
"Ini pilihan mu. Kamu masih mau ikut serta dalam perlombaan itu, atau tidak, dan kamu ikut dalam liburan itu?. Ayah tidak akan memaksa mu lagi. "
Jika aku berhenti dan mundur. Mau di taruh di mana muka ku? Dan lagi, Akbar pasti akan kecewa dengan ku yang mundur begitu saja, sedangkan dia sangat antusias menunggu pertandingan itu. Dan juga, senpai botak pasti akan mengolok-olok ku lebih dalam. Entah apa lagi yang akan ia katakan dan membuat hati ku sakit lebih dalam.
"Apa ayah tidak akan malu jika aku mundur dari pertandingan itu?, " Tanya ku masih memeluk nya.
Ayah menggeleng kan kepalanya, dan kemudian ia mengelus lembut kepala ku. " Ayah tidak peduli orang mau bilang apa tentang ayah. Yang penting anak ayah bahagia. "
Aku tersenyum dan memejamkan mata ku. "Akan ku fikir kan lagi ayah, " Jawab ku sambil menatap nya dengan rasa kebahagiaan yang menyelimuti diri ku.
"Ayah tahu, ada milyaran pilihan dalam hidup. Dan sayang nya, hidup mengharuskan mu memilih satu dari milyaran itu. Saran ayah untuk mu, pilih lah, apa yang menurut mu baik dan bermanfaat bagi diri mu sendiri dan orang lain, " Ujar ayah sambil mengeratkan pelukan hangat nya pada ku.
"Jangan biarkan kata-kata dan amarah mempengaruhi pilihan mu, karena pilihan dan masa depan mu ada di tangan mu sendiri, " Ucap ku dan ayah berbarengan.
Semalaman, aku tak henti-henti nya mengeluarkan air mata di pelukan ayah ku. Malam itu, aku melepaskan semua keluh kesah, kekesalan yang ada di dalam hati ku, dan ayah bersedia mendengar semua suara tangis ku. Dia tak henti-henti nya mengelus lembut kepala ku, dan punggung ku. Memberi ku semangat tanpa pamrih.
Saat sedang berhadapan dengan Akbar waktu itu, aku benar-benar ingin berteriak, meneriakkan segala kekesalan ku pada nya. Waktu itu, aku hanya berfikir. Kalau aku ingin sekali menangis. Aku ingin berteriak sekencang-kencang nya. Adakah tempat yang bisa mendengar suara ku. Dan tidak ada satupun orang yang akan melihat ku menangis? Aku ingin berlari, Aku ingin lari dari kenyataan pahit ini. Aku membenci kenyataan ini. Aku hanya ingin mengumpat. Tapi mulut ku terkunci.
Atau lebih baik di sebut Umpatan yang Terkunci.
*~*
Ke esokkan pagi nya. Ketika aku berdiri di depan kaca, aku kaget melihat burung hantu berdiri. Yeahh, maksudnya, wajah ku yang bengkak akibat menangis semalaman. Aku cepat-cepat pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dan tentu nya menyembunyikan bengkak nya wajah ku.
Saat aku sudah di lantai bawah, aku melihat ayah ku memainkan handphone. " Sudah baikan?, " tanya Ayah ketika ia menyadari keberadaan ku. aku mengangguk kan kepala ku.
"Jadi bagaimana? Apa yang kau pilih?, " tanya ayah lagi.
"aku akan tetap maju di pertandingan itu. Aku tidak akan mundur. Akan ku buktikan pada senpai botak. Kalau aku pantas berdiri di tempat yang sama seperti Akbar dan yang lain. "
"bagus. Itu baru semangat yang ayah suka. Karena kamu memilih untuk tetap maju di pertandingan. Kamu harus siap. Menghadapi semua cacian para senpai, " ucap ayah sambil menepuk bahu ku.
"Iya. Aku siap. Aku tidak akan menangis lagi!. "
*~*
Aku pergi ke rumah Salsa, dan ternyata, masih ada Giska di sana. Ku lihat, mereka sibuk memasak mie goreng untuk sarapan di dapur. Mereka menawari ku untuk makan bersama, tapi aku menolak. Karena pada saat ini, aku tidak merasa lapar sedikit pun.
Aku duduk di ruang tamu. Menunggu mereka selesai sarapan. Aku membuka handphone ku yang sedari malam ku non aktifkan. Tiba-tiba. Ada banyak pesan dan telepon banyak sekali, sampai-sampai memenuhi layar ponsel ku. Pesan ini kebanyakan di kirim oleh ayah, dan kedua sahabat ku, menanyakan keberadaan ku.
