
Sepulang sekolah, aku, Salsa dan Giska pulang duluan. Dan meninggalkan Alex sendirian di sekolah. Giska, belum mau pulang ke rumah nya, dia ingin ke rumah Salsa saja.
Di dalam angkot, aku hanya diam mematung dan tidak memfokuskan diri ku pada kedua teman-teman ku yang juga jadi lebih diam. Aku kebingungan untuk bereaksi. Aku mohon, cepat lah sampai ke rumah.
Sesampainya kami di rumah, aku langsung pulang ke rumah dan berjanji akan datang ke rumah Salsa seusai makan siang. Ketika pulang, tidak ada sambutan seperti biasa. Ibu dan kakak ku pergi entah kemana, dan ayah ku masih bekerja.
Aku menaiki anak tangga dengan perlahan. Memikirkan, rencana liburan yang akan kami jalani nanti, dan aku tidak akan ikut. Aku membuka pintu kamar ku, dan langsung membuka jendela kamar ku. Aku duduk di jendela kamar, menghirup udara segar, sejenak melupakan masalah yang akan terjadi di masa depan.
Di satu sisi, aku khawatir jika Salsa dan Giska saja yang pergi, yeahh tidak sendiri sih sebenarnya. Mereka pergi bersama guru dan anak-anak di kelas. Dan pasti nya, Alex juga akan ikut. Aku khawatir, jika menempatkan Salsa dan Giska, dalam ruang yang sama dengan Alex.
Mengingat perkataan yang ku dengar waktu itu, dengan kepala dan mata ku sendiri. Yang mana ia mengancam kehidupan keluarga sahabat ku. Jujur, walau aku sudah tahu inti dari masalah ini. Aku masih belum bisa mengerti. Kenapa dia melakukan nya? Apa hanya karena Alex suka pada ku? Dan rasa itu tidak terbalas?
Apa ini yang di namakan " Akan ku lakukan segala cara, untuk mendapatkan cinta mu?. "
Dan di sisi lain nya, aku tidak bisa meninggalkan pertandingan, yang sudah lama di persiap kan itu. Aku tidak bisa merusak janji yang ku buat bersama Akbar pada senpai botak. Kalau kami akan keluar sebagai pemenang.
"Ughhh, mual. "
Aku pergi ke dalam kamar mandi. Memuntahkan isi perut ku yang sudah bergejolak ingin keluar dari tadi. Aku terduduk lemas di dalam kamar mandi. Menarik nafas, kemudian menghembuskan. Dan air mata ku keluar begitu saja.
Aku itu, bukan orang yang kuat seperti yang kalian bayangkan. Aku hanya perempuan lemah, yang mencoba menutupi semua rasa sakit yang ku dapat. Dan ketika air mata ku mengalir dengan sangat deras, dan tak bisa di tahan lagi. Itu artinya, aku sudah tak punya kekuatan untuk bertahan.
*~*
Seusai makan siang, aku pergi menemui kedua sahabat ku yang ada di rumah Salsa. Sembari membawa buku diary ku, dan sebuah kotak kecil. Aku memang suka menulis sesuatu, entah itu tentang perasaan ku, atau tentang kesedihan hidup ku.
"Giska! Salsa!, " Teriak ku dari luar rumah.
Salsa membuka pintu, dan menyuruh ku masuk. Kemudian, dia mengunci pintu rumah nya dari dalam. Aku melihat Giska sedang menonton televisi dengan makanan yang ada di depan nya. Aku duduk di dekat mereka berdua.
"Giska. Aku baru ingat, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi di sekolah. Luka apa itu?, " Tanya ku sambil menunjuk ke arah luka yang ada di leher nya.
Aku dan Salsa, Sama-sama menatap Giska dengan tatapan penasaran sekaligus khawatir. Giska tak kunjung menjawab pertanyaan ku. Seperti ada yang ia sembunyikan.
"Jawab!, " Teriak Salsa yang sudah kehabisan kesabaran.
"Sabar mak, " Ucap ku sambil menenangkan Salsa.
"Luka ini, aku nggak sengaja kegores pakai kuku ku, " Kata nya sambil menunjukkan kami berdua kuku tangan nya yang panjang.
