
"Lo kalau ngomong suka benar, Al," timpal Riko cengengesan.
"Kita masak lagi, yuk, Bil!" ajak Nisa antusias, ia menarik tangan Nabila ke dapur secara paksa.
"Aku nggak bisa masak, Nis! Please deh."
"Ada Bibi Ati kok yang masak, kita ikut bantu aja!" ujar Nisa meyakinkan.
Nabila menghela napas panjang. "Oke, deh," sahutnya pasrah.
Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya Nisa, Nabila, dan Bibi Ati selesai membuat menu makanan tambahan yaitu udang goreng asam manis dan ayam kecap.
"Lama benar! Cacing pada demo nih!" kata Aldi.
"Kamu pikir masak itu mudah?"
"Sangat mudah, Ibu aku cepat sekali kalau masak. Palingan bukan kamu nggak masak, cuman Beb Nisa aja."
Plak!
Nabila memukul bahu Aldi karena kesal.
"Sudah sekarang kita makan. Mumpung masih hangat." Suara Ustadz Rian menghentikan keributan yang terjadi.
Makanan malam berlangsung khidmat. Kekonyolan teman-teman Nisa menambah kegembiraan malam itu. Mereka melakukan banyak hal malam itu hingga tidak sadar jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Kami balik dulu, Nis. Jangan lupa bikin kami keponakan banyak-banyak!" ujar Nathan di teras rumah, ia melakukan penekanan di ucapkan terakhirnya. Senyum mengejek terukir di bibirnya.
"Yah, betul. Kamu dan Pak Rian belum ...."
"Nabila, Nathan, stop! Pulang sana, jangan sampai aku melempar kalian dengan gelas ini!" ancam Nisa mengangkat gelas di tangannya.
"Garang benar, jangan masukin hati. Becanda kok," ujar Nabila mencolek dagu sahabatnya itu.
"Bye, Beb Nisa. Good dreams sweet," tutur Riko.
"Eh, gobl4k lho. Good sweet dreams itu baru benar. Kalau nggak bisa bahasa Inggris nggak usah, Rik. Malu-maluin gue dan Nathan!" timpal Aldi.
"Sama aja artinya. Sok pintar lho!" hardik Riko tidak suka dengan ucapan Aldi meremehkan kemampuan bahasa Inggrisnya.
Setelah berdebat lama antara Riko dan Aldi, keempat sahabatnya segera berlalu dihadapannya. Nisa hanya bisa tertawa kecil mendengar perdebatan yang terjadi. Setelah itu Nisa segera menutup pintu, dan langsung naik ke atas menuju kamarnya.
......................
"Hubby," panggil Nisa.
"Hm, ada apa?" tanya Ustadz Rian menoleh.
"Pinjam handphone." Nisa mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?" tanya Ustadz Rian, tasbih ditangannya di letakkan di atas nakas.
"Nonton."
"Nggak usah nonton, tidur sudah. Nanti telat bangun sholat malam, Sayang." Ustadz Rian membaringkan tubuhnya.
Nisa mengerucutkan bibirnya. "Aku belum ngantuk, Hubby. Aku cuman nonton sebentar kok." Nisa menyingkirkan bantal guling yang menghalanginya dirinya. Ia menggeserkan tubuhnya lebih dekat dengan Ustadz Rian, gadis ini merengek, menggoyangkan tubuh suaminya.
"Cuman setengah jam, nggak lebih. Pinjam yah." Nisa merayu dengan suara lembut. Handphonenya rusak, rencananya besok Ustadz Rian akan membelikan handphone baru.
Ustadz Rian menarik pipi Nisa, mengacak-acak rambut panjang istri kecilnya itu dengan gemas.
"Pinjam yah." Nisa merayu dengan suara lembut lagi.
Ustadz Rian nampak berpikir sejenak. "Baiklah, tapi kamu nonton film apa?"
"Film horor. Hubby, ikut nonton juga." Merasa lama menunggu, Nisa langsung mengambil sendiri handphone yang ada di atas nakas.
Nisa nampak serius menatap layar handphone itu. Film horor favoritnya sudah diputar, bulu kuduknya berdiri. Ustadz Rian tidak tertarik sama sekali dengan film yang ditonton oleh Nisa, pria ini malahan tertarik untuk menatap wajah cantik istri kecilnya itu yang sedang serius sekali. Tetap terlihat imut, tangannya tidak berhenti menarik lembut pipi chubby Nisa.
"Aaa ...!" Nisa berteriak ketakutan, saat tiba-tiba hantu suster ngesot muncul. Handphone di tangannya langsung dibuang sembarangan tempat, ia memeluk tubuh kekar milik Ustadz Rian.
"Kalau takut, nggak usah nonton Nisa."
"Hantunya terlalu jelek dan mengerikan, Hubby. Biasanya sih nggak kayak gitu," sahutnya yang masih dalam dekapan Ustadz Rian.
"Kita tidur aja, Mas sudah ngantuk juga." Ustadz Rian menarik selimut menutupi tubuhnya dan Nisa. Istri kecilnya itu masih ada dalam dekapannya. Memeluk tubuhnya dengan erat.
"Hubby, baca ayat kursi dong. Nisa takut suster ngesot itu datang," pintanya dengan suara serak.
Ustadz Rian tertawa kecil mendengarnya, ia menuruti keinginan Nisa untuk membaca ayat kursi.
Bibirnya mengukir senyum kecil lagi saat melihat Nisa sudah terlelap. Kecupan singkat mendarat di puncak kening Nisa. "Aku mencintaimu," ucap Ustadz Rian sebelum dirinya juga ikut terlelap.