"Khairunnisa, harta atau kekayaan itu tidak untuk di pamerkan. Semua hanya titipan dari Allah, dan suatu saat Allah akan mengambil kembali dari ustadz. Tidak ada yang perlu di sombongkan karena semua yang ada di dunia hanyalah titipan," jelas ustadz Rian.


"Oo gitu," ketus Nisa.


Mata Nisa terus memandangi sekitar rumah ustadz Rian, ada tiga mobil mewah yang terparkir di halaman rumah ustadz Rian. Sungguh Nisa masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Di depan pintu rumah, ustadz Rian dan Nisa sudah di sambut oleh bibi Ati. Yang merupakan pembantu rumah tangga di rumah ustadz Rian.


"Selamat datang Nyoya," ucap bibi Ati kepada Nisa sambil menundukkan kepala.


"Makasih Bibi, tapi Nisa minta bibi tidak usah panggil dengan sebutan Nyoya. Panggil saja Nisa, atau terserah bibi asalkan tidak dengan sebutan Nyoya," ucap Nisa tersenyum.


Ustadz Rian merasa senang mendengar perkataan Nisa atas kerendahan hatinya


"Bibi panggil Non Nisa aja," ucap bibi membalas senyuman Nisa.


"Iya Bi." Nisa tersenyum kikuk karena masih merasa canggung.


"Bibi tolong antar Nisa ke kamar ya, saya mau ambil barang-barangnya terlebih dahulu," perintah ustadz Rian.


"Baik Tuan."


Nisa masuk dan melangkahkan kakinya ke dalam rumah ustadz Rian, banyak lukisan kaligrafi di beberapa sudut ruangan yang di lihat oleh Nisa.


"Ini kamar Non dan Tuan," ucap bibi Ati berhenti disalah satu kamar.


"Oo iya Bi."


"Bibi mau lanjut kerja dulu, kalau Non perlu apa-apa panggil saja Bibi."


"Baik Bi."


Nisa kemudian masuk ke dalam kamar, parfum milik ustadz Rian melekat di hidung Nisa saat memasuki kamar.


"Kamu tidak mandi?" tanya ustadz Rian yang baru masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa koper milik Nisa.


"Istirahat dulu ustadz."


Ustadz Rian lalu berjalan mendekati Nisa, dan mendekati wajahnya.


Deg ...


Jantung Nisa tiba-tiba berdegup dengan kencang.


"Yakin nggak mau mandi, badan kamu bau deh," goda ustadz Rian dan pura-pura menutup hidungnya.


"Ah ngg–ak, harum gini di bilang bau. Dasar ustadz nyebelin," cibir Nisa gugup dengan pipi bersemu merah.


"Kalau di rumah jangan panggil dengan sebutan ustadz lagi, panggil ustadz dengan panggilan mas. Mengerti kan," kata ustadz Rian menaiki sebelah alisnya.


"Nggak mau!"


"Jangan ngebantah perintah suami. Dosa loh ..."


"Bodo amat," ketus Nisa.


Cup ...


Ustadz Rian mencium kening Nisa. Nisa langsung diam membeku atas apa yang di lakukan oleh ustadz Rian.


"Ustadz main cium saja ...," kesal Nisa kepada ustadz Rian lalu berlari ke kamar mandi secara kilat. Mengatur jantung, yang berdegup dengan kencang sekali.


"Tidak apa-apa kan, yang penting sudah halal." sahut ustadz Rian penuh kemenangan.


"Dasar suami nyeblin dan mesum," cerocos Nisa dalam kamar mandi.


"Sudah jangan marah, nanti cantiknya hilang," jawab ustadz Rian terkekeh renyah.


Nisa hanya mencebik, alur hidupnya terlalu rumit. Entahlah, dia bisa menerima ustadz Rian sebagai suaminya atau tidak.


"Dasar nyeblin, andai masih ada ibu sudah aku laporin tuh ustadz. Kalau sudah menciumku secara sepihak," gumam Nisa kesal.


.


.


.


.


T E R I M A K A S I H