Aku dan Salsa saling bertatapan. Seolah mengetahui, kalau Giska sedang membohongi kami. "Tenang saja, tidak ada Alex di sini, " Kata Salsa membuat ku dan Giska terkejut.
Salsa mengambil handphone nya yang ada di dalam kamar tidur nya. Dan menunjukkan aku sebuah rekaman, dan menyuruh ku mendengar kan nya. Aku mendengar kan rekaman itu dengan volume yang tinggi.
Mendengar kan rekaman itu secara seksama, membuat ku terkejut tak percaya. Luka yang ada di leher Salsa, di sebab kan oleh perilaku Alex yang tak senonoh. Entah, berapa kali badan ku terasa lemas tak berdaya. Tapi kali ini, aku benar-benar tak tahu harus bereaksi macam apa.
"Kenapa. Kenapa kau tak memberi tahu kami berdua, " Kata ku pada Giska sambil menunduk kan kepala.
"Kenapa ini bisa terjadi pada mu?, " Tanya ku lagi.
"Kenapa kau tak memberi tahu ku?. "
"Biar aku kasih dia pelajaran, " Ucap ku dengan nada suara yang gemetar.
Aku berdiri dari duduk, dan tiba-tiba kaki ku oleng, dan membuat ku jatuh ke lantai. Aku duduk memeluk lutut, dan menyandar kan dagu ku di atas lutut. Membenamkan wajah ku yang sudah basah dengan tangisan ku.
"Maaf. Jika saja Alex tidak menyukai ku, bukan, jika saja aku tidak ada. Kalian tidak akan merasakan masalah seperti ini, " Omel ku dengan wajah yang sudah basah akibat tangisan ku.
Giska dan Salsa saling berpandangan, dan kemudian memeluk ku. Mereka secara bergantian mengelus kepala ku dengan lembut. Seakan meminta ku untuk tidak menyalah kan diri ku atas apa yang mereka timpa.
"Menangis lah. Jangan di pendam, " Ucap Giska sambil mengerat kan pelukan nya.
"Lia. Jika kaki mu sudah tidak kuat bertahan. Maka jatuhlah, kau boleh istirahat sejenak. Dan esok nya, bangunlah, bangkitlah. Karena kami berdua, akan selalu menjadi tiang penyangga untuk mu berdiri. "
Mendengar perkataan kedua sahabat ku, aku bukan nya tenang dari tangis ku. Melainkan, aku malah mengeluarkan banyak sekali air mata. Terharu dengan perkataan yang mereka berdua katakan.
"Terima kasih. Terima kasih, " Ulas ku sambil membalas pelukan mereka berdua.
Hari itu, kami bertiga berpelukan, seperti seorang keluarga. Mereka berhasil menyentuh hati ku, menggerak kan hati ku untuk tidak menyalah kan diri ku, dan mengatasi masalah ini bersama. Terima kasih Tuhan, karena sudah memberikan aku dua sahabat yang baik.
Dan juga, pesan ku untuk kalian, belajar lah dari kata "Lalu". Ia selalu meninggalkan mu begitu saja. Tapi di balik kepergian nya, ada kebahagiaan yang menunggu mu.
"Berhenti nangis! Aku mau nangis juga!."
Dan kami bertiga menangis bersama-sama.
*~*
Salsa poV.
Kalau boleh jujur. Aku ingin jujur. Hari ini, aku begitu banyak mendapatkan pelajaran. Iya, aku tahu. Kalau aku memang tidak pandai menghibur. Aku sadar. Sejenak, aku diam mematung, melihat sahabat ku menangis. Dan menyalahkan diri nya, atas apa yang terjadi pada ku dan Giska.
Jujur. Kesal rasanya. Aku dan Giska yang mendapat kan kejadian itu, dan dia malah seenak jidat menyalahkan diri nya. Apa dia tidak berfikir? Bagaimana cara kami untuk lepas dari masalah itu? Kami sudah berjuang mati-matian, dan kau malah menyalah kan diri mu.
Ibu ku, yang dulu sering memukuli ku, dan menyesal di kemudian hari. Meminta ku berkali-kali untuk berjanji pada nya, untuk tidak memukul orang yang kita sayangi. Tidak boleh menggunakan cara kasar meladeni nya.
Kalau begitu? Aku harus apa? Aku harus apa untuk melampiaskan amarah ku?
"Peluk! Peluk dia. Dan semangati dia!. "
Salsa poV end.
*~*
Srattt.
Kami berdua saling mengambil tisu yang ada di dekat kami. Kami duduk membentuk lingkaran. Dan sedari tadi, kami menangis terus menerus. Aku yakin, wajah ku sudah sangat membengkak, akibat tangisan yang tak kunjung berhenti. Kami merebahkan tubuh kami ke lantai, masih membentuk lingkaran.
"Lia, kamu nggak ikut kan liburan nanti?, " Tanya Salsa yang sudah mulai berhenti menangis.
"Tidak. Aku kan ada pertandingan, " Ucap ku.
"Padahal, kami mau lihat kamu tanding. Sekalian mau lihat cowok yang kamu sukai itu, " Ucap Giska sang kepo.
"Tapi, aku bingung. Kalau aku tidak ikut, kalian berdua bagaimana?, " Tanya ku khawatir.
"Kami? Jangan khawatir. Kami sudah dewasa. Kami tidak akan berpisah, " Kata Giska sambil menggenggam tangan Salsa dan menunjukkan pada ku genggaman tangan mereka.
"Tapi, aku ada permintaan. Selama kalian liburan di sana. Dan jika Alex mendekati kalian. Kalian pasang kamera kecil di kalung kalian, " Kata ku.
"Kalung?, " Tanya mereka berdua.
Aku bangun dari rebahan, dan tangan ku meraih kotak yang ku bawa tadi. Ku buka kotak itu, yang berisi kalung bertulis nama kedua sahabat ku. Aku memberikan kalung itu kepada kedua sahabat ku.
"Tadi nya ini mau ku jadikan hadiah ulang tahun kalian berdua. Tapi seperti nya ini sangat di butuh kan sekarang. "
Aku menujukkan bagian mainan kalung yang terlihat seperti permata, " Di sini. Aku sudah meletakkan kamera kecil di dalam nya. Waktu aku membeli nya tidak ada kamera nya. Tapi aku memodifikasi nya sedikit, dan meletakkan kamera itu. Tenang saja, kamera ini hanya merekam suara, jadi kalian bebas mau ngapain saja, " Ucap ku sambil menjelaskan kamera yang ku letakkan di dalam permata itu.
"Oh iya. Tenang saja, aku bisa mendengar perkataan kalian lewat anting-anting ku. Aku memodifikasi nya juga. Jadi setiap kali kalian berhadapan dengan Alex. Jangan takut. Ada aku, aku juga bersama kalian, walau kalian tak melihat ku, " Kata ku pada mereka berdua yang masih diam terpaku.
"Kau yang membuat nya?, " Tanya Giska dan Salsa tak percaya.
"Iya. Ini khusus untuk kalian berdua, " Kata ku sambil tersenyum kepada mereka.
"Oh iya. Tenang saja. Sekecil suara apapun yang di hasil kan, aku tetap bisa mendengar nya. Coba saja kalian pergi ke ruang kedap suara, atau tempat yang berisik sekali pun, " Perintah ku.
Salsa dan Giska mengikuti perkataan ku. Salsa pergi ke dalam kamar nya. Dan Giska pergi ke luar. Bzzttt. Bzzzt. Aku bisa merasakan getaran dari anting ku yang arti nya ada perkataan yang masuk. Giska dan Salsa berjalan kembali ke arah ku yang masih duduk.
"Salsa bilang, aku mau tidur, dan Giska bilang, aku mau makan, " Ucap ku sambil tersenyum miring.
"Uwohhh, greget! Bisa kedengaran!, " Teriak mereka berdua.
"Terima kasih Lia!, " Teriak mereka berdua dan kembali memeluk ku.
"Aku merasa seperti agen rahasia, " Ulas Giska sambil mempraktikkan gerakan film action tentang agen rahasia.
"Dan sekarang. Kalian sudah siap untuk mencari kebenaran?, " Tanya ku setengah berteriak sambil menjulurkan tangan ku, mengajak tos.
"Siap!. "
Plokk (Suara tos) .
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__