My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Hubby



Malamnya ...


Nisa sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur, dan di susul oleh ustadz Rian di sampingnya. Tetapi, mata Nisa tidak bisa terpejam.


"Nisa ..." panggil ustadz Rian.


"Iya ustadz ada apa?" tanya Nisa dengan posisi tidurnya membelakangi ustadz Rian.


Ustadz Rian malah diam, membuat Nisa heran.


"Kok diam sih," heran Nisa membatin.


"Ustadz, ada apa? apakah ustadz punya masalah?" tanya Nisa dan membalikan badannya menghadap ustadz Rian.


Ustadz Rian menggeleng kepalanya.


"Terus, kenapa ustadz mukanya sedih gitu? Nisa mulai khawatir.


Bukan menjawab pertanyaan Nisa, ustadz Rian malah menarik Nisa dalam pelukannya. Membuat jantung Nisa berdegup dengan kencang, dan Nisa merasa gugup sekali.


"Mas pasti akan merindukanmu." kata ustadz Rian yang membuat Nisa sedikit terkejut mendengar perkataan suaminya itu.


"Emangnya ustadz mau kemana sih?" tanya Nisa dan mendongak wajahnya ke ustadz Rian.


"Mas akan pergi ke luar kota, maafin Mas karena akan meninggalkan kamu untuk beberapa hari."


"Ustadz mau tinggalin Nisa, Nisa salah apa? Apakah ustadz marah sama, Nisa?" Tak terasa bulir air mata jatuh di pelupuk mata Nisa.


"Mas pergi ke sana untuk dakwah. Kemungkinan akan satu minggu atau lebih. Mas harap kamu bisa mengerti," jelas ustadz Rian.


Nisa diam dan mengeratkan pelukannya pada ustadz Rian.


"Meski berat, tapi Nisa akan coba mengerti. Nisa ikhlas kok kalau ustadz pergi ke sana," jawab Nisa sedih karena dia tidak sanggup berpisah dengan suaminya itu. Nisa menyadari bahwa hatinya sudah terjatuh kepada sosok ustadz muda itu.


Satu kecupan singkat mendarat di kening Nisa.


"Tumben nggak ngebantah," kekeh ustadz Rian.


Nisa merasa nyaman di pelukan ustadz Rian dan enggan untuk melepaskan pelukannya.


Ustadz Rian membelai rambut Nisa dengan lembut, Nisa hanya diam membisu dengan perlakuan ustadz Rian.


"Ustadz," ucap Nisa yang masih di pelukan ustadz Rian.


"Jangan panggil ustadz lagi ya, kan ustadz sudah menjadi suami kamu sekarang," pinta ustadz Rian.


Nisa berpikir sejenak. "Terus panggil apa dong?" tanya Nisa. "Mas, A'a, Ka–"


"Sayang!" final ustadz Rian lalu mencubit gemas pipi Nisa.


"Nggak, Nisa nggak suka panggilan itu."


"Terus maunya, apa?"


"Apa ya," pikir Nisa. "Aku tau Hubby. Boleh, kan?" tanya Nisa antusias.


Ustadz Rian mengerutkan keningnya. "Hubby, kok aneh."


"Nama itu spesial buat suamiku yang ganteng," ucap Nisa sambil menarik hidung ustadz Rian.


"Terserah asalkan kamu bahagia, sayang." Ustadz Rian tak henti-hentinya mengecup puncak kepala Nisa. "Apa artinya, Hubby itu?"


"Hmm. Kalau sebutan Hubby itu ketika belum punya dede bayi. Ya, kalau nanti sudah punya dede bayi baru panggil Abi deh hehe ...,"jawab Nisa malu-malu.


"Oo, jadi mau punya dede bayi nih. Emang sudah siap," bisik ustadz Rian tetap di daun telinga Nisa.


"E--nggak kok. Cuman lucu aja," jawab Nisa gugup.


"Hmm." ustadz Rian hanya berdehem dan menatap lekat mata Nisa.


"Benaran mau Nisa," goda ustadz Rian.


"Ustadz jangan mesum!" kata Nisa dan ingin segera menjauhi tubuhnya dari suaminya. Nihil, ustadz Rian malah menahan tangan Nisa. Sehingga Nisa jatuh kembali ke pelukan ustadz Rian.


"Mau ke mana? ustadz nggak akan apa-apain kamu. Ustadz masih ingat kok perjanjian kita," ujar ustadz Rian.


Nisa tersenyum lega." Makasih Hubbyku."


"Nggih, tidur sudah."


"Hub."


"Hm."


"Bacain surah Ar-Rahman buat Nisa," rengek Nisa. "Suara Hubby merdu, jadi Nisa bisa tidur deh," sambung Nisa lagi.


Ustadz Rian pun menuruti permintaan Nisa. Ustadz Rian mulai melantunkan surah Ar-Rahman dengan merdunya. Nisa mendengarnya penuh takjub dan Nisa pun mulai tidur dengan pulas di pelukan ustadz Rian.


