My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 26 A Child



Aku tak tahu harus apa, tapi yang jelas, aku harus membantu kedua sahabat ku ini agar tidak tercerai berai. Aku tidak ingin, hubungan mereka berdua rusak hanya karena laki-laki yang tak tahu diri itu. Apapun yang akan terjadi, Aku harus siap menghadapi nya.


Dan rencana ku sekarang, adalah, Aku harus membuat paman berpihak pada ku, bukan dengan Alex.


Giska poV end.


Kini, di sinilah aku berada. Di atas tempat tidur nyaman ku, dan masih menggunakan pakaian pergi tadi. Sepulang dari mall tadi, aku tiba-tiba tak punya semangat untuk bergerak. Aku hanya diam, dan berbaring di kasur.


Drttt... Drttt... Drttt.


"Lia, jangan bertindak mencurigakan, pergi lah ke rumah Salsa, agar dia tak curiga, " *pesan dari Giska.


Aku menghela nafas ku. Aku berjalan ke arah meja rias ku, dan mengambil bedak. Mencoba menutupi mata ku yang sembab. Aku langsung mandi, dan berganti pakaian tidur. Aku mengambil buku pelajaran, diary, handphone, dan charger. Kemudian, aku turun, dan menemui kedua orang tua ku, meminta izin untuk pamit ke rumah Salsa.


"Tunggu dulu, ini ada makan malam untuk kalian berdua nanti. " Mama ku memberikan ku sebuah rantang yang lumayan berisi makanan yang ia masak. Aku mengangguk dan membawa rantang itu ke rumah Salsa.


Aku mengetuk rumah Salsa tiga kali, dan ku dengar balasan dari nya yang menyuruh ku masuk. Aku menghela nafas ku dengan panjang, mencoba berakting seperti tidak ada yang terjadi.


"Salsa. Lihat, mama ku bawakan makan malam untuk kita, " Ucap ku sambil menebar senyuman.


"Wahh, makanan. Terima kasih ya, " Ucap Salsa sambil mengambil rantang itu dari ku dan meletakkan nya di dapur.


"Oh iya, ini buku pelajaran. Kamu kan kemarin nggak masuk, jadi aku kasih lihat catatan nya, " Ucap ku sambil memberikan buku pelajaran yang ku bawa kepada Salsa.


"Terima kasih, " Ucap Salsa. Dia berlari ke kamar nya, dan mengambil buku pelajaran nya, dan mulai mencatat. Seperti nya Salsa sudah sehat. Dia sudah bisa berlari.


"Kau sudah sehat?, " Tanya ku sambil duduk di sebelah nya.


"Sudah, aku sudah sehat," Kata nya sambil mengangguk kan kepala nya.


"Apa Giska mengurus mu dengan baik?, " Tanya ku.


"Ha-hh, kau tahu Lia. Dia mengurus ku dengan sangat baik, dia lebih bawel dari mu, " Kata Salsa.


"Oke, Ghibah di mulai, " Kata ku tertawa kecil.


"Uhm, apa kau besok sekolah?, " Tanya ku dengan mata yang berbinar.


"Sekolah ya, please, aku nggak enak sendirian, " Ucap ku lagi dengan penuh harap.


"Iya, aku sekolah. Aku kan sudah sehat, " Ucap Salsa sambil melayang kan senyuman pada ku.


"Asikkk!, " Teriak ku.


Sebenarnya, aku meminta nya sekolah itu agar dia bertemu dengan Alex. Aku ingin lihat reaksi mereka berdua ketika bertemu di depan ku. Jika mereka saling diam, dan tak bicara apapun, itu artinya ada yang terjadi. Tapi jika tidak, mereka berbicara seperti biasa, layak nya tak terjadi apapun, itu artinya ada sesuatu yang besar terjadi.


"Ngomong-ngomong lomba mu bagaimana?, " Tanya Salsa yang mana membuat ku langsung kesal.


"Kamu tahu nggak? Lomba itu di percepat. Jadi minggu depan, " Omel ku kesal.


"Bagus dong, kamu bisa lega lebih cepat, " Kata Salsa.


"Mana ada, aku tambah gugup tahu, " Kata ku kesal.


"Beneran? Kan ada Akbar, gak bakal gugup lah, " Kata Salsa dengan nada suara yang terdengar menggoda ku.


"Aihh. Kamu tahu, dia ngelakuin hal yang nggak ku percaya, " Kata ku.


"Apa yang dia lakukan pada mu? Tunggu dulu, kok hidung mu agak memar? Apa ini?," Tanya Salsa sambil memegang kepala ku.


"Ahh, ini nggak sengaja ke pukul sama Akbar, " Kata ku sambil tersenyum kecut.


"Yang benar saja laki-laki itu?! Berani nya melukai sahabat ku, " Kata Salsa sambil berdiri dan berpose seperti orang yang ingin berkelahi.


"Weet... Weet... Weet. Mau kemana kamu?, " Tanya ku sambil menghentikan Salsa yang hendak berlari entah kemana.


"Mau nemui Akbar. "


"Tahu aja nggak rumah nya, " Kata ku.


"Oh iya ya, " Ucap Salsa sambil duduk kembali.


"Sa... Dia mengatakan sesuatu yang terdengar seperti janji, " Ucap ku sambil duduk di sofa.


"Memangnya, apa yang ia katakan?, " Tanya Salsa.


