
"Aku merasa seperti agen rahasia, " Ulas Giska sambil mempraktikkan gerakan film action tentang agen rahasia.
"Dan sekarang. Kalian sudah siap untuk mencari kebenaran?, " Tanya ku setengah berteriak sambil menjulurkan tangan ku, mengajak tos.
"Siap!. "
Plokk (Suara tos) .
*~*
Malam nya, aku pergi latihan ke dojo tanpa ayah. Aku pergi bersama ojol dari rumah. Karena ayah sedang banyak pekerjaan di rumah, jadi dia tidak bisa menemani ku. Sedangkan Giska, masih ingin menginap di rumah Salsa. Sekalian menemani Salsa yang sendirian di rumah, karena besok orang tua nya baru pulang.
Aku duduk di dekat tas ku bersama dengan Luna. Luna duduk sambil memainkan handphone nya. Aku mengintip apa yang sedang ia lihat di handphone nya. "Apa yang sedang kau lihat?, " Tanya ku pada nya.
Dia memperlihatkan pada ku apa yang ia lihat, sambil berkata " Kemarin aku lupa gerakan ku. Jadi aku menonton ini dulu sebelum kita tampil. Hari ini kita kan latihan tampil. Mana lagi anak-anak akan melihat kita bermain, " Kesal nya.
"Iya ya, kita latihan tampil hari ini, " Ucap ku dengan nada yang terdengar sedih.
Ya. Aku sedih sekali. Aku juga merasa takut seperti yang Luna takut kan. Bagaimana kalau misal nya aku lupa dengan gerakan nya? Bagaimana setelah itu Akbar marah pada ku karena aku lupa gerakan ku?
Tappp.
Akbar menepuk lembut pundak ku dan dia duduk di sebelah ku. "Apa yang kau fikir kan?, " Tanya nya. Aku menggeleng kan kepala ku dengan pelan sambil berkata " Tidak ada, " Ucap ku.
"Yang benar? Tapi muka mu terlihat berkerut, " Ucap Akbar sambil mengkerut kan dahi nya.
Plakk.
Aku menepuk pundak Akbar dengan keras membuat nya batuk tersedak karena pada saat itu dia sedang meminum air. Aku tertawa ketika melihat nya yang tersedak batuk-batuk. Tiba-tiba, senpai botak menyuruh kami untuk berkumpul dan duduk bersama partner.
"Hooo, here we go. "
Aku dan Akbar duduk di dekat matras. Senpai botak memilih pasangan yang akan maju terlebih dahulu. Sedangkan aku dan Akbar, terpilih menjadi nomor 4. Dan nomor 3 adalah Luna dan pasangan nya.
"Lia. Bagaimana ini, bagaimana kalau aku lupa?, " Tanya Luna sambil menyenggol tangan ku dan terlihat wajah nya begitu pucat akibat kekhawatiran nya.
"Kalau kalian lupa, tetap lanjut kan gerakan. Jangan berhenti, " Ucap Akbar memotong pembicaraan ku yang baru saja ingin memberi tahu Luna.
Luna tersenyum dan mengangguk kan kepala nya. Kemudian giliran Luna tampil dan Akbar langsung menoleh ke arah ku membuat ku kaget karena wajah nya begitu dekat dengan wajah ku.
"Lakukan seperti yang kita lakukan, " Ucap nya sambil tersenyum.
Dan muncul lah giliran kami. Mula-mula semua berjalan dengan baik. Tapi Akbar, melupakan satu gerakan, dan membuat ku lupa semua gerakan. Masih mending dia nya, lupa satu, lah aku? Langsung semua astagfirullah. Karena dia lupa gerakan nya dan aku juga lupa, jadi kami berdua mentok di gerakan itu saja.
"Stop! Silakan kembali ke tempat!, " Teriak senpai botak.
Aku dan Akbar menghela nafas dan duduk kembali ke tempat. Akbar menoleh ke arah ku. "Lia. Lucu deh. Kita ngenasehatin orang bagaimana kalau mereka lupa, lah malah kita yang kelupaan, " Kata Akbar sambil terkekeh bersama ku.
"By the way, yang ngenasehatin kamu loh. Bukan aku. Aku nggak ikut-ikutan, " Kata ku sambil tersenyum bangga.
Aku dan Akbar memperhatikan orang-orang yang tampil dengan yeahh, performa yang cukup bagus dari pada gerakan ku. Aku melirik ke arah Akbar yang wajah nya lumayan terlihat sedih.
Tiba-tiba, bulu kuduk ku berdiri, merinding. Aku melihat ke arah senpai botak yang terus-terusan melihat ke arah ku dan Akbar. Pantas saja aku merasa merinding dari tadi.
"Merinding Lia?," Tanya Akbar berbisik.
"Iya," Jawab ku sambil mengangguk kan kepala ku.
Seusai semua orang tampil. Kami di minta untuk berbaris. Kami berkumpul dan tetap membicarakan perihal lomba. Aku hanya diam mendengar kan. Senpai botak menutup lebih awal latihan kali ini. Dia bilang dia ingin berbicara dengan ku.
"Lia. Kenapa kamu bisa lupa gerakan seperti ini? Perlombaan sebentar lagi, kenapa nggak kamu cantumin gerakan itu ke otak mu hah?," Tanya nya dengan nada suara yang tegas dengan tangan yang sedari tadi menunjuk ke arah otak nya.