***


"Hubby bangun, sholat tahajjud," kata Nisa sambil menepuk pipi suaminya dengan lembut.


"Kok tumben sih Hub, lama bangun. Biasanya Hubby dulu bangun daripada Nisa," gumam Nisa.


Sebenarnya ustadz Rian sudah bangun dan ingin beranjak dari tempat tidurnya. Tapi ustadz Rian berpura-pura tidur lagi. Setelah melihat istrinya juga terjaga dari tidurnya.


"Hubby," ucap Nisa masih keukeh membangunkan ustadz Rian.


"Aww sakit," lirih ustadz Rian memegang hidungnya.


"Hubby sih nggak bangun-bangun," kesal Nisa.


"Pipi kamu gemesin deh," ucap ustadz Rian lalu mencubit pipi Nisa dengan lembut.


Mereka pun melaksanakan shalat tahajjud dengan khusyuk. Selesai shalat malam, ustadz Rian mengajari Nisa membaca Al-qur'an sebentar.


***


Keesokan pagi ...


Nisa sudah siap dengan seragam sekolahnya, sementara ustadz Rian sudah siap menyiapkan barang-barangnya untuk di bawah ke luar kota karena memang ustadz Rian akan pergi pukul 8 pagi.


"Hubby," ucap Nisa dan langsung memeluk tubuh ustadz Rian.


"Nisa nggak siap, Hub," rengek Nisa dan bulir air matanya pun keluar.


"Jangan nangis dan sedih dong" kata ustadz Rian mencakup pipi Nisa dan menghapus air mata di pipi wanitanya.


"Sebenarnya Mas juga nggak rela ninggalin kamu Nis, tetapi apalah daya dakwah sudah menjadi kewajiban kita sesama muslim dan Allah mempercayai Mas untuk mengajarkan kepada mereka yang masih awam akan ilmu agama."


"Hmm, maaf ya Hubby. Nisa tidak akan sedih lagi. Hubby, semangat di sana, jangan lupa makan. Pokoknya jaga kesehatannya."


"Siapa, sayang."


"Istriku juga harus semangat, kan hari ini ujian pertama. Jangan lupa berdoa agar di permudahkan oleh Allah."


"Nasib-nasib orang jomblo, bisa nggak kalian jangan bermesraan." Suara seseorang dari ambang pintu yang tak lain ustadz Fauzi, yang merupakan sahabat ustadz Rian.


"Ustadz Fauzi," ucap Nisa malu dan melepaskan pelukannya.


"Jangan panggil ustadz dong Dek, panggil Kakak saja," sahut Fauzi mengedipkan matanya kepada Nisa. Nisa hanya mengangguk setuju.


"Nggak usah genit sama istri aku, Zi," tegas ustadz Rian.


"Santailah Rian, Nisa sudah aku anggap seperti adik aku sendiri."


"Hubby, aku pamit sekolah dulu ya. Hubby hati-hati," ucap Nisa dan menyalami tangan ustadz Rian. Ustadz Rian pun mencium kening Nisa.


"Hub, malu di lihat sama kakak Fauzi."


"Biarin, siapa suruh belum nikah," ejek ustadz Rian.


"Uuu sombongnya dirimu," kesal ustadz Fauzi.


Nisa dan ustadz Rian hanya tersenyum geli melihat kekesalan ustadz Fauzi.


Nisa berpura-pura kuat di hadapan ustadz Rian, padahal di lubuk hatinya yang paling dalam Nisa tidak siap berpisah dengan ustadz Rian. Nisa akan merasa kesepian karena tidak ada lagi orang yang dia jahili.


"Hubby, aku mencintaimu," gumam Nisa saat berjalan ke sekolah.


Setelah kepergian Nisa, ustadz Rian dan ustadz Fauzi pun segera bergegas pergi ke Bandara.


"Rian, bini kamu cantik juga dan masih muda lagi. Apakah kamu pernah melakukannya?" tanya ustadz Fauzi.


"Nggak, Nisa masih kecil."


"Lah nggak apa-apa kan."


"Akuku boleh menyentuhnya kalau Nisa sudah lulus."


"Mmm, kamu kuat juga menahan nafsumu. Kalau aku sih nggak kuat, apalagi Nisa kelihatannya gadis polos sekali. Pipinya gemesin sekali." Ustadz Fauzi tersenyum tipis.


"Bisa nggak, jangan genit sama istri aku, Zi. Makanya nikah sono, biar nggak genit sama istri orang."


"Cemburu amat."


Ustadz Rian tidak menjawab.


"Aku sih mau nikah, Yan. Apalah daya Allah belum menghendaki," jawab ustadz Fauzi bersedih.


"Sabar Zi. Kun Fayakun!" kata ustadz Rian sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Insyaallah, Yan."


Kedua sahabat tersebut larut dalam perbincangan mereka selama perjalanan menuju Bandara.


Tinggalkan jejak, biar author semangat untuk up nya!