My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Hanya Mencintaimu



"Nisa, sebelum kita pulang. Kita mampir dulu ke toko buku ya," kata Nabila di depan gerbang sekolah.


"Oke, aku juga pengen beli novel," balas Nisa setuju.


"Antar kami ke toko buku, Bang," ucap Nabila pada sopir angkot itu.


"Siap, Neng."


Sepuluh menit berlalu akhirnya mereka berdua sampai di toko buku itu.


"Nisa lihatlah, ini novel kesukaan aku yang selama ini aku dambakan," kata Nabila girang memegang novel tersebut.


"Tak usah lebay deh Nabil, lihat itu pengunjung lainnya memandang kita dengan tatapan aneh," saran Nisa yang melihat tingkah sahabatnya.


"Ya maaf."


Nisa terus fokus mencari novel di rak buku itu berharap akan bisa menghilangkan kebosanannya di rumah.


Nabila yang tanpa sengaja matanya memandang ke tempat kasir. Matanya langsung melotot tak percaya.


"Kamu harus lihat sekarang itu, Nisa," ucap Nabila sambil menyuruh Nisa untuk berbalik badan.


"Jangan ganggu aku, Nabila. Aku lagi cari novel nih," kesal Nisa yang tangannya masih bermain di rak buku itu.


"Cepatlah lihat siapa itu," kata Nabila sambil menunjuk ke arah kasir.


"Siapa?" tanya Nisa mengikuti arah tangan Nabila.


Deg!


Hati Nisa langsung perih dan sakit melihat pemandangan tersebut.


"Itu benar Pak Rian kan Nisa, terus siapa perempuan di sampingnya itu? kenapa mereka berbincang dengan senang sekali dan sepertinya dekat. Apa mungkin mereka ada hubungan, Nisa?" tanya Nabila.


"Kenapa kamu nanya ke aku, tanya aja sendiri ke Pak Rian," ketus Nisa dan langsung membuang wajahnya.


"Kamu cemburu kan?" sindir Nabila.


"Nggak kok, sudahlah ayo kita pulang sekarang. Aku nggak betah di sini," jawab Nisa dan menarik tangan sahabatnya.


"Terus ... bagaimana novel yang aku idamkan ini. Aku belum membayarnya," rengek Nabila.


"Masih ada besok," ketus Nisa.


"Ah Nisa, kok imbasnya ke aku."


Nisa tak lagi menggubris ocehan dari sahabatnya itu, pikirannya terus melayang-layang kepada ustadz Rian.


"Ustadz siapa perempuan itu? kenapa ustadz begitu bahagia bersamanya," gumam Nisa dan tak terasa bulir air matanya jatuh. Segera mungkin Nisa mengusap, takut sahabatnya mengetahuinya.


"Aku pulang sendiri saja, Bil," ucap Nisa. Nisa sadar dia sudah tinggal bersama ustadz Rian. Dia masih ingin merahasiakan pernikahannya dari sahabatnya.


"Lah, kenapa kita nggak bareng? kan arah rumah kita searah," jawab Nabila heran.


"Aku jalan duluan," sahut Nisa tanpa bicara panjang lebar lagi dan meninggalkan Nabila begitu saja.


Nabila hanya di buat kebingungan dengan tingkah Nisa.


"Pasti ini efek cemburunya pada Pak Rian tadi." pikir Nabila.


Sampainya di rumah, air mata Nisa sudah tidak dapat di bendung. Bibi Ati yang melihat Nisa menangis saat pulang sekolah jadi khawatir.


"Kenapa nangis, Non?"


"Nggak kok, Bi. Nisa cuman kelilipan," jawab Nisa berbohong.


"Nggak mau makan dulu, Non?"


"Nisa nggak nafsu makan, Nisa kamar dulu," jawab Nisa dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Ustadz Rian jahat," lirih Nisa meneteskan air matanya.


Di sisi lain ustadz Rian baru saja sampai rumah. Baru beberapa jam saja ustadz Rian sudah rindu menatap wajah istrinya.


"Assalamu'alaikum, Bi," ucap Rian sambil mencium punggung tangan bibi Ati.


"Wa'alaikumussalam, Tuan," sahut bibi Ati.


"Nisa sudah pulang, Bi?"


"Baru saja Tuan, Bibi harap Tuan segera menemui, Non Nisa."


"Ada dengan, Nisa?"


"Tadi pas pulang sekolah, Non Nisa menangis, Tuan."


"Makasih, Bi. Saya mau melihatnya terlebih dahulu takut terjadi apa-apa dengannya," jawab ustadz Rian khawatir.