"Dia bilang 'Dengar Lia, entah apa yang akan terjadi ke depan nya, kita lalui bersama', aku tuh ngerasa kalau dia lagi buat janji pada ku. Tapi ku rasa, cuman aku doang yang ngerasa hal itu, dia pasti nggak, " Kata ku sedih. Salsa hanya tertawa kecil, dan kemudian melanjut kan menulis catatan nya.


Aku membuka buku diary ku, dan mengambil kena yang ku selipkan di saku baju ku. Aku menuliskan sebuah catatan.


Dear Diary, 25032020


Hari ini, begitu melelahkan.


Padahal, niat nya aku ingin bermalas-malasan


Tadi nya... Tapi tidak


Aku membuntuti Salsa, dan mendengar semua percakapan Alex dan Salsa di cafe


Aku tidak akan sesedih ini


Aku tidak akan merasa bersalah seperti ini


Aku juga tidak akan pernah menyadari


Kalau aku adalah inti dari semua masalah ini


Aku merasa sedih


Menyebabkan sahabat ku berada di ambang masalah


Itu pun karena sahabat nya ini


Dia terlalu memikirkan kebahagiaan ku


Tanpa ia sadari, kalau dia juga berhak untuk bahagia.


Aku menutup buku diary ku. Dan aku pergi ke toilet.


Salsa poV.


Dia menulis lagi?


Apa yang dia tulis?


Maaf ya Lia, aku lihat tulisan mu.


Dia menuliskan semua yang aku lihat. Aku tahu, sebenarnya, dia tadi mengikuti ku bersama Giska. Aku juga tahu, dia duduk di belakang ku. Aku juga tahu, kalau dia memasang kamera di kamar ku.


"Aku tahu semua itu, " Ucap ku sambil menutup buku nya kembali, dan meletakkan nya ke tempat semula.


Salsa poV end.


Aku kembali dari toilet. Dan ku lihat Salsa tengah sibuk memainkan handphone nya. Aku duduk di dekat nya kembali. Dan ku lihat, di layar handphone nya, dia berada di aplikasi perekam. Dan dia tiba-tiba memainkan sebuah rekaman, rekaman yang tak ku sangka.


"E-eh, re-rekaman itu apa?, " Tanya ku yang berlagak seprti orang yng tidak tahu apa-apa. Padahal tahu dengan jelas rekaman itu.


"Ini rekaman tadi siang. Ini ada suara ku dan suara Alex, " Ucap Salsa sambil tersenyum pada ku.


"La-lalu? Apa hubungan nya dengan ku?, " Tanya ku dengan keringat dingin yang tiba-tiba mengalir di dekat mata ku.


"Ayo jujur. Kamu ngikutin aku kan ke cafe tadi, " Kata Salsa sambil tersenyum pada ku, namun senyuman itu begitu penuh arti.


"Eh e-enggak, " Kata ku masih mencoba membohongi diri nya.


"Kamu nggak bisa bohong tahu, aku ini punya ikatan batin dengan mu, " Ucap Salsa sombong.


"Nggak bohong kok, piss. "


"Nggak usah bohong. Aku tahu semua tahu?!, " Kata Salsa kesal.


"Aku juga tahu, kamera yang ada di kamar ku, " Kata Salsa.


Aku langsung tersadar, dan teringat akan kamera yang pernah ku pasang di kamar nya Salsa. Aku langsung duduk berlutut. "Maaf keun aku mak. Aku terpaksa, " Kata ku sambil memohon ampun pada Salsa atas kesalahan yang aku lakukan.


"Kamu tahu nggak, untung aku sadar kalau ada kamera, kalau nggak kamu udah ngeliat aku ganti baju, " Kata Salsa kesal.


"Kan kita pernah mandi bareng waktu masih jadi bocah, " Kata ku.


"Oh iya ya, " Kata Salsa.


Aku dan Salsa tertawa karena mengingat kenangan lucu yang pernah kami ukir bersama waktu masih kecil. Nah, di antara kalian, ada yang pernahandi bareng sama sahabat nya nggak? Kalau author mah pernah.


" Jadi ingat waktu kita ngambil bunga di rumah kosong itu ya, yang di sebelah rumah mu dulu, sekarang mah udah jadi ruko, " Kata Salsa.


"Iya ya, bunga itu yang kita tumbuk jadiin sambal. Astaga, aku tetep ngakak sendiri kalau ingat semua itu, " Kata ku dengan tertawa terbahak-bahak.


"aku juga ingat waktu aku ngejatohin keranjang bunga ke sana, terus kamu marah-marah nggak jelas, " Ucap Salsa menahan tawa.


"Terus ingat nggak? Anak tetangga yang manjat pohon, terus turun nya gak bisa?, " Tanya ku.


"Astaghfirullah, masih ingat aja kamu, itu anak pak RT kan? Pas pulang ke rumah nya, baju nya kotor semua karena nyebur ke parit waktu mau turun dari pohon, " Ucap Salsa tertawa.


"Ingat dong, itu kan yang paling lucu," Kata ku sambil menghapus air mata yang muncul di mata ku karena terus-terusan tertawa.


"Jadi ingat waktu kita main ayunan yang dari ban itu, itu tempat pertama kali kita ketemu kan?, " Tanya Salsa.


"Iya, aku ingat itu, kalau sekarang udah nggak ada lagi ayunan nya, " Ucap ku kesal.


"Jadi kangen masa kecil, " Kata ku dan Salsa sambil merebahkan diri kami ke lantai.


Gimana ya, pas masih bocah kalian pasti pernah minta sama Tuhan biar cepet-cepet gede. Tapi pas udah gede, kalian pingin jadi anak kecil lagi. Serba salah tahu.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__