
Nisa kondisinya sudah semakin membaik dan dia sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Nisa merasa bosan dan ogah, karena dia akan pergi belajar membaca Al-qur'an lagi.
"Huft ...," dengus Nisa kesal saat berjalan menuju masjid.
Sampainya di sana Nisa sudah di sambut oleh ustadz Rian di depan pintu masjid, dan ustadz Rian sudah tersenyum lebar kepadanya.
"Kenapa ustadz senyum-senyum? seperti orang gila saja," ucap Nisa kesal dan memasuki masjid.
"Senyum kan sedekah."
"Oh." sahut Nisa menaruh muka masam.
"Assalamu'alaikum, adik-adik hari ini ustadz ada rezeki lebih. Jadi ustadz akan mengadakan kuis berhadiah, soalnya semua tentang agama," ucap ustadz Rian membuka percakapan.
"Yes ... kuis berhadiah," ucap anak-anak girang.
"Kuis apa coba." gumam Nisa.
"Baiklah yang bisa jawab angkat tangan dulu ya."
"Ustadz aku boleh ikut nggak?" tanya Nisa.
"Boleh kamu kan masih bayi gede," sahut ustadz Rian keceplosan.
Ha ... ha ... ha ...
Suara tawa anak-anak menertawakan Nisa.
"Maaf Khairunnisa, ustadz tidak bermaksud---" sahut ustadz Rian terpotong oleh pembicaraan Nisa
"Jangan pernah remehkan saya ustadz, gini-gini mah aku pintar!" ucap Nisa sinis.
"Mari kita buktikan ucapan kamu." kata ustadz Rian tak kalah menantang.
"Ok siapa takut." sahut Nisa berlagak sombong.
"Baiklah adik-adik, soal pertama yaitu malaikat yang bertugas untuk mencabut nyawa makhluk hidup adalah ...,"
"Saya ustadz." ucap Nisa mengangkat tangan.
"Jibril jawabannya." sahut Nisa bangga.
Gelak tawa mulai terdengar dari anak-anak mendengar jawaban Nisa.
"Salah!" kata ustadz Rian menahan tawanya.
"Kok bisa salah sih." sahut Nisa membela diri.
"Salah pokoknya, ada jawaban lainnya?" tanya ustadz Rian.
"Saya ustadz, malaikat Izrail." sahut salah seorang anak.
"Benar," ucap ustadz Rian bangga.
Semua bertepuk tangan kecuali Nisa yang masih kesal. Ustadz Rian sudah membacakan soal hampir empat kali, tapi Nisa tidak bisa menjawab pertanyaan satu pun.
"Soal terakhir, dengar kan baik-baik. Sebutkan bulan- bulan dalam islam."
"Ustadz saya." sahut Nisa mengangkat tangan cepat.
"Kamu yakin Nisa bisa menjawabnya, sudah empat kali kamu jawab tapi salah mulu." ledek ustadz Rian.
"Hahaha ... salah." ustadz Rian yang tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Ha? salah. Terus apa coba." sahut Nisa.
"Ustadz saya, jawabannya Muharam, Safar, Rabiul awal, Rabiul akhir, Jamadil awal, Jamadil akhir, Rajab, Sha'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaedah, Dzulhijjah," sahut Sinta.
"Pintar, tepuk tangan semuanya," ucap ustadz Rian.
Ustadz Rian kemudian membagikan hadiah buat anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan tadi. Hadiah berupa peralatan sekolah, Al-qur'an, dan es krim. Dan anak-anak pun segera berpamitan pulang.
"Menyebalkan masa aku kalah sama bocah." dengus Nisa kesal sambil keluar dari masjid.
"Itu yang namanya pintar." sahut ustadz Rian meledek.
"Apaan sih, Nisa tidak mengajak ustadz bicara ya."
"Tadi cuman ada unsur kesengajaan, aku mengalah demi anak-anak." jawab Nisa membela diri.
"Bilang aja nggak bisa jawab, nggak usah malu deh."
"Benar-benar ustadz nyebelin ya."
"Terserah ustadzlah, dasar bayi gede keras kepala!" ustadz Rian tak mau kalah.
Nisa hanya memasang wajah datar dan kesal.
"Pasti enak nih es krim." ustadz Rian membuka es krim di depan Nisa.
Nisa hanya menoleh sekilas dan menelan ludah ya karena ngiler.
"Ustadz mau, bagi dong," pinta Nisa memohon.
"Nggak es krimya tinggal satu dan hanya untuk ustadz, siapa suruh tadi nggak bisa jawab."
"Pelit!"
"Biarin."
Nisa mulai geram dan saat ustadz Rian hendak memakan es krim tersebut Nisa malah menahan tangan ustadz Rian.
"Nisa lepasin tangan ustadz."
"Nggak mau!"
"Kamu main kasarnya."
"Terserah aku mau es krim pokoknya."
Ustadz Rian terus mempertahankan es krim di tangannya, Nisa tidak menyerah begitu saja. Dia terus mencoba mengambil es krim tersebut. Pada akhirnya, Nisa jatuh di pelukan ustadz Rian dengan jarak wajah cuman beberapa senti.
"Astaghfirullah Khairunnisa, ucap ustadz Rian bangkit lalu menjauhi Nisa dan jantung berdegup dengan kencang.
"Ma--ma--af--" ucap Nisa terbata-bata, lalu mengambil kesempatan mengambil es krim di tangan ustadz Rian.
Nisa berlari sekuat tenaga, menghindari kemarahan ustadz Rian. Nisa sangat senang karena es krim sekarang ada di tangannya.
"Hum, enaknya." Nisa berjalan ke arah rumahnya sambil menikmati es krim di tangannya.
Ustadz Rian mengucapkan istighfar dalam hatinya atas kejadian barusan. Jantung berdegup dengan kencang sekali.