
"Salsa apa ibu mu..?".
"bukan, kau salah paham. Ini bukan kelakuan ibu ku ini kelakuan ku karena nakal pada nya" kata salsa sambil buru-buru menutupi luka sayatan yang ada di tangan nya.
"yang benar? "tanya ku memasti kan apakah dia berbohong atau tidak.
"benar, tenang saja aku tidak apa-apa" kata salsa sambil tersenyum.
Entah kenapa, aku merasa senyuman nya itu, seperti di paksa kan, tidak tulus. Aku yakin, pasti ada yang dia sembunyi kan, tapi aku tidak tahu apa yang dia sembunyi kan dari ku. Apa perlu aku cari tahu sendiri atau perlu aku lihat sendiri nih atau langsung ku tanya kan saja pada orang tua nya langsung?
Tidak, tidak boleh. Kalau aku melakukan hal itu bisa-bisa salsa tambah di marahi dan juga aku akan dicap sebagai orang yang kepo. Seperti orang yang ingin ikut campur dalam masalah keluarga nya padahal aku hanya orang asing di sana.
Sebenarnya aku curiga aku takut jika Salsa di pukuli oleh ibu nya tapi aku tidak punya bukti sama sekali untuk membuat pernyataan seperti itu yang jelas ada yang dia sembunyi kan dari ku.
*~*
Saat itu adalah saat-saat di mana kepercayaan ku kepada Salsa mulai berkurang seiring waktu. Aku yakin sekali, dia berbohong pada ku.
Sampai kejadian itu terpampang jelas di depan mata ku. Hari itu aku berniat untuk mengajak Salsa keluar dengan alasan ingin bermain bersama nya. Tapi tak ku sangka pemandangan yang selama ini ku pikirkan dan ku curigai terjadi begitu saja.
Aku berlari kembali ke rumah ku. Berteriak memanggil mama ku. "Ma... Tolong... Salsa sedang dipukul" kata ku sambil menarik tangan mama ku. Mama ku yang mendengar aduan ku langsung cepat keluar dari rumah. Dia berlari ke rumah Salsa. Saat mama ku melihat kejadian yang ku lihat, dia langsung melerai Salsa dan ibu nya. Aku langsung berlari ke arah salsa dan memeluk nya, sedangkan ibu nya Salsa, tubuh nya di tahan oleh mama ku.
Mama ku menyuruh ku dan salsa untuk keluar dari rumah. "Lia, kamu bawa Salsa ke rumah kita dulu" kata mama ku dengan suara yang tegas. Aku mengangguk, menuruti perintah dari nya. Aku membawa Salsa ke rumah ku, sedangkan ibu nya Salsa masih ditahan oleh mama ku. Saat di luar rumah Salsa, ada banyak sekali tetangga di luar, mereka juga mencoba menenang kan ibu nya Salsa.
Setiba nya kami di rumah ku. Aku meminta Salsa menjelaskan semua kejadian yang barusan ku lihat. Dia menjelaskan nya pada ku. "Lia, selama ini aku berbohong pada mu. Aku tidak tahu kenapa ibu ku sangat tidak senang dengan keberadaan ku. Selama ini, dia selalu memukuli ku dan kau lihat, luka sayatan ini. Ini semua adalah kelakuan nya. Aku tidak tau lagi. Apa yang harus aku lakukan. Aku takut. Aku takut Lia. Aku ingin bersamamu di sini saja ya boleh kah? "tanya nya.
"tentu saja boleh" kataku sambil memeluk nya. Di saat-saat seperti ini, Salsa sangat membutuhkan seseorang di sebelah nya. Dia membutuh kan sebuah kehangatan dari sebuah pelukan. Aku pernah bilang bukan, kalau aku ingin menjadi seperti sosok seorang ibu bagi nya dan di saat seperti ini. Aku akan menjadi seorang ibu bagi nya. Memberi nya kasih sayang dan memberi nya sebuah pelukan yang hangat.
Aku pernah berjanji pada diri ku sendiri. Kalau aku akan selalu memberikan Salsa pelukan yang hangat ketika dia membutuh kan aku. Maka aku akan ada di dekat nya. Aku akan selalu ada di sisinya. Aku akan selalu ada untuk nya. Aku akan tetap berdiri di samping nya. Aku akan jadi tiang penyangga untuk nya.
