
"Kamu tahu bunga itu?, " Tanya nya sambil mendekat ke arah ku.
"Tentu saja aku tahu bunga itu, " Jawab ku.
"Apa kamu tahu arti dari bunga ini?, " Tanya nya sambil memetik salah satu bunga itu.
"Tidak tahu, " Ucap ku menggeleng kan kepala ku.
"Bunga ini. Bunga Herbras atau Gerbera Daisy, bunga ini di kenal karena melambangkan akan kecantikan, kepolosan dan kemurnian, " Ucap nya sambil meletakkan bunga yang ia cabut tadi ke telinga ku.
*~*
"Apa kau seorang ahli botani?, " Tanya ku karena aku merasa di sangat pintar dalam tumbuh-tumbuhan.
"Aww. I see. Kamu pasti mengira kalau aku seorang ahli botani karena ada banyak sekali bunga di sini, ya kan?, " Tanya nya sambil tertawa kecil.
"Yeahhh. Bagaimana kamu bisa tahu?, " Tanya ku.
"Yeahh karena aku seorang peramal. "
"Hah?. "
"Pfftt. Just kidding, so serious. (Hanya bercanda, serius sekali), " Kata nya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku bercanda. Aku hanya seorang pebisnis. Istri ku yang seorang ahli botani, " Ucap nya.
"Kamu sudah menikah?, " Tanya ku tak percaya.
"Tentu saja aku sudah menikah. Tapi belum punya anak sih, " Jawab nya sambil tertawa.
"Apa karena istri kakak seorang ahli botani. Cafe ini bernuansa seperti taman?," Tanya ku penasaran.
"Iya, karena itu cafe ini bernuansa seperti taman. Banyak sekali tanaman, " Ucap nya menjelaskan.
"Tapi menurut ku itu bagus sekali. Banyak orang yang berdatangan karena penasaran dengan tempat ini. Mana makanan nya enak semua lagi, " Ucap ku cemberut.
"Kalau menurut kamu tempat indah. Kamu promosiin ya. Semisal ke teman-teman kamu gitu, " Ucap nya sambil tertawa kecil.
"Tentu saja. Akan ku bawa teman-teman ku kesini. "
"Bagus. Kalau begitu, ayo kita ke dapur, " Ujar nya sambil berjalan mendahului ku.
Aku berlari menyusul nya. Dan membuat langkah kaki ku berjalan sejajar dengan nya. "Uhm, ngomong-ngomong. Aku harus memanggil mu apa? Bapak?, " Tanya ku serius.
"Heyy. Aku belum tua loh di panggil bapak. Panggil kakak saja, " Ucap nya sambil tersenyum.
Aku mengangguk kan kepala ku pertanda mengerti. Ia mempercepat langkah kaki nya menelusuri anak tangga yang menuju ke bawah tanah, seperti nya. Cklekk. "Selamat datang di dapur yang super duper sibuk. " Dia membuka pintu bertulis " Do not entry" Dan memperlihatkan jelas semua isi di dalam nya.
Kini di hadapan ku, ada banyak sekali pekerja yang sedang bekerja. Mereka memasak dengan super duper cepat. Saking cepat nya, aku merasa melihat banyak ninja berlalu-lalang. "Uahhh. Mereka sibuk sekali, " Jawab ku terkesima.
"Ayoo. Ku tunjukkan bagaimana cara nya membuat cupcake, " Ajak nya sambil membawa ku ke tempat yang penuh sekali tepung.
" Apa saja bahan nya?, " Tanya ku antusias.
"Uhm. Kali ini, saya mau buat cupcake Black Forest. Bahan-bahan kue nya, 4 butir telur, 100 gram gula pasir, 100 gram tepung terigu, 1/2 sendok teh baking powder, 1/2 sendok makan emulsifier (sp/tbm), 30 gram cokelat bubuk, 30 gram minyak goreng, 50 ml susu cair, 1/2 sendok teh garam, dan 1/2 sendok teh cokelat pasta. "
Aku cepat-cepat mengambil semua bahan yang ia sebutkan dari lemari. Mengumpulkan semua bahan dengan cepat. Hari ini, aku akan berubah menjadi ninja. "Oke. Semua sudah siap. Apa lagi?, " Tanya ku.
"Bahan isian nya 75 gram selai dark cheery. Dan bahan hiasan, 100 gram cokelat masak pekat serut, dan 100 gram buttercream. "
"Oke. Semua nya sudah siap. Tinggal di buat, " Ucap ku semangat.
Dia menunjukkan ku cara nya membuat cupcake dan kemudian menyuruh ku untuk melakukan nya. Pertama-tama, agak sulit. Namun lama-lama mulai terbiasa. Setelah selesai, kami menunggu cupcake itu matang, dan kemudian di hias.
"Wahhh. Sudah jadi tuh, " Ucap nya bangga.
"Wahh. Aku bisa masak, " Kata ku tak percaya.
"Silakan di nikmati hasil karya mu. "
"Bagaimana enak?, " Tanya nya.
"Iya. Enak sekali, " Jawab ku senang.
Aku memakan cupcake hasil jerih payah ku sendiri. Rasa nya enak sekali. Dia mengajak ku untuk kembali ke tempat yang banyak bunga nya tadi. Aku di suruh nya untuk duduk menunggu di ayunan, sedangkan dia menelpon seseorang.
Tiba-tiba, ada seorang wanita berjalan mendekat ke arah kami berdua. Dengan pakaian yang sopan, rambut kuncir kuda, sepatu boots warna coklat, dengan pakaian berwarna merah dan celana jeans biru muda. Dia berlari dan langsung mendekap kak Alvin dari belakang, dan langsung membuat ku bisa menebak siapa itu. Yang tak lain itu pasti adalah istri nya.
"Kamu sudah datang?, " Tanya kak Alvin sambil membalik kan tubuh nya dan membalas pelukan istri nya.
"Sudah. Baru saja sampai. "
"Ahh. Kalau begitu, kenalkan. Ini Nasalia. Panggil saja Lia, " Ucap kak Alvin sambil mengenal kan ku pada istri nya.
"Salam kenal. Saya-. Uahh! Profesor Risa!, " Teriak ku ketika aku mengenal sosok yang ada di hadapan ku.
"Apa kalian saling mengenal?, " Tanya kak Alvin.
"Profesor Risa. Wajah mu dan semua buku mu ada di perpustakaan sekolah ku. Aku sering sekali melihat wajah mu di buku. Aku penggemar berat mu, " Ucap ku histeris.
"Uahhh. Aku dapat fans, " Kata nya.
Dia Profesor Risa. Seorang ahli botani yang sering kali muncul di dalam buku ataupun televisi. Aku adalah penggemar berat nya. Aku tak menyangka. Dapat bertemu secara langsung dengan nya. Uahhhh.
"Boleh minta foto?, " Tanya ku.
"Tentu saja. Ayo sini, " Ajak nya sambil merangkul bahu ku.
"Uahh aku di rangkul, " Teriak ku dalam hati.
Satu.
Dua.
Tiga.
Cekrek! Cekrek!
"Aku tak menyangka dapat bertemu dengan anda secara langsung, " Ujar ku masih tak percaya dengan kenyataan ini.
"Aku malah tak menyangka. Aku dapat fans, " Ujar nya sambil tertawa kecil.
Kak Alvin mengajak ku untuk duduk bersama mereka. Aku malah seperti obat nyamuk. Profesor Risa, aku fikir, dia belum menikah. Ternyata dia sudah menikah. Dia terus-menerus mengajak ku berbicara. Sebagai seorang fans, aku sangat senang.
*~*
"Wah. Di telinga mu itu bunga Herbras. Cocok sekali dengan mu. Cantik, polos, dan murni, " Puji nya.
"Terima kasih, " Jawab ku tersipu malu.
"Hmmm? Tunggu dulu. Aku baru sadar, kalau kalung yang kamu pakai itu sangat mirip dengan punya ku, " Ujar Profesor Risa sambil menunjuk ke arah liontin yang menjuntai indah di leher ku.
"Oh benar kah?, " Tanya ku sambil melihat ke arah kalung Profesor Risa dan ke arah kalung punya ku.
"Kalau boleh tahu. Apa kalung mu ada isi nya?, " Tanya kak Alvin.
"Iya seperti punya ku. Ada tanggal lahir kami berdua di dalam nya, " Ujar Profesor Risa sambil memperlihatkan isi kalung nya pada ku.
Aku melihat dengan seksama ke dalam isi liontin itu. Ada dua tanggal lahir tertulis di sana. Aku membuka isi liontin ku juga, dan memperlihatkan kepada mereka juga.
"Ada juga, " Jawab nya.
"Kalau boleh tahu. Maksud dari tanggal lahir ini apa?, " Tanya ku yang masih bingung.
"Kamu dapat kalung ini dari mana?, " Tanya kak Alvin.
"Dari ibu nya kakak, " Jawab ku cepat.
Mereka berdua langsung saling bertatapan. Aku melihat mereka berdua dengan kebingungan. Tiba-tiba, Profesor Risa meminta ku untuk melepaskan kalung ku, agar dia bisa melihat jelas tanggal lahir di dalam nya.
"Tanggal lahir ini. Sangat mirip dengan punya adi-. "
Ucapan kak Alvin terpotong ketika ayah memanggil nama ku. Aku menoleh ke arah ayah yang di belakang nya di ikuti oleh orang tua nya kak Alvin. "Ayo kita pulang. Sudah selesai semua nya, " Ucap ayah.
" Oh iya ayah. " Profesor Risa mengembalikan kalung ku dan aku langsung memakai kalung itu kembali. Ayah pamit untuk pulang, dan aku mengikuti nya dari belakang. Ayah langsung menghidupkan mesin mobil dan kami langsung pergi dari tempat itu.
"Ibu. Apa ibu berniat menjodohkan mereka berdua?. "
"Kamu nggak perlu tahu. "
"Tapi ibu, gadis itu-. "
"Sudah diam. Ini demi kebaikan perusahaan kita. "
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__