"Lia. Kalau boleh jujur. Gerakan mu itu sungguh buruk. Jauh dari kata bagus. Sedangkan Akbar berbeda. Gerakan nya sudah melebihi kata bagus, jangan rusak citra Akbar dengan gerakan buruk mu, seharus nya kamu tidak berada dalam perlombaan ini. Hanya karena ayah mu seorang senpai, saya terpaksa mengajak mu, " Kata nya kesal.
"Haduhh. Perlombaan sudah dekat, tapi kamu main-main begini, " Kesal nya yang semakin menjadi-jadi.
"Tapi senpai. Aku tidak main-main. Aku serius melakukan ini, " Ulas ku tegas.
"Kalau kamu serius. Seharus nya kamu mikir dong. Ini perlombaan yang penting buat kita semua. Jangan rusak reputasi kita hanya dengan sikap mu dan gerakan buruk mu. "
"Dari awal kamu itu memang tidak sepatut nya berdiri di posisi yang sama seperti Akbar dan yang lain!. "
Senpai botak meninggalkan aku sendirian. Aku memejamkan mata ku, bersabar dengan perkataan kasar nya. Aku menghela nafas dan menahan tangis yang akan pecah.
Aku pergi ke kamar mandi membawa tas ku dan mengganti pakaian ku. Aku akui. Ini pertama kali nya aku ikut dalam lomba. Lain hal nya dengan Akbar. Dia sudah berapa kali ikut perlombaan, dan selalu saja keluar sebagai pemenang. Yaa, aku akui aku memang buruk.
Memang, sakit rasa nya jadi yang paling bawah. Setiap kali di lingkungan yang baru, eh bukan. Setiap kali berada di antara cibiran, kekangan, dan harapan, aku merasa yang paling bawah.
Tak ada pupuk yang bisa membuat ku berdiri. Tak ada air yang bisa membuat ku layu. Yang ada, hanya racun yang bisa menghancurkan ku. Tatapan, perkataan, dan tindakan mereka. Seakan sedang mencoba menendang ku keluar.
Apa aku tak pantas berdiri bersama kalian? Apa aku terlalu rendahan? Apa aku ini tidak berguna dan hanya menyusahkan? Jika ia, kalian tetap tidak pantas memperlakukan ku begitu. Aku merasa, kalau aku adalah sampah buangan. Yang siap di bakar menjadi abu.
*~*
Saat ini, kami sudah pulang dari latihan. Tapi aku, belum ingin pulang, karena aku masih memperhatikan Akbar dari kejauhan. Dia bercengkrama bersama teman-teman nya yang di sana. Sejenak, aku merasa seperti sedang diabaikan. Tapi kan, aku tak punya hak untuk meminta nya tetap bersama ku. Jangan naif Lia!.
Aku pergi ke luar dari dojo. Dan pergi ke belakang dojo. Di belakang dojo ini lah biasa nya aku bisa menenangkan diri. Lagian aku betah di belakang sini karena pohon nya menjulang sangat tinggi membuat udara begitu sejuk.
Sebenarnya, malam-malam begini aku tidak boleh ke belakang dojo. Karena di belakang dojo itu sepi sekali kalau malam. Karena itu ayah melarang ku duduk sendirian di belakang dojo, karena menurut nya berbahaya. Tapi mau bagaimana lagi. Aku lebih suka duduk sendirian di sini. (Mumpung tidak ada ayah :3).
Aku duduk di bawah rumput. Sambil melihat ke arah langit yang sudah banyak bintang. Aku merebahkan tubuh ku, membentuk tubuh seperti bintang laut. Aku menjulurkan tangan ku, seperti sedang mengajak tos dengan langit.
"Hufftt. Andai kau tahu bagaimana perasaan ku pada mu, mungkin tidak akan sesulit ini, " Kata ku sambil memejamkan mata.
"Siapa yang kau maksud?. "
Aku menyingkirkan tangan ku dari atas kepala ku, dan ku lihat kepala Akbar nongol di depan mata ku dan membuat ku terduduk dari rebahan. Karena aku kaget, aku bangun tidak dengan pelan. Namun dengan sangat tidak pelan, artinya cepat, sampai-sampai kepala ku mengenai kepala Akbar.
Jduakk.
"Aduh, kepala ku kejeduk, " Kata ku sambil memegangi kening ku yang sakit.
Aku menoleh ke arah Akbar yang terduduk sambil memegangi wajah nya. "E-eh, maaf ya. Maaf ya kak. Maaf sekali. Apa ada yang terluka?, " Tanya ku dan tanpa sadar memegang wajah nya.
Aku melihat darah mengucur dari hidung nya. Akbar melepaskan tangan ku dari wajah nya, dan berkata " Tidak apa. Tidak sakit kok, " Kata nya sambil menyeka mimisan nya. Aku menjauhkan tangan ku dari nya, dan tiba-tiba mood ku berubah. Tiba-tiba mood ku menjadi kesal sekali. Kenapa ya.
Aku melirik Akbar yang ikut-ikutan duduk bersama ku. Kemudian aku memalingkan pandangan ku dari nya, dan kembali menatap ke langit. Akbar merebahkan tubuh nya ke rumput, dan menyuruh ku untuk kembali rebahan. Aku juga ikut merebahkan tubuh ku kembali di samping nya.
"Lia. Boleh aku tanya satu hal pada mu?, " Tanya nya.
"Silakan. Tanyakan saja, " Ulas ku.
"Apa kau menyukai ku, " Tanya nya sambil menatap ku.
Deg
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__