My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 11 The Truth Untold (1)



"Yang jelas, aku ingin memberi tahu mu, kamu berhak untuk bahagia. Terkadang, cinta membutuhkan sebuah pengorbanan, dan tinggal diri mu sendiri yang memilih, mengorbankan kebahagian mu demi orang lain, dan menjadi orang yang paling tersakiti" Kata Salsa sambil menggenggam erat tangan kanan ku.


"Atau orang yang egois dan mendapat kan sebuah kebahagiaan" Lanjut Salsa.


*~*


Aku bingung. Aku semakin bingung untuk memutus kan sesuatu. Salsa, dia memberikan ku sebuah pilihan. Dia menyuruh ku memilih kebahagiaan orang lain atau memilih kebagian diri ku sendiri. Aku tidak menyalah kan nya saran dari nya atau pilihan yang ia berikan pada ku.


Dia benar aku memang berhak untuk bahagia hanya saja aku terlalu naif. Aku terlalu memikir kan orang lain, sampai-sampai aku lupa. Kalau diri ku juga punya waktu untuk berbahagia dan bersedih. Dan menurut Salsa ini adalah saat ku untuk bahagia, tapi bagi ku ini adalah saat ku untuk bersedih.


Aku tak bisa memilih kebahagiaan ku dan menjadi seseorang yang sangat egois. Ironis bukan?! Aku tahu. Aku terlalu naif. Kalau saja aku tidak menyukai laki-laki sang sama dengan laki-laki yang disukai Luna. Aku tidak akan bimbang seperti ini. Salsa, dia juga hanya memikir kan kebahagiaan ku. Bukan salah nya. Salahkan aku saja, karena semua masalah ini berawal dari ku.


*~*


Aku ke dapur menemui Salsa yang sedang memasak nasi goreng untuk makan siang kami. Wajahnya terlihat sangat bingung seperti ku, entah apa yang dipikir kan nya. Aku membantu nya memotong sayuran dan dia masih sibuk dengan nasi goreng yang ada di wajan.


"Lia bagaimana pilihan yang ku berikan tadi? Yang mana yang akan kamupilih?" Tanya Salsa tiba-tiba yang mana membuat ku menghentikan aktivitas ku.


Aku menatap ke arah nya dan melanjutkan aktivitas ku. "Aku tidak tahu Salsa. Salsa, aku pernah bilang pada mu kan. Kalau aku akan mengorban kan kebahagiaan ku demi kebahagiaan keluarga ku? Kalau begitu aku lebih memilih kebahagiaan Luna yang sudah ku anggap seperti keluarga ku" Kata ku.


Salsa terdiam dengan perkataan, kemudian dia tersenyum "kamu siap menjadi orang yang selalu tersakiti? "Tanya Salsa.


Aku tersenyum kemudian menjawab "tidak. Aku tidak siap".


"kalau kamu tidak siap kenapa kamu memilih pilihan yang pertama, kenapa tidak memilih pilihan yang kedua? "Tanya Salsa sambil tersenyum.


" Aku tidak tahu. Aku hanya merasa ini adalah pilihan yang tepat. Aku tidak merasa kalau pilihan yang kedua adalah sebuah pilihan yang tepat" Kata ku.


"Lia, aku mengenal mu dari kecil. Aku tahu kamu adalah orang yang keras kepala, tapi tolong jangan seperti ini. Tolong jangan egois terhadap diri mu sendiri, jangan memikir kan perasaan orang lain, sekali saja, fikirkan kebahagiaan mu" kata Salsa.


Aku tersenyum kemudian berkata " Kau benar. Seharusnya, aku juga memikirkan kebahagiaan ku. Tapi saat ini, aku tidak bisa melakukan nya. Aku merasa ada rantai yang menjerat ku untuk tidak melakukan itu. Kau kan tahu, aku adalah orang yang introvert, aku sulit mendapatkan teman yang benar-benar mencintai ku" Kata ku pada Salsa.


Salsa mengangguk kan kepala nya pertanda ia setuju dengan perkataan ku. "Baiklah kalau itu adalah pilihan mu. Tapi ku ingat kan, sesuatu yang sudah kamu pilih, itu artinya kamu sudah siap mendapat kan konsekuensi nya" ucap Salsa.


Aku mengangguk dengan penuh percaya diri. Seusai masak, Salsa menyiapkan makanan itu di atas meja. Kami duduk makan berdua. Aku diam saja dari tadi. Tidak ada perkataan yang tercetus keluar dari mulut ku.


"Lia aku ingin jujur. Aku juga berada di tempat yang sama dengan mu. Aku merasakan yang nama nya menyukai seseorang tetapi orang yang ku sukai menyukai sahabat ku" kata Salsa yang mana membuat ku terkejut.


"Aku bingung. Aku harus memilih siapa? Sahabat ku atau orang yang ku suka" tanya salsa kepada ku.


"maksud mu? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan" Kata ku.


Salsa tersenyum sambil berkata "aku menyukai Alex ".


Aku terkejut dengan pernyataan yang dibuat Salsa barusan. " A... Apa? Kamu menyukai Alex?" Tanya ku tak percaya. Dia mengangguk membenarkan semua pertanyaan yang ada di kepala ku. "Terus Alex menyukai seseorang?" tanya ku lagi. Salsa mengamgguk kan kepala nya tanpa suara. "Siapa dia? " tanya ku.


