My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Dufan



"Kamu pengin ke mana?" tanya Ustaz Rian sebelum menyalakan mesin mobil.


Nisa menoleh cepat, memang masih kesal gara-gara kejadian di kamar mandi tadi, tetapi perasaan kesal itu sudah hilang. Hatinya sudah melunak kembali. "Serius Nisa yang milih tujuannya, Hubby?" tanyanya antusias.


"Ini kan hari spesial. Ke mana pun kamu menginginkannya, mas pasti akan anterin," jawab Ustaz Rian menarik lembut pipi istrinya itu.


Nisa tersenyum gembira. "Baiklah, kita ke Dufan, Hubby!" ucapnya dengan penuh semangat.


Ustaz Rian mengerutkan keningnya. Pendengarannya nggak salahkan? Ketika istrinya itu menyebut tujuan mereka. "Benaran mau ke sana?" Ustaz Rian bertanya lagi.


Nisa mengangguk setuju.


"Hm, tapi di tempat itu. Wahana permainan untuk anak kecil, Nisa."


"Hubby! Hubby, kan yang menyuruh Nisa memilih tujuannya?Jadi jangan protes! Siapa bilang itu wahana buat anak kecil aja?" Nisa melipatkan kedua lengannya di depan dada. Ia merasa kesal.


"Bukan protes. Tapi umur kamu udah delapan belas tahun, Nisa. Nggak pantas aja pergi ke sana," kata Ustaz Rian mencoba menjelaskan.


"Ya udah kalau Hubby nggak mau! Nisa bisa pergi sendiri," sahutnya dengan jutek.


Ustaz Rian buru-buru menahan tangan istrinya itu agar tidak keluar. "Oke, kita pergi ke sana, Sayang. Maafin mas."


***


Ustaz Rian sedikit menyesal mengikuti keinginan Nisa untuk pergi ke Dufan. Memang benar kata pepatah penyesalan selalu saja datang diakhir. Penyesalan itu terasa sejak mereka menginjakkan kaki di sana.


Bagaimana tidak, istrinya itu menyuruh dirinya juga ikut naik berbagai permainan ekstrem yang ada di situ. Padahal Ustaz Rian berusaha untuk tidak mau menyentuh apa pun wahana permainan. Bukan karena takut, tetapi Ustaz Rian hanya tidak ingin menaiki wahana permainan seperti itu, mengingat usianya yang tidak lagi muda.


Seluruh pertahanannya benar-benar habis setelah permainan ke dua. Ustaz Rian berjalan sempoyongan setelah mereka menjajal Halilintar, keringat dingin membasahi keningnya. Perutnya terasa sangat melilit, dengan langkah gemetaran pria ini berjalan ke arah tempat sampah memuntahkan hampir semua isi perutnya yang ia tahan.


"Hubby, baru naik itu aja udah gini. Kalau seperti ini Hubby yang kayak anak kecil, bukan Nisa, hahaha ...." Nisa tertawa geli sembari mengusap punggung Ustaz Rian. Ia merasa lucu melihat ekspresi wajah suaminya. Nisa semakin tertawa lepas. "Muka Hubby pucat banget, padahal ini hanya sebuah permainan, lho," lanjutnya masih dengan elak tawanya.


Ustaz Rian tidak menjawab apa pun. Pria ini masih memuntahkan isi perutnya. Perutnya masih saja terasa melilit. Nisa buru-buru mengambil tisu dan menyodorkan botol air mineral ke arah Ustaz Rian.


Ustaz Rian menerimanya, ia kembali berdiri tegak. Helaan napas panjang ia hembuskan. Tanpa merasa empati, Nisa kembali berkata dengan sangat semangat, "Hubby. Naik itu lagi, yuk!" ajaknya antusias.


"Nisa, mas nggak tahan lagi. Tubuh mas udah panas dingin, kita pulang aja, yah." Ustaz Rian berucap memohon. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi.


"Sayang tiketnya, Hubby. Main lagi, yah? Nisa mohon, sekali lagi! Baru kita bisa pulang." Nisa mengandeng tangan Ustaz Rian dengan paksa, tidak peduli dengan penolakan pria itu.


Ustaz Rian memilih mengalah. Demi kebahagiaan istrinya itu ia akan melakukan apa pun.