"Kenapa Nisa bisa menangis?" gumam ustadz Rian bertanya pada dirinya sendiri lalu melangkah kakinya ke atas menuju kamar.


Nisa yang mendengar suara hentakan kaki yang dari luar kamar segera menghapus air matanya. Nisa tahu hentakan kaki itu pasti milik ustadz Rian.


Cklek!


Pintu kamar terbuka.


"Nisa ...," panggil ustadz Rian lembut.


"Nisa," panggil ustadz Rian lagi.


"Iya, ada apa?" tanya Nisa ketus dan dingin.


"Kalau bicara sama seseorang itu, harus balik badan dulu. Nggak sopan itu namanya."


"Biarin!"


"Kenapa kamu dingin gini pada ustadz. Ustadz punya salah sama kamu?"


"Tanya kepada diri ustadz sendiri," ketus Nisa.


Hening di sela-sela obrolan meraka.


"Nisa, kasih tau ustadz, apa salah ustadz pada kamu. Jangan diammin ustadz kaya' gini."


"Tadi di toko buku ustadz Rian sedang berbicara dengan siapa?"


"Toko buku?"


"Iya di toko buku," tegas Nisa.


"Tadi itu teman ustadz masa SMA dulu."


"Bohong! Nisa melihat dengan mata kepala sendiri, ustadz bicara mesra dengannya," lirih Nisa dan bulir air matanya kembali jatuh.


Hati ustadz Rian merasa sakit, ketika gadis kesayangannya itu menangis. Ustadz Rian langsung mendekap Nisa ke dalam pelukannya.


"Ustadz Rian jahat," ucap Nisa sambil memukul bidang dada suaminya itu.


"Nisa kamu sudah salah paham."


Nisa tidak menggubris, dia makin menangis sejadi-jadinya di pelukan ustadz Rian.


"Menangis terlebih dahulu, supaya hatimu bisa tenang. Setelah itu ustadz akan menjelaskannya," ucap ustadz Rian.


"Ternyata istriku ini cemburu," gumam ustadz Rian senang, Nisa cemburu berarti Nisa sudah rasa untuk dirinya.


"Sekarang tataplah mata ustadz!" titah ustadz Rian sambil mendongak dagu Nisa untuk menatapnya. Dan Nisa hanya menurut.


"Ustadz cuman sayang dan mencintaimu, ustadz tidak mungkin akan berpaling darimu. Cuman kamu yang satu-satunya seseorang di hati ustadz. Percayalah, ustadz sangat mencintaimu," jelas ustadz Rian sambil memandang lekat mata Nisa dan langsung mencium kening Nisa.


"Nisa tidak suka dengan posisi ini," jawab Nisa dan menjauhi badannya dari ustadz Rian. Hatinya berdegup dengan kencangnya.


"Terus kenapa ustadz bisa di toko buku itu bukankah ustadz seharusnya masih di sekolah?" Nisa masih tidak percaya.


"Baiklah ustadz akan jujur. Sebenarnya toko buku itu, tokonya ustadz. Dan perempuan yang kamu lihat tadi memang teman ustadz dan dia juga bekerja di toko buku itu. Kami juga tidak berdua di kasir itu," jelas ustadz Rian dan mulai untuk terbuka dengan Nisa.


"Hah? toko buku yang besar itu toko ustadz?" tanya Nisa tidak percaya.


"Iya istriku," sahut ustadz Rian tersenyum manis.


"Itu pertanyaan yang bodoh Nisa, kau lupa suamimu itu orang kaya," batin Nisa.


"Kamu nggak marah sama ustadz lagi?"


"Iya deh, kali ini Nisa maafin."


"Baru tau istriku cemburu sekali," ledek ustadz Rian.


"Nggak kok," bantah Nisa.


"Bilang aja, nggak usah sungkan istriku."


"Kita turun makan dulu," ucap ustadz Rian mengalihkan pembicaraan.


"Nisa nggak lapar, ustadz!"


"Jangan keras kepala, nanti maag kamu kambuh."


"Nisa tidak lapar, please deh ngerti," tolak Nisa.


"Oke itu maumu," jawab ustadz Rian dan langsung menggendong Nisa.


"Ustadz Rian turunin, Nisa malu di lihat Bibi," pekik Nisa kesal dan malu.


"Itu akibatnya kalau keras kepala, nggak usah malu kita kan suami istri."


"Tuan putri sudah sampai," ucap ustadz Rian lalu menurunkan Nisa di meja makan.


Nisa hanya tersipu malu, dan pipinya merah merona melihat perlakuan suaminya.


Bibi Ati yang melihat sejoli yang lagi kasmaran itu tersenyum geli dan bahagia melihat majikannya itu.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen ya:)