My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Keputusan



Di sisi lain di pondok pesantren An-Nur milik keluarga Nafisah sangat berbahagia malam ini. Keluarga Nafisah tak menyangka bahwa kedua pasangan halal yang terpisah selama dua tahun akhirnya di pertemukan kembali, mereka sangat senang sekali. Ustadz Rian dan Nafisah sekarang berada di dalam kamar mengistirahatkan tubuh mereka yang cukup kelelahan hari ini.


Ustadz Rian yang sudah membaringkan tubuhnya di samping Nafisah tiba-tiba saja bangkit, dan segera meraih kunci mobilnya.


"Mas, mau ke mana, ini sudah pukul sebelas malam?" tanya Nafisah lalu duduk di atas ranjang itu.


Ustadz Rian mengecup singkat kening Nafisah. "Mas harus pulang sebentara ke rumah, Sha. Ada yang perlu mas urus," ucap ustadz Rian lembut.


"Nggak bisa besok pagi, Mas? Ini sudah malam, hujan pun masih turun dengan deras," tutur Nafisah lalu memeluk tubuh suaminya itu.


"Mas hanya pulang sebentara, Sha. Nanti mas kembali ke sini lagi."


Nafisah tersenyum tipis. "Baiklah, Mas hati-hati ya." Nafisah melepaskan pelukannya dan menyalami punggung tangan ustadz Rian.


Mobil ustadz Rian membelah jalan raya yang sudah gelap malam itu. Ustadz Rian memilih pulang karena khawatir dengan kondisi Nisa, ustadz Rian tahu pasti Nisa sangat sedih sekali mengetahui kenyataan ini. Ustadz Rian pun tidak menyangka akan seperti ini pernikahannya dengan Nisa.


Dua jam berlalu, akhirnya ustadz Rian sampai di rumahnya. Dia segera berlari ke atas menuju kamar. Namun, nihil Nisa sudah tidak ada dan semuanya baju milik Nisa juga tidak ada di dalam lemarinya.


'Nisa, mas minta maaf,' batin ustadz Rian. Dia mengacak rambutnya frustasi. Ustadz Rian kembali turun, harapan satu-satunya bertanya kepada Bibi Ati.


"Bibi," panggil ustadz Rian di depan kamar Bibi Ati.


Mendengar suara majikannya Bibi Ati yang sudah tertidur pulas segera


"Iya, Tuan Rian. Ada apa?" tanya Bibi Ati dengan suara khas bangun tidur.


"Nisa pergi ke mana, kenapa Bibi membiarkan Nisa pergi?"


"Maaf Tuan, Bibi tidak tahu Non Nisa pergi ke mana. Bibi sudah usahakan mencegahnya, tapi Non Nisa tetap pergi," ucap wanita paruh baya itu merasa bersalah kepada tuannya. "Non Nisa hanya menitipkan ini kepada Bibi untuk di berikan kepada, Tuan." Bibi Ati memberikan surat dan cincin itu kepada ustadz Rian.


"Bibi istirahatlah, maaf Rian mengganggu tidur Bibi." Ustadz Rian menerima itu dengan tangannya bergetar. Ustadz Rian duduk di sofa lalu membaca surat yang ditulis oleh Nisa.


Hubby, Nisa tidak menyangka dengan semua yang terjadi hari ini. Nisa pikir kita akan hidup bahagia bersama sampai maut memisahkan kita. Namun, takdir memang tidak berpihak pada Nisa maupun Hubby. Nisa minta maaf bila selama ini Nisa tidak pernah menjadi istri yang baik kepada Hubby, Nisa hanya bisa merepotkan dan membebani Hubby saja selama ini.


Nisa sungguh Nisa sangat mencintai Hubby. Tapi Nisa sadar, Nisa tidak pantas bersanding dengan Hubby. Hubby dan Nafisah memang pasangan serasi. Nisa ikut bahagia kalian bisa bertemu kembali.


Nisa akan ikhlas dan melupakan Hubby di dalam hati Nisa. Walaupun berat, Nisa akan mencobanya. Terima kasih atas segalanya dan cinta yang Hubby berikan secara tulus kepada Nisa. Nisa akan menunggu surat perceraian dari Hubby, biarkan Nisa yang pergi dan mengalah.


Berbahagialah Hubby meski bukan dengan Nisa, Nisa akan selalu baik-baik saja. Nisa akan berusaha menjadi seorang yang lebih sabar dalam menghadapi masalah dan akan berusaha merelakan sebuah perpisahan ini.


Satu bulir air mata jatuh di pipi pria itu setelah selesai membaca surat itu.


"Mas juga sangat mencintaimu, Nisa." Ustadz Rian memperhatikan cincin berlian pernikahan di tangannya yang di berikan kepada Nisa saat ijab qobul dulu.


Ustadz Rian mengembuskan napas panjang. 'Dan sepertinya sesuai dengan keinginanmu, mas harus melepaskanmu Nisa, demi kebaikan kamu dan mas. Maafkan mas Nisa ...," Air mata kembali luruh di pipi pria itu.