
Alex poV.
Handphone nya? Apa ini? Buku diary? Atau bukan? Sudah lah, bukan urusan ku, ini privasi nya. Tiba-tiba, aku merasa kan ada getaran berasal dari handphone Lia, dan saat ku lihat. Dia mendapat kan sebuah notif pesan dari seseorang.
"Siapa? Laki-laki kah? ".
Dan notif pesan itu ada dua, dan ku lihat di sana tertulis. " Jangan lupa hari ini, akan aku tunggu".
Siapa? Pacar nya?
Alex poV end.
"Ada apa Sa? " Tanya ku pada Salsa yang masih memegang handphone nya.
"Apa bisa kamu menemani Alex sebentar? Aku mau ke supermarket sebentar" Kata nya pada ku.
"Nggak mau. Aku saja ke supermarket, kamu temani Alex di sini" Kata ku mengajukan usul karena aku tidak mau mengganggu mereka berdua.
"Eh tapi, aku nggak mau merepot kan mu" Kata Salsa khawatir.
"Tidak apa, kamu tidak merepot kan ku. Aku juga mau beli susu Milko" Kata ku.
"Ahh, ya sudah kalau kamu memaksa. Aku catat dulu ya" Kata nya sambil mencatat semua yang akan ku beli nanti.
Dia memberi kan ku secarik kertas berisi apa yang akan ku beli, dia menyuruh ku untuk membawa motor nya saja ke supermarket. Aku menjawab tidak, aku ingin berjalan saja.
"Ya sudah, Hati-hati ya".
Sebenarnya, supermarket nya itu lumayan jauh. Lebih cepat menggunakan motor, tapi aku tidak mau mengganggu Salsa dan Alex. Jadi aku, merelakan kaki ku untuk berjalan saja. Agar aku bisa lama-lama meninggalkan mereka berdua. Hitung-hitung olahraga, hehe.
Tunggu dulu. Rasa nya. Ada yang tertinggal. Tapi apa ya?
Alex poV.
Lia sedang pergi ke supermarket. Dan Salsa, masih ada di belakang. Aku penasaran. Siapa laki-laki bernama Akbar itu. Dan juga, buku ini. Buku diary nya kan? Apa boleh ku buka? Aku penasaran.
Maaf kan aku Lia.
Ku buka buku itu, dan ku baca isi nya. Semua buku itu hanya berisi curahan hati yang berbentuk puisi. Tapi ada yang membuat ku tertarik. Tulisan nya, yang baru saja dia buat kemarin. Ku baca dengan cepat, dan ku lihat puisi itu secara seksama. Dan aku menemukan puisi yang menurut ku mengejut kan untuk ku.
Yang bertulis...
***Dear diary, 230320
Saat ini, aku sedang jatuh cinta
Dia laki-laki yang sudah lama ku perhatikan
Menurut ku dia anak yang baik
Walau dulu, aku begitu membenci nya
Karena sikap tak sopan nya pada ku
Tapi, Lama-lama.
Aku mulai terbiasa dengan sikap nya.
Dan bodoh nya, perasaan cinta yang tak pernah ku rasakan selama hidup ku
Tumbuh begitu saja, dan membiarkan aku mengukir nama laki-laki itu di hati ku
Apa ini yang nama nya karma?.
Kebencian yang tertimbun di dalam hati ku
Tapi berbunga cinta yang sebenarnya.
-Lia***-.
Tiba-tiba, ada selembar foto keluar dari dalam buku itu. Ku lihat, foto itu, adalah diri nya bersama laki-laki lain. Laki-laki, yang sudah dua kali ku lihat. Di sekolah SMA itu, dan juga di Mall waktu itu.
"Siapa? Siapa yang dia sukai? Siapa? Siapa? Apa Akbar? Apa Akbar yang ada di handphone nya ini? Tidak bisa. Lia adalah milik ku".
" Aku akan mengambil nya dari mu. Tidak akan ku biarkan kau memiliki nya. Dia milik ku".