Hari itu, sungguh hari yang berat bagi ku dan Salsa. Terutama pada Salsa. Kami berdua tidak tahu apa yang mama ku dan tentang lakukan bersama ibu nya salsa. Tapi yang jelas, setelah mama ku pulang dari rumah nya Salsa bersama ibu nya salsa. Ibu nya Salsa langsung meminta maaf pada putri nya.
Entah apa yang mama ku dan tetangga lakukan, sehingga dia berubah. Langsung berbanding tiga ratus enam puluh derajat. Di rumah kami, hari itu, ibu nya salsa dan salsa berkeluh kesah. Mereka mengeluar kan semua kekesalan dan menyelesaikan semua masalah dengan baik-baik.
Aku dan mama ku tersenyum melihat mereka berdua kembali akur. Aku harap mereka akan akur selama nya dan yeahhh permintaan ku terkabul. Sampai sekarang keluarga Salsa sangat menyayangi nya. Aku jadi terharu.
Kembali ke masa sekarang.
"Tumben ya si Giska pulang di jemput oleh kakak nya, kalau aku mah mana, kakak ku mau kalau di minta jemput ke sekolah, tapi harus bayar" Kata Salsa.
"Dan bayaran nya siomay mang Aceng" Teriak ku dan Salsa bersamaan dan kami tiba-tiba terdiam, dan kemudian kami tertawa terbahak-bahak karena kebetulan yang tidak di sengaja tadi.
"Oh iya, Alex kemana? Dia tidak ikut dengan kita? Biasa nya dia selalu ngintilin kita" Kata ku sambil menahan tawa.
"Alex masih ada urusan sama kepsek" ucap salsa sambil tangan nya melambai lambai berusaha menghenti kan salah satu angkot.
"Lia, hari ini rumah ku kosong, kamu temenin aku ya di rumah" pinta Salsa sambil memasang muka memelas seperti anak kucing yang belum di kasih makan.
Aku tersenyum, dan kemudian merangkul punggung nya "iya! Yang jelas kita jalan aja, kek nya semua angkot penuh" Kata ku sambil menarik Salsa.
"Gak apa, sekalian kita diet " Kata ku sambil tertawa.
"Diet pala mu" Jawab Salsa.
Hari itu, aku dan Salsa pulang bersama jalan kaki smbil tertawa seperti orang gila.
*Sementara di sisi jalan yang lain.
"Kamu cantik kalau tersenyum seperti itu*".
*~*
Saat di perjalanan pulang ke rumah. Kami berdua melewati sekolah Akbar. Tiba-tiba, kaki ku terhenti sendiri dari langkah nya. Mata ku tiba-tiba memandang sekolah nya Akbar. Rasa nya, hati ku sakit, padahal hanya melewati sekolah ini. Dan tidak menemui Akbar sama sekali.
" Eh kamu, pacar nya Akbar " kata seseorang.
Saat aku berbalik, ternyata dia salah satu teman nya Akbar. Yaitu Stefano. "Hai Stefano" sapa ku dengan suara yang agak rendah.
"kamu ngapain di sini? Ah apa kamu mau menemui Akbar? " tanya nya pada ku.
"Nggak. Aku hanya lewat. Sekolah kami kan nggak terlalu jauh dari sekolah mu" kata ku.
"oh iya" kata nya sambil menepuk jidat nya.
"kalau begitu, kenapa kamu berhenti di depan gerbang sekolah kami? Mau di tumbur? " tanya nya sambil menunjuk mobil yang sudah siap keluar dari sekolah.
"eh nggak lah" kata ku kesal.
"Stefano!! ".
Gawat, ada Akbar, aku belum siap ketemu ya Allah. Lari aja deh.
" Eh Akbar, ada pacar mu di sini" teriak Stefano.
"mana? " tanya Akbar.
Saat Stefano berbalik, aku dan Salsa sudah tidak ada di dekat nya. Aku menarik Salsa pergi dari sekolah itu, dan sekarang, kita kok ngumpet?
" kenapa kita ngumpet? " tanya Salsa.
"aku nggak mau ketemu si akbar" kata ku masih menatap ke arah Akbar dan Stefano.
"kok nggak mau? Kamu kan pacar nya" kata Salsa.
*Pacar?!
Oh iya yah. Pacar palsu.