My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 38 Show yourself



"Ibu. Apa ibu berniat menjodohkan mereka berdua?. "


"Kamu nggak perlu tahu. "


"Tapi ibu, gadis itu-. "


"Sudah diam. Ini demi kebaikan perusahaan kita. "


"Ibu. Apa ini mau memainkan perasaan anak itu?. "


"Sudah ibu bilang, ini bukan urusan mu. "


"Ibu. Dia manusia. Bukan boneka. Hargai perasaan nya. Bagaimana jika adik tidak menyukai anak itu? Dan bagaimana jika anak itu juga tidak menyukai adik? Mau jadi apa rumah tangga mereka?. "


"Mereka akan saling jatuh cinta!. "


*~*



"Ayah. Apa yang ayah bicarakan bersama orang tua kak Alvin tadi?, " Tanya ku penasaran.


"Ahh. Bukan hal yang penting sayang, " Ucap ayah sambil tersenyum kemudian menggertak kan gigi nya.


"Ada apa ayah? Kalau ayah tidak menyukai sesuatu, ayah akan menggertakkan gigi. Ada apa ayah?, " Tanya ku lagi khawatir.


Flashback on.


"Bagaimana? Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?. "


"Aku tidak tahu. Lebih baik kita diskusikan ini bersama istri ku dan anak-anak kita. "


"Untuk apa bersama anak-anak? Istri mu saja sudah cukup. "


"Maaf. Pernikahan bukan lah main-main. Ini demi masa depan putri ku dan putra mu. "


"Aku tahu. Aku juga sudah menikah. "


"Kalau kamu tahu. Kenapa masih bersikeras untuk tidak mendiskusikan ini bersama anak-anak?. "


"Mereka tidak mengerti apa-apa. Jadi biarkan para orang tua mengurus nya. "


"Tidak bisa. Bagaimana kalau anak mu tidak mencintai putri ku? Dan bagaimana kalau anak ku juga tidak mencintai putra mu? Mau jadi apa pernikahan mereka?. "


"Tenang saja. Semua sudah ku atur. "


"Tidak bisa. Ini menyangkut masa depan putri ku. Aku akan berdiskusi ini dengan istri ku terlebih dahulu. Setelah dia kembali, kita bertemu di sini lagi. "


"Kalau begitu. Secepatnya suruh istri mu untuk pulang. "


"Akan saya usahakan! Permisi!. "


Flashback off.


"Ada apa ayah?, " Tanya ku sekali lagi.


"Sudahlah. Anak kecil gak boleh tahu, " Ledek ayah sambil mengacak-acak rambut ku.


"Ikh jangan! Jangan acak-acak rambut ku!, " Kesal ku sambil menghempaskan tangan ayah ku.


"Ayah. Kau tahu kan, kalau kau tak bisa berbohong dari ku. Jika kau berbohong, maka telinga mu akan memerah. Apa ayah? Apa yang kamu sembunyikan dari ku? Beritahu aku, " Kata ku sambil menatap nya dengan penuh harap.


Ayah menatap ku sekilas dan kemudian melihat lurus ke depan lagi. "Nanti ya. Nanti akan ayah cerita kan. Tapi sekarang belum saat nya, " Ucap ayah sambil tersenyum manis pada ku.


Aku hanya menatap nya dengan wajah yang kecewa. Ayah melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh, entah apa yang saat ini dia fikir kan. Yang jelas, dia terlihat seperti sedang menahan amarah nya. Ayah, ada apa?


"Herbras atau Gerbera Daisy, mencerminkan kecantikan, kepolosan dan kemurnian. Ku rasa itu bukan aku, " Ujar ku sambil melepaskan bunga yang masih terpasang di telinga ku dan kemudian meremukkan bunga itu.


*~*


Sore ini, aku harus kembali ke dojo lagi tanpa ayah. Seperti biasa latihan kembali. Sebelum pergi ke sana, aku sudah beberapa kali latihan di dalam kamar ku sendirian. Dan sesekali bertanya kepada ayah ku bagaimana cara untuk melakukan gerakan nya dengan bagus. Aku berharap, kali ini, aku tidak akan melupakan gerakan kembali.


Sebenarnya, aku sangat tidak ingin ke sana. Mengingat perkataan buruk senpai botak itu, dan juga mengingat perkataan Akbar yang seakan ia menolak pernyataan cinta ku. Padahal, aku sendiri belum pernah mengutarakan isi hati ku. Apa dia peramal?


Aku memesan ojek online, dan langsung pergi dari rumah membawa semua peralatan yang akan ku gunakan di sana. Di perjalanan, otak ku terus-menerus mencoba menghafal setiap gerakan dengan rinci. Tidak akan ada yang luput dari ku kali ini.


1 jam kemudian;


Aku sampai di dojo lebih awal, aku tidak langsung masuk ke sana. Aku pergi ke rumah Luna yang berjarak sangat dekat dari dojo ku. Aku mampir ke rumah nya, berharap sebentar saja menenangkan fikiran ku. Agar aku tegar menghadapi cobaan di masa yang akan datang nanti.


Tok tok tok.


"Luna!, " Panggil ku sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah nya.


Krieet.


"Eh Lia. Kok kamu sudah datang sih? Kan masih lama kita latihan, " Jawab Luna sambil membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.


"Aku lagi rajin nih, " Ucap ku sambil tersenyum.


"Sebentar ya, aku ambilkan minum, " Ucap nya.


"Tidak. Tidak perlu. Jangan repot-repot, " Ujar ku khawatir.


Luna tak mendengarkan permintaan ku. Dia masih mengambil kan aku segelas air. Dia kembali, dengan segelas es sirup di tangan nya. Ia duduk sambil meletakkan segelas sirup itu ke meja, dan menyuruh ku untuk meminum nya.


"Terima kasih, " Ujar ku sambil meminum sirup itu.


"Ada apa Lia?, " Tanya Luna sambil tersenyum polos.


"Apa kau masih memikirkan latihan kemarin?, " Tanya Luna lagi.


Aku hanya mengangguk kan kepala ku pelan sambil menundukkan kepala ku. Luna berdiri, dan menarik tangan ku. Membawa ku pergi ke taman belakang rumah nya. "Ayo, kita latihan. Kita beda gerakan, tapi aku tahu gerakan mu, " Ucap Luna dengan menyiapkan kuda-kuda nya.


"Apa kau bisa?, " Tanya ku khawatir.


"Tentu saja. Ayo kita lakukan, " Ajak nya.


Luna mengajak ku untuk latihan terlebih dahulu. Dia benar, dia tahu gerakan ku, dan dia mengajar kan nya kembali pada ku. Dan aku sudah mulai memahami semua itu dengan cepat. "Sudah bisa kan? Ayo kita peragakan, " Ucap Luna.


Aku memperagakan nya bersama Luna. Dia dengan sabar mengajari ku yang cepat lupa ini. "Lia. Kalau kau lupa gerakan. Ingat ketukan suara teriakan kita di setiap gerakan. Aaa aaa hiyahhh. Aaa aaa hiyahhh. Begitu kan? Kalau teriakkan kita pendek, arti nya gerakan kita harus lebih cepat dan langsung bergantian dengan gerakan lain nya. Jika hiyahhh, gerakan kita harus di beri jeda agak lambat. "


"Iya, aku mengerti, " Jawab ku sambil mengangguk kan kepala ku.


Luna langsung pergi ke kamar mandi, membasuh diri nya. Aku berganti pakaian ku dengan seragam Kempo ku, dan memasukkan pakaian yang ku kenakan tadi ke dalam tas. "Sudah? Ayo pergi, " Ucap Luna sambil mengajak ku pergi ke dojo.


Aku sengaja memperlambat langkah kaki ku. Aku tak mau sampai di sana dengan cepat. Aku masih butuh menghibur diri untuk melupakan perkataan senpai botak kemarin. Luna yang menyadari aku masih berada jauh tepat di belakang nya, menghentikan langkah kaki nya menunggu ku.


"Ada apa sih lia?, " Tanya Luna bingung.


"Aku lagi malas ke dojo nih, " Kata ku malas.


"Kenapa?, " Tanya Luna heran.


Aku menceritakan semua kejadian kemarin. Perkataan senpai botak dan juga perkataan Akbar. Luna diam mendengar kan seksama cerita ku, namun kami masih tetap melangkah kan kaki kami berdua. "Lia. Dengar ya. Kamu itu bukan Akbar! Kamu itu Lia. Ya nggak bisa lah mau di samain sama Akbar semua. Kamu bukan Akbar, kamu Lia. Nasalia yang ngeselin nya minta ampun. Jadi lah diri mu sendiri Lia. Show yourself, don't let the fear inside you. (Tunjukkan diri mu. Jangan biarkan ketakutan di dalam kamu). "


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__