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki Salsa menuju ke sini. Cepat-cepat aku menutup buku itu kembali dan meletak kan nya kembali di tempat semula.
"Siapa pun kamu? Aku tidak akan kalah dari mu! ".
Alex poV end.
Salsa poV.
Saat aku ingin memanggil Alex, aku mengintip terlebih dahulu, sebelum memanggil nya. Ku lihat, dia sedang membaca buku harian Lia. Apa yang dia lakukan? Kenapa dia membaca buku harian nya Lia? Itu privasi.
Saat aku menghentak kan kaki ku seperti akan pergi ke arah nya, dia langsung cepat-cepat menutup buku itu. Dan meletak kan nya kembali. Ada yang aneh. Apa yang dia rencana kan?
"Uhm tidak ada" Kata nya sambil memalingkan pandangan mata nya dari ku.
Dia tidak menoleh ke arah ku, melainkan mata nya menoleh ke arah buku harian nya Lia. Apa yang kau baca Alex? Itu tidak baik mengganggu privasi orang lain.
"Apa kau membaca buku harian nya Lia? " Tanya ku sambil menyentuh buku harian nya Lia.
Dia terkejut. Menunjuk kan reaksi yang benar-benar ingin ku lihat. Yang mana, dapat mempertegas tuduhan ku pada nya.
"Apa yang kau baca? " Tanya ku lagi sambil duduk di hadapan nya.
"Tidak ada" Jawab nya sambil menatap datar ke arah ku.
"Yang benar? Aku tadi melihat mu membaca nya. Apa yang kau baca? " Tanya ku sekali lagi sambil menatap sinis ke arah nya.
Tiba-tiba dia mencengkram tangan ku dengan sangat kuat. Membuat ku berdesis kesakitan. "Tutup mulut mu. Aku sama sekali tidak membaca nya" Kata nya yang masih mencoba membohongi ku.
Dia semakin menguat kan cengkraman tangan nya pada ku. Aku tersenyum kemudian berkata "Cengkraman anak basket memang kuat ya. Tapi sayang, masih ada celah untuk ku keluar". Aku memutar pergelangan tangan ku dan mengunci pergerakan tangan nya.
" Hey! ".
" Aku tahu, selama ini kamu menyukai Lia. Tapi cara mu salah" Kata ku sembari menguat kan kuncian ku pada nya.
"Kau tahu aku menyukai nya. Kalau begitu mundur lah. Aku tidak menyukai mu! " Kata nya dengan suara yang meninggi.
Aku kaget dengan perkataan nya yang langsung menusuk hati ku. Rasa nya, ada sebuah pisau yang sangat lancip menusuk hati ku. Sakit! Sangat sakit!
Tiba-tiba, aku ingin menangis. Berteriak sekencang-kencang nya. Dan memukuli dinding. Aku tidak sadar kalau kuncian tangan ku sudah agak renggang. Alex dengan mudah mengunci balik pergerakan ku.
"Hey lepaskan! ".
" Kamu pikir aku tidak tahu Salsa. Kalau kamu menyukai ku? Aku tahu! Aku tahu semua nya. Selama ini, kau terus-menerus memandangi ku. Aku pertegas sekarang, aku tidak menyukai mu sama sekali! ". Dia mengunci ku mendekat ke arah badan nya. Aku tidak bisa bergerak. Hanya salah satu tangan ku yang bisa ku gerak kan.
Saat aku ingin menyerang nya ke ulu hati nya, tangan nya langsung menggenggam tangan ku. Mencengkram nya dengan sangat kuat. Membuat ku benar-benar tidak bisa bergerak untuk melawan. Tenaga nya lebih kuat dari ku.
" Kau pikir aku tidak tahu teknik murahan mu ini? Dasar murahan! " .
Dia melepas kan kuncian nya dari ku. Membuat ku terjatuh ke lantai. "Kalau aku boleh jujur. Lia lebih baik dari pada kamu, dia pemberani, tidak seperti mu, murahan yang tidak ada harga diri nya! Aku berteman dengan mu hanya karena kau teman nya Lia juga. Jika kau bukan teman Lia, aku tidak akan berteman dengan mu".
Dia memberes kan semua buku-buku nya, dan pergi dari rumah ku. Aku menahan tangis ku, yang sudah ada di ujung mata. " Kau tahu kalau Lia menyukai orang lain! Kau juga harus mundur! " Teriak ku pada Alex yang berada di depan pintu rumah ku.
"Tidak akan! "Teriak nya tak kalah tinggi dari ku.
Dia pergi dari rumah ku. Membanting pintu rumah ku. Dan... Meninggalkan aku di bawah lantai sendirian. " Aku juga tidak akan mundur Alex ". Aku merapat kan kedua kaki ku ke dada ku dan aku mulai menangis memeluk kaki ku. Mengingat semua perkataan nya, yang membuat ku merasa sedih.
Apa hak nya menyebut ku murahan? Apa hak nya menyebut Lia sebagai milik nya. Lia bukan barang yang bisa di pinjam, dan di kembali kan begitu saja. Dia manusia. Dia sahabat ku. Tidak akan ku biarkan kau menyakiti nya sedikit saja.
"pada akhirnya, kamu menganggap ku sebagai teman nya Lia. Bukan sebagai seorang Salsa".
Salsa poV end.
Seusai dari supermarket, aku mampir ke potokopi, membeli beberapa alat tulis yang sudah habis di rumah. Aku juga membeli kan Salsa sebuah pena berkarakter lucu.
Aku langsung pulang ke rumah Salsa. Dan saat aku sudah sampai di rumah Salsa. Aku melihat Salsa duduk di lantai, sambil memeluk kaki nya. Alex tidak ada di rumah? Apa dia sudah pulang?
"Salsa? " Panggil ku lembut.
Salsa menoleh ke arah ku. Betapa terkejut nya aku, melihat Salsa menangis. "Ke-kenapa kamu menangis? " Tanya ku mulai khawatir pada nya.
Salsa bukan nya menjawab pertanyaan ku. Dia malah tambah menangis, air mata nya keluar dengan sangat deras. Saat ini, aku tidak bisa meminta nya mencerita kan apa yang baru saja terjadi pada nya. Aku hanya bisa memeluk nya, dan ketika dia tenang, aku akan menanyakan nya lagi.
*~*
"Bagaimana? Sudah tenang? " Tanya ku.
Dia mengangguk sambil meminum coklat panas yang baru saja ku buat. "Maaf ya, aku nangis" Kata nya pada ku.
"Tidak apa. Apa yang terjadi? " Tanya ku pada Salsa.
"Ah, aku menangis karena keluarga ku pergi ke luar kota. Tidak mengajak ku sama sekali. Mereka bilang, aku sebentar lagi akan ujian, jadi aku lebih baik di rumah saja. Aku sedih deh" Kata nya sambil tersenyum dengan wajah yang masih sembab.
"Iya ya. Kita kan sebentar lagi ujian. Duhh, ujian teross. Aku belum siap tahu?!" Kata ku.
"Kamu nginap ya di rumah ku nanti" Ajak nya.
"Oke siap! Aku akan bawa camilan" Kata ku.
"Syukurlah, dia percaya. Maaf lia, aku berbohong pada mu"*Dalam hati Salsa.
Aku pulang ke rumah. Mengambil beberapa pakaian, camilan, dan charger. Saat aku ingin keluar dari kamar ku. Aku melihat ke arah boneka pengantin itu.
" Malam ini, kita nggak tidur berdua ya. Aku mau nemenin Salsa, dah boneka " Kata ku sambil memeluk boneka itu, dan kemudian, aku pergi ke rumah Salsa, setelah berpamitan dengan kedua orang tua ku.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__