"Kamu" jawab Salsa tepat, padat dan jelas yang mana berhasil membuat ku tersedak makanan ku.


"Uhukuhukuhuk, apa kenapa dia menyukai aku? "kata ku yang masih tidak percaya.


Salsa menjawab "aku tidak tahu. Sudah ku katakan tadi, cinta tidak membutuh kan sebuah alasan, tapi cinta membutuh kan sebuah pengorbanan. Selama ini, aku tidak pernah tahu, kalau aku akan menyukai Alex, yang aku tahu dia hanya menyukai mu. Setiap saat Alex selalu membicarakan mu di depan ku. Dia juga bertanya, apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu sukai".


"Lalu, apa kamu memberi tahu semua itu? " tanya ku.


Aku terus mencerna perkataan nya, tapi, aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud dari perkataan nya. "Sepertinya kamu tidak mengerti perkataan ku" Ucap Salsa. Aku mengangguk dengan wajah yang sudah mulai memerah seperti kepiting rebus karena malu.


"Aku ingin mengatakan. Aku sudah menjadi orang yang egois yang mementingkan kebahagiaan ku. Dia, Alex bertanya pada ku apa yang kamu sukai apa yang tidak kamu suka. Sedangkan aku? Aku tidak menjawab semua pertanyaan nya. Karena apa? Karena aku egois. Aku tidak ingin dia mengetahui nya. Aku hanya ingin dia mengetahui segala tentang ku, bukan tentang mu" Kata Salsa.


"jadi inti dari semua perkataan ku. Aku egois. Aku hanya memikir kan diri ku sendiri dan tidak memikir kan kebahagiaan orang lain. Tapi sekarang aku menyerah. Aku menyerah. Aku sudah tidak mengharapkan Alex lagi. Aku ingin dia bahagia, dan aku juga tetap senang bisa setiap saat bertemu dengan nya, yeahhh walau dia selalu membicarakan tentang mu. Tapi setidak nya, aku masih punya alasan untuk berdiri di samping nya" kata Salsa sambil melanjut kan makan siang nya.


Sekarang aku mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan Salsa. Dia hanya ingin memberitahu ku, kalau ada saat nya aku egois dan ada saat nya aku memikirkan orang lain. "Lalu aku harus apa? Egois? Atau aku tetap dengan pendirian ku yang kupilih? "tanya ku pada Salsa.


Salsa tidak menjawab dia hanya mengangkat kedua bahu nya. "Yang jelas Lia, ini semua adalah pilihan mu. Aku akan selalu mendukung keputusan mu. Oh iya jangan kau pikirkan dan jangan merasa bersalah karena Alex menyukai mu dan bukan menyukai ku" Kata Salsa.


Malam nya, aku tidak bisa tidur. Sebelum pulang ke rumah Salsa berkata "Lia. Coba kamu jujur ke Luna. Siapa tahu, dia akan mengerti perasaan mu, dan dia akan mundur. Dan semua nya mungkin akan berjalan mulus".


Seperti itu yang dia katakan. Ha-hh aku masih memikir kan pilihan yang diberi kan oleh Salsa pada ku dan juga aku masih memikir kan perkataan Salsa tadi. Aku kaget alex menyukai orang seperti ku, tapi aku merasa bersalah, karena Alex mencintai aku bukan nya menyukai Salsa yang juga menyukai nya.


*~*


Hari ini adalah hari Minggu. Aku dan ayah datang pagi-pagi sekali ke tempat latihan. Aku tertidur di dalam mobil. Karena semalam aku tidak bisa tidur. Sesampainya dia tempat latihan. Aku melihat sudah ada Luna dan Akbar. Rasa nya sakit melihat mereka berdua.


"Pagi!! " Sapa Luna.


"Pagi" Jawab ku.


Akbar tidak menggubris kami berdua. Setelah ayah membuka pintu dojo (dojo\=sebutan tempat latihannya). Aku dan Luna langsung berlari ke kamar mandi.


"Huammm. Ngantuk" Kata Luna.


Aku masih berdiam diri. Dan aku mencoba mengeluar kan suara ku dari mulut ku. "Luna. Boleh aku tanya satu hal. Aku ingin tanya. Misalnya, kamu menyukai laki-laki, dan ternyata teman mu juga menyukai nya. Apa reaksi mu? " Tanya ku pada Luna.


"Aku tidak tahu. Karena selama ini, aku tidak pernah mendengar kalau teman ku juga menyukai orang yang sama" Kata Luna.


"Memang nya ada apa? " Tanya nya pada ku.


"A.. Aku ingin jujur, tapi aku ingin minta maaf terlebih dahulu" Kata ku pada Luna.


"Maaf? Kenapa? Aku tidak merasa kalau kamu punya salah pada ku" Kata Luna.


"Kau pernah bilang. Kalau kau menyukai Akbar. Dan a.. Aku" Kata ku terpotong-potong karena gugup.


"Apa? " Tanya Luna sambil menatap ku agak sinis.


"Aku juga menyukai Akbar! " Teriak ku.


Aku menunduk kan kepala ku. Alih-alih mata ku mencuri pandang ke arah Luna. Luna diam saja sambil kepala nya juga agak menunduk. Kenapa dia diam saja? Apa dia marah. Bagaimana ini?


"Hah? Apa-apaan ini... Lucu sekali...!"


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__ Di ig nya author banyak quotes penyemangat. Siapa tahu kalian suka.