My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Kelulusan



Matahari bersinar begitu cerah pagi ini. Sejalan dengan hati para siswa siswi kelas XII SMA Bhakti yang resmi dinyatakan lulus 100 % oleh kepala sekolah dalam upacara hari ini. Suara riuh, tawa, bahagia, ucapan selamat, bahkan haru menyelimuti pagi yang cerah ini di SMA Bhakti. Tak terkecuali bagi Nisa dan Nabila yang menjadi bagian dari keluarga besar kelas XII SMA Bhakti. Kedua gadis ini saling berpelukan satu sama lain.


"Akhirnya kita lulus dengan nilai yang memuaskan Bil," ucap Nisa bahagia memeluk erat tubuh sahabatnya.


"Tidak sia-sia kita belajar selama ini Nis, gue senang sekali," jawab Nabila tidak kalah bahagia.


"Kami ikut dong ..." kata Aldi dan Riko merentangkan kedua tangannya ingin bergabung berpelukan dengan Nisa dan Nabila.


"Tidak boleh!" jawab Nisa dan Nabila menatap sangar ke arah mereka berdua.


Riko dan Aldi melemaskan badannya.


"Sekali-kali, setelah ini kita akan berpisah dan jarang ketemu. Gue pasti rindu nih, terutama pada bebeb Nisa," melas Aldi dengan ekspresi sedih.


"Gue juga sama nih, nggak bisa jauh dari bebeb Nisa," timpal Aldi lagi.


Nisa memutar bola matanya dengan malas.


"Apa sih kalian, lebay deh."


"Iya, kalian berdua sangat lebay! mana mau Nisa sama kalian. Huh ..., " ejek Nabila pada Aldi dan Riko.


"Terserah kamilah, bilang aja loh iri! karena enggak ada yang suka cewek pendek seperti loh," ejek Riko tak mau kalah.


"Gue juga nggak akan suka cowok sama loh, amit-amit deh," cibir Nabila.


Perdebatan antara Nabila dan Riko kian panjang, membuat orang-orang sekitarnya sumpek mendengarnya.


"Sepertinya kalian berdua cocok deh, kan sama-sama le–" kata Nisa terpotong.


"Tidak akan!" jawab Riko dan Nabila kompak.


"Tuh kan, kalian memang jodoh." Nisa tertawa kecil melihat pipi sahabatnya merah merona.


"Rik, loh memang cocok sama Nabila. Jadi gue sama bebeb Nisa deh," celetuk Aldi.


"Ada apa ini? kenapa ribut-ribut sih?" tanya Nathan yang baru gabung dengan mereka. Nathan menatap tajam kedua sahabatnya yang pasti bikin ulah.


"Nggak ada apa-apa Nathan, kami cuman mengobrol ringan sama bebeb Nisa." Aldi dan Riko tersenyum kikuk atas kedatangan Nathan.


"Baguslah," jawab Nathan.


Nisa tersenyum tipis ke arah Nathan.


"Nat selamat ya, loh menjadi lulusan terbaik tahun ini," ucap Nisa tulus.


"Kamu juga, walaupun tidak bisa mengalahi posisi peringkat gue."


"Nyesel deh gue puji," kesal Nisa.


Nathan menarik sedikit ujung jilbab Nisa.


"Memang dari SD loh nggak bisa ngalahin gue Nis, kepintaran loh rata-rata deh." Nathan tertawa geli melihat ekspresi Nisa yang sudah marah. Nathan rindu bercanda seperti ini dengan Nisa.


"Dan loh nggak pernah berubah dari dulu, tetap angkuh dan sombong!" ucap Nisa mengerucutkan bibirnya.


"Sini-sini, Abang Nathan kita berpelukan bertiga juga. Kita bangga sekali sama Abang Nathan," ajak Aldi antusias.


Nathan bergidik jijik. "Jangan nodain gue, sialan!" umpatnya saat Aldi dan Riko mencolek lengannya seenak jidat.


Aldi dan Riko tertawa terbahak-bahak. Mereka suka menjahili Nathan. Di antara mereka memang Nathan–lah yang hidupnya terlampau serius.


"Nathan, traktir kami makan dong," celutuk Nabila yang diam dari tadi.


"Hm boleh," jawab Nathan santai.


"Kita makan gratis," girang Riko bahagia.


"Gimana gue traktir makan di restoran seafood, langganan gue. Kalian mau nggak?"


"Jelas kami mau Nat, apalagi di restoran," jawab Aldi.


"Nis, loh ikut kan?" tanya Nabila.


"Bentar gue telepon Hubby dulu," bisik Nisa kepada Nabila. Nabila pun mengaguk setuju.


Nisa berjalan menjauh dari teman-temannya untuk menelepon ustadz Rian.


Tut ...


Saluran telepon Nisa terhubung dengan ustadz Rian.


[ Assalamu'alaikum Hubby, Nisa mau minta izin pada Hubby. ] kata Nisa to the point.


[ Wa'alaikumussalam sayang, minta izin ke mana? ]


[ Nisa di traktir makan oleh Nathan ke restoran, Nisa nggak akan lama kok Hub. ]


[ Kalian cuman pergi berdua? ]


[ Nggak kok Hubby, ada Nabila juga yang ikut. ]


[ Mas izinin, tapi jangan lama pulang ya. Karena kita belum packing barang-barang yang akan kita bawa untuk pergi bulan madu. ]


[ Makasih Hubby, Nisa janji tidak akan lama. Nisa sangat mencintai Hubby. ]


[ Mas lebih mencintaimu, ingat jangan terlalu dekat sama pria lain ya! ]


Mereka berlima pun bergegas pergi menuju ke restoran seafood menggunakan mobil Nathan.


***


"Kalian mau pesan apa?" tanya Nathan yang memegang menu makanan.


"Gue mau cumi bakar dan fruit juice aja, Nat," tunjuk Nisa pada salah satu menu makanan.


"Gue juga sama," ucap Nabila.


"Kami juga," jawab Riko dan Aldi.


Nisa mendengus nafas kesal.


"Kenapa kalian ikutin gue sih, kan masih banyak menu yang lain!" kata Nisa tidak suka.


"Terserah kamilah!"


Tak lama pesanan sudah tersaji di hadapan mereka. Sungguh sangat menggiurkan sekali.


"Gue mau kasih tahu sesuatu pada kalian bertiga," ucap Nisa di sela-sela makan. Menatap satu persatu pria di hadapannya.


Nathan, Aldi, dan Riko menghentikan aktivitas makannya, sorot mata serius dapat di lihat di mata Nisa.


Hening beberapa saat.


"Gue sebenarnya sudah nikah," kata Nisa santai.


"Apa? nikah?" jawab mereka bertiga kaget bukan main. Sementara Nabila tak acuh, karena dia sudah mengetahuinya.


"Kapan loh nikah?"


"Sama siapa?"


"Loh bohong kan, bebeb Nisa?"


Nisa memijat pangkal hidungnya, menyesal bagi Nisa untuk memberi tahu ketiga pria itu.


"Bisa nggak jangan berisik, lihat tuh pengunjung lain ngeliatin kita," ucap Nisa memberhentikan keributan ketiga pria di hadapannya.


"Nisa menikah dengan Pak Rian, jadi loh bertiga sudah kalah saing. Haha ...," Nabila tertawa cengengesan melihat raut kecewa ketiga pria yang selalu mengejar Nisa selama ini.


"Bisa diam nggak loh!" gertak Riko.


"Nggak usah ngegas, napa?" ketus Nabila.


"Nisa bisa loh jelasin nggak?" tanya Nathan.


"Kalian diam dulu, baru gue ceritain. Dan satu lagi jangan ada yang potong nanti saat gue lagi cerita!" Nisa memperingati dan mereka pun mengaguk setuju.


Nisa menarik nafas panjang.


"Benar ucapan Nabila, gue sudah nikah sama Pak Rian. Pada saat ibu meninggal dunia dulu," jelas Nisa singkat.


"Itu sebabnya loh jauhin gue akhir-akhir ini?" tanya Nathan.


"Iya."


Aldi dan Riko saling berpelukan sedih, sementara Nathan hanya diam membisu.


"Harapan kita untuk memiliki bebeb Nisa sudah pupus di tengah jalan Al," ucap Riko lebay sambil memeluk Aldi.


"Gue juga Rik, kurang ajar tuh Pak Rian merebut cewek kita."


Nisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka yang sungguh lebay.


"Nat, loh sudah tahu kan sekarang. Jadi loh nggak usah berharap pada gue lagi."


"Hm, tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakan loh Nis."


"Gue yakin loh bisa Nat, kita tetap berteman kok." Nisa tersenyum simpul ke arah Nathan. Sorot mata sedih nampak jelas dari mata Nathan.


Mereka melanjutkan aktivitas makannya, tanpa ada suara lagi.


"Gue ke toilet sebentar ya," pamit Nisa dan beranjak berdiri.


"Nisa gue temenin ya, perasaan gue nggak enak sama loh."


"Nggak usah Bil, gue bukan anak kecil yang perlu di temani lagi," sahut Nisa lalu berlalu di hadapan sahabatnya.


Bup!


Seseorang yang menggunakan pakaian serba hitam langsung menutup mulut Nisa saat keluar dari toilet.


"Kalian sia–" kata Nisa terpotong, Ia langsung tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


Kedua pria yang menggunakan pakaian serba hitam itu tersenyum misterius, lalu membopong tubuh Nisa ke dalam mobilnya.


[ Tuan, gadis yang Tuan incar sudah berhasil kami culik. ]


[ Kerja yang bagus, bawa dia ke tempat biasa. ]


[ Baik Tuan! ]


'Nyawa, harus di bayar dengan nyawa Rian.' gumam pria itu lalu tersenyum licik.