Sedangkan panggilan. Dari laki-laki itu. Akbar. Ada banyak sekali telepon dari nya, dan aku tak menghiraukan nya. Dan aku beralih ke pesan, dan melihat ada banyak pesan dari Akbar juga. Menanyakan keadaan ku. Aku masih tetap tidak mengindahkan pesan dan telepon dari nya.
"Salsa. Giska. Sudah belum?!, " Teriak ku dan di sambut teriakan belum dari mereka berdua dari dapur.
Aku masih duduk diam di sana. Masih melihat layar ponsel ku, yang menunjukkan pesan dan telepon dari Akbar. Sesekali ku scroll ke bawah dan ke atas. Hanya ingin melihat waktu ia menelpon ku. Hebat sekali dia. Pulsa nya nggak habis apa? Setiap menit menelpon ku dan mengirim pesan pada ku.
Aku menghela nafas ku dan mematikan handphone ku. Meletakkan handphone ku ke atas meja, dan menaikkan kaki ku. Kini aku duduk memeluk lutut. Menyandarkan dagu ku ke atas lutut.
"Lia! Jika benar kalau kau menyukai ku. Tolong, hapus perasaan itu sekarang!. "
Entah apa yang ia fikirkan, ketika ia mengatakan dan meneriakkan perkataan seperti itu pada ku. Apa dia nggak merasa bersalah sedikit pun? Nggak. Ngapain coba dia merasa bersalah. Dia aja nggak ada rasa sama aku. Bodoh nya aku. Memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi.
"Uahh kenyang. "
Ku lihat Salsa dan Giska datang sambil memegangi perut mereka berdua. Giska dan Salsa duduk di samping ku. Mereka berdua seperti nya terlihat kekenyangan.
"Ada apa Lia?, " Tanya Salsa.
Aku hanya menggeleng kan kepala ku pelan. Salsa menatap ku dengan tatapan seperti seorang polisi sedang menginterogasi buruan nya. " Kamu kalau lagi banyak fikiran, selalu duduk memeluk lutut. Ada apa?, " Tanya Salsa lagi.
Aku melihat kedua wajah sahabat ku yang masih menatap ku. Aku membuka mulut ku. Mulai bercerita, tentang apa saja yang terjadi kemarin. Tentang makian senpai botak itu, dan perkataan Akbar yang sampai sekarang masih membuat ku shock.
Salsa dan Giska saling bertatapan dan kemudian berdiri.
"Sini! Mana rumah orang itu. Enak saja main damprat temen kami!. "
"Astaghfirullah geram ya Allah. Geram!! Hiii!. "
Mereka berdua malah semangat memaki senpai botak itu. Tapi syukur lah. Mereka tidak terlalu fokus dengan perkataan Akbar. Bisa-bisa aku tambah di damprat ama Salsa. Hii, gak mau pokok nya.
"Hey. Duduk ah, " Kata ku sambil menarik mereka duduk kembali.
Mereka berdua hanya menurut. " Sudah. Samping kan cacian senpai itu. Lebih baik, kita bicarakan rencana kita kemarin, " Kata ku sambil memasang wajah serius.
"Ah. Lia. Kami berdua mau minta maaf, " Ucap Giska.
"Minta maaf? Tentang apa?, " Tanya ku bingung.
"Tadi kalung mu nggak sengaja kecemplung dalam air, " Kata Salsa dan Giska bersama sambil menunjukkan kalung itu pada ku.
"Ya terus? Kenapa?, " Tanya ku bingung.
"Ya pasti rusak kamera yang ada di dalam nya, " Kata Salsa.
"Ohh. Ya enggaklah. Itu kan waterproof. Kan sudah ku bilang kamera nya ku modifikasi dan ku buat jadi waterproof, " Jelas ku pada mereka berdua yang masih memasang wajah tegang.
"Hehh. Beneran? Gak rusak?!, " Tanya Salsa dan Giska.
"Iya. Nggak!. "
Mereka berdua meloncat kegirangan. Aku hanya menggeleng kan kepala ku. Mereka kemudian duduk kembali, duduk dengan tenang seusai memakai kalung itu kembali.
"Jadi bagaimana?, " Tanya ku.
"Pokoknya aku ingin keluarga ku baik-baik saja, " Kata Salsa semangat.
"Aku tahu. Tapi bagaimana biar ayah mu nggak di pecat oleh laki-laki itu, " Kata ku bingung.
"Percayakan pada ku. Kali ini percayakan pada ku. Biarkan aku urus bagian ini. Karena aku sudah ada rencana, " Kata Giska.
"Kenapa kamu?," Tanya ku.
"Karena aku seorang Alexandria, " Kata Giska.
"Hah?. "