
Aku langsung pergi ke rumah Salsa, membawa semua barang yang ku ambil tadi. Sesampai nya di rumah Salsa, aku melihat Salsa sedang membuka buku diary ku. Dan dia membaca isi buku ku.
"Dear diary, 230320. Saat ini, aku sedang jatuh cinta. Dia laki-laki yang sudah lama ku perhatikan. Menurut ku dia anak yang baik. Walau dulu, aku begitu membenci nya. Karena sikap tak sopan nya pada ku. Tapi, Lama-lama.
Aku mulai terbiasa dengan sikap nya.
Dan bodoh nya, perasaan cinta yang tak pernah ku rasakan selama hidup ku
Tumbuh begitu saja, dan membiarkan aku mengukir nama laki-laki itu di hati ku. Apa ini yang nama nya karma?.
Kebencian yang tertimbun di dalam hati ku. Tapi berbunga cinta yang sebenarnya".
"Jangan di baca! Aku malu tahu" Kata ku sambil merebut buku itu dari tangan Salsa.
Salsa terkekeh kemudian berkata "Kenapa harus malu? Semua itu kenyataan" Kata Salsa sambil memasang watados, wajah tak berdosa, yang mana ingin sekali ku hajar wajah nya pada saat itu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Luna? Apa sudah kamu lakukan yang ku suruh? " Tanya Salsa sambil meletak kan telapak tangan nya di dagu nya.
"Sudah. Aku sudah melakukan yang kamu suruh" Jawab ku sambil menutup buku diary ku.
"Terus, apa yang terjadi? Apa dia marah? " Tanya Salsa lagi.
"Sebalik nya. Dia tidak marah. Dia malah mendukung ku. Dia bilang dia sama sekali tidak menyukai Akbar. Dia hanya menjebak ku dengan alasan kalau dia menyukai Akbar. Agar aku dapat jujur pada nya, kalau aku lah yang menyukai Akbar" Kata ku sambil duduk di sebelah nya.
Salsa diam. Rasa nya, aku merasa kan ada sebuah hawa yang mencekam. Seperti nya, hawa itu sangat terasa di sekitar ku. Seperti nya, hawa itu berasal dari Salsa.
"Lia!!!".
Dia meneriak kan nama ku dengan sangat keras, membuat ku menutup kedua telinga ku dengan kedua tangan ku, saking keras suara teriakan nya, telinga ku sampai berdengung.
" Yang benar saja?! Kenapa dia malah menjebak mu sih?! Kamu yang di jebak, kenapa aku yang kesal?! " Kata Salsa sambil berdiri dari duduk nya, saking kesal nya dia pada Luna.
"Hey, tenang dulu " Kata ku menenang kan sahabat ku itu.
Salsa duduk kembali, setelah tangan nya ku tarik dan membuat nya jatuh ke sofa. "Oh iya, ngomong-ngomong, aku membelikan mu pena. Lihat, lucu kan?! " Kata ku sambil menunjuk kan pena yang ku beli tadi pada Salsa, berharap, pena ini bisa menjadi pengalihan perhatian nya.
Salsa mengangguk kan kepala nya. "Wahhh. Terima kasih, ini lucu sekali" Kata nya sambil menerima pena pemberian ku dengan wajah yang begitu berbinar. Aku tersenyum bahagia, karena Salsa sangat senang dengan pemberian ku.
"Padahal, cuman sebuah pena kecil, murah lagi, dan kamu sudah sebahagia ini" Kata ku pada Salsa yang masih mengamati kepala boneka yang ada di atas pena itu.
"Harus dong. Kita itu harus bersyukur. Dengar Lia, tak peduli nominal, atau kecil nya, melainkan, niat dan keikhlasan mu dalam berbagi" Kata Salsa sambil menatap ke arah foto keluarga nya.
"Itu yang sering sekali ayah katakan pada ku. Kamu tahu kan, kami bukan orang kaya seperti mu" Kata Salsa yang mana membuat ku diam seketika.
"Aku ini, tidak terlahir sebagai orang kaya seperti mu Lia. Aku hidup di keluarga yang berkecukupan seperti ini saja aku sudah bahagia. Yang penting, kita itu harus bersyukur" Kata Salsa sambil melayang kan senyuman sejuta watt nya.
"Aku yakin, siapa pun suami mu di masa depan. Ia akan sangat beruntung memiliki istri yang begitu sederhana" Ucap ku dalam hati sambil tersenyum.
"Aku ingin mandi dulu oke".
Salsa meninggalkan aku di ruang tamu sendirian. Dia pergi ke kamar mandi seusai mengambil handuk di dalam kamar nya. Aku duduk di sofa, dan aku mengambil handphone ku di atas meja.
Saat ku lihat, ada pesan dari Akbar yang belum ku baca sama sekali. Aku cepat-cepat melihat nya. Dia bertanya pada ku.
" Yang aku suruh mana?".
"Jangan lupa hari ini, akan aku tunggu".
Ah aku lupa, kalau saat di perjalanan pulang dari mall kemarin, Akbar meminta ku mencatat kan semua hal yang harus kami pelajari. Dan aku lupa membuat nya. Habis lah aku.
"Iya. Tapi nanti ya, aku belum buat soal nya" Balas ku.
Akbar membaca pesan ku, dan hanya membalas emoticon wajah menarik nafas pada ku. Aku terkekeh dengan emoticon yang baru saja dia kirim pada ku. Padahal, aku tahu, kalau dia sedang marah. Tapi kok aku senang ya?
*Dear diary, 24032020
Hari ini, aku begitu senang. Akbar mengirim kan sebuah pesan singkat pada ku, yang mana bisa membuat hati ku ambyar seketika. Aku ini aneh sekali, senang dengan pesan singkat yang ia kirim kan. Padahal, menurut nya, pesan singkat itu hanya lah sebuah pesan singkat biasa, tidak lebih. Tapi untuk ku, pesan singkat itu adalah pesan yang begitu spesial. Apa di antara kami berdua, hanya aku yang menganggap semua ini spesial?
-Lia-*.
Tiba-tiba, aku mendengar suara derap kaki Salsa. Tap... Tap... Tap... "Sudah selesai mandi nya? " Tanya ku pada Salsa yang sudah mengenakan pakaian tidur nya yang berwarna pink dan bergambar teddy bear coklat berpita.
"Sudah, sana mandi" Kata nya menyuruh ku mandi.
Aku pergi ke kamar mandi, dan tiba-tiba Salsa berteriak " Lia, buku diary mu ku baca ya. Aku sudah minta izin kali ini". "Iya!! ".
Salsa poV
Aku membaca buku diary Lia. Dan ku lihat ada catatan yang baru saja dia buat. " Anak ini, kalau bucin nya lagi keluar, udah deh bucin terus". Saat aku sedang membaca buku diary Lia, tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah kaki seseorang dari luar rumah ku.
Tap... Tap... Tap...
Aku berjalan mendekat ke arah pintu luar ku dengan hati-hati layak nya seorang pencuri yang akan mencuri di rumah orang.
"Sal-".
Aku kaget melihat sosok Alex hadir di depan mata ku. Aku cepat-cepat menjauh dari Alex yang sudah berdiri di depan pintu rumah ku. Aku kaget dengan tubuh nya yang tentu nya lebih besar dari pada tubuh ku yang kurus kerempeng seperti ranting.
" Kenapa kau ke sini lagi? "Tanya ku sambil mencoba menutupi rasa takut ku pada nya.
" Handphone ku ketinggalan, aku ke sini untuk mengambil nya" Kata nya sambil masuk ke dalam rumah ku.
Aku tidak sadar kalau handphone nya tertinggal di rumah ku. Saat dia akan berjalan keluar, aku agak sedikit memundur kan posisi ku yang dekat dengan pintu keluar. Tiba-tiba, Alex berhenti di hadapan ku.
Dia mulai berjalan mendekati ku, dan aku tanpa sadar sudah melangkah mundur dan menabrak dinding. Tidak ada jalan untuk keluar. Saat aku akan pergi ke arah kanan nya, tangan kanan nya memblokir pergerakan ku.
"Jangan bicara macam-macam kamu dengan Lia. Kalau kamu masih mau hidup dengan tenang" Bisik nya pada ku sambil mendekati wajah ku seperti hendak mencium ku. Aku langsung menunduk kan kepala ku dari wajah nya yang sudah sangat dekat.
Aku mendengus kesal, karena dia mengancam ku begitu saja. "Yang jelas, aku tidak akan membiar kan kamu menyakiti Lia, dia sahabat ku! "Jawab ku sambil memberani kan diri menatap mata nya yang menatap tajam ke arah ku saat itu.
" Dia wanita yang aku sukai. Kau tidak perlu khawatir, Aku tidak akan menyakiti nya. Tapi, sebaik nya, kau mengkhawatir kan diri mu sendiri. Aku tidak menyukai mu sama sekali, yang arti nya aku bisa menyakiti mu kapan saja?! " Kata nya sambil memblokir pergerakan ku yang mencoba kabur dari arah kiri nya.
" Me-menjauh lah dari ku" Kata ku mencoba mendorong tubuh besar nya yang kini, sudah sangat dekat dengan tubuh mungil ku.
Karena saat ini, posisi ku sudah benar-benar di blokir oleh nya. Aku tidak dapat pergi ke arah kanan ataupun ke arah kiri nya. Dia sudah memblokir nya mengguna kan kedua tangan nya. Aku tidak bisa kemana-mana.
"Tenaga nya kuat sekali, aku tidak bisa mendorong nya" Ucap ku dalam hati yang masih kesusahan mendorong nya.
Alex menurun kan kedua tangan nya. Dan mulai menjauh kan tubuh nya dari tubuh ku. Aku langsung pergi ke arah kanan nya, takut dia akan memblokir ku lagi.
Tiba-tiba, tangan Alex mencengkram dagu ku, menarik ku ke dekat nya. "Jangan macam-macam dengan ku. Nasib keluarga mu ada di tangan ku! "Ucap nya dan kemudian berjalan menjauhi ku. Dia pergi dari rumah ku, setelah mengancam diri ku.
" Nasib keluarga ku ada di tangan nya? Apa maksud nya? " Tanya ku sambil mengelus lembut dagu ku yang sakit akibat cengkraman nya yang tadi.
Salsa poV end.
Sementara di waktu yang bersamaan.
"Apa yang di maksud Alex? Nasib keluarga Salsa ada di tangan nya? ".
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__