
Ustadz Rian memandang Nisa dengan tatapan intimidasi, bagaimana tidak. Ustadz Rian dan ustadz Fauzi sudah berkeliling mencari Nisa di segala tempat di pesta pernikahan. Sementara orang yang di cari sudah sampai rumah. Melelahkan bukan?
"Dengan siapa kamu pulang, Nis? kenapa nggak tungguin Mas?" tanya ustadz Rian bertubi-tubi lalu duduk di samping Nisa.
Nisa diam, meremas ujung bajunya.
"Nisa, ada yang kamu sembunyikan dari Mas?" tanya ustadz Rian terdengar melemah. Menatap lekat netra milik Nisa.
Nisa menundukkan kepalanya, dan enggan untuk menjawab pertanyaan ustadz Rian.
Ustadz Rian, menarik Nisa ke dalam dekapannya. "Mas nggak akan marah, Mas tahu kalau Vivi mengasari kamu saat di sana."
Nisa masih bungkam, mulutnya keluh untuk mengatakan yang sejujurnya pada suaminya.
"Sayang, apa yang terjadi. Tolong jangan diam seperti ini. Jangan membuat mas khawatir," kata ustadz Rian lembut sambil mengelus lembut rambut Nisa.
Nisa menghembus nafas panjang.
"Ni–sa tadi pulang sama Tuan Alvaro Hub—"
"Alvaro? kamu pulang di antar oleh pria lain?!" potong ustadz Rian dengan cepat.
Nisa mengigit bibir bawahnya, benar dugaan Nisa pasti ustadz Rian akan marah besar pada dirinya.
"Hubby, Tuan Alvaro orang baik kok. Dia membantu Nisa saat terjatuh. Tuan Alvaro tidak tega melihat pakaian Nisa yang basah. Jadi dia mengantar Nisa pulang ke rumah lebih cepat," jelas Nisa mencoba meyakinkan ustadz Rian.
"Jangan sekali-kali memuji pria lain di depan mas. Mas tidak suka!" kata ustadz Rian penuh penekanan. Ia memalingkan wajahnya di hadapan Nisa.
"Huff ... Nisa kamu salah ngomong lagi." gerutu Nisa kesal pada dirinya sendiri.
Nisa menggenggam tangan ustadz Rian.
"Hubby jangan salah paham, Tuan Alvaro mengantar Nisa bersama adik perempuannya juga. Kami tidak berdua di dalam mobil, Tuan Alvaro hanya berniat membantu Nisa dan tidak lebih dari itu. Nisa memang salah, Nisa minta maaf Hub."
Ustadz Rian hanya diam.
"Hubby maafin Nisa." Mohon Nisa, dengan derai air mata.
Ustadz Rian bangkit tanpa memperdulikan Nisa lagi.
Nisa tidak bisa menahan ustadz Rian lagi, ia tahu dirinya salah. Karena sudah pulang tanpa sepengetahuan ustadz Rian, dan di antar oleh pria lain.
Nisa berjalan lemah, ke dalam kamar. Ia menatap ustadz Rian yang duduk di tepi ranjang tanpa memperdulikan kehadirannya.
"Hubby, terlalu cemburu. Apakah dengan mendiami Nisa, kesalahan pahaman ini bisa akan selesai. Hubby tidak pernah mau mendengar penjelasan Nisa. Hubby egois, Hubby tidak pernah ngertiin Nisa!" perkataan itu meluncur saja dari mulut Nisa. Nisa lelah hari ini, fisiknya sudah sakit, dan di tambah dengan ustadz Rian yang mendiaminya.
"Bahkan Hubby, tidak datang di saat Nisa di hina dan di caci oleh Vivi. Nisa tidak kuat lagi Hubby, hati Nisa sudah teramat sakit."
Ustadz Rian masih tidak peduli, meskipun mendengar isak tangis yang begitu menyedihkan dari istrinya.
"Hubby tidak peduli lagi dengan Nisa? baiklah Nisa sekarang sadar. Nisa memang wanita yang tidak tahu diri. Benar perkataan Vivi, bahwa Hubby tidak pernah mencintai Nisa," lirih Nisa, Ia mengingat perkataan Vivi yang masih teringan di pikirannya. Nisa berjalan menuju lemari, dan mengemas baju-bajunya.
"Nisa minta cer–"
"Siapa yang tidak peduli dengan kamu? siapa bilang mas tidak mencintaimu?" Ustadz Rian langsung memeluk tubuh Nisa.
"Jangan sekali-kali bicara seperti itu, Mas tidak suka."
Nisa melepaskan pelukan ustadz Rian. "Nisa sadar Hubby, Nisa hanya wanita miskin. Nisa tidak pantas bersanding dengan Hubby. Vivi mungkin perempuan yang lebih pantas untuk Hubby."
Ustadz Rian mencakup pipi Nisa dengan kedua tangannya. "Mas tidak pernah memandang status sosial seseorang, Mas mencintaimu karena Allah Nis. Mas hanya tidak suka pria lain terlalu dekat denganmu, mas takut kehilanganmu Nis."
Tangan Nisa menghapus bulir air mata dari pipi ustadz Rian, Nisa dapat merasakan ketulusan hati yang sangat dalam dari ustadz Rian padanya.
"Hubby kenapa nangis?"
Ustadz Rian menarik Nisa ke dalam dekapannya.
"Jangan terpengaruh dengan ucapan Vivi. Dia hanya ingin menghancurkan pernikahan kita. Mas minta maaf tidak bisa melindungimu saat kamu di hina oleh Vivi. Pintu toilet mas di kunci oleh teman Vivi. Vivi memang wanita licik!"
Nisa tersenyum tipis. "Nisa juga minta maaf ya, karena sudah marah-marah sama, Hubby.
Nisa berjinjit sedikit lalu mengecup singkat pipi ustadz Rian.
"Nisa juga sangat mencintai Hubby."
Saat kamu bersedia menyerahkan hidupmu kepada seseorang, berarti kamu telah berkomitmen untuk menjaga hubungan yang kalian jalin. Hal ini memang sulit, tapi jika sudah menemukan orang yang tepat, maka duniamu akan terasa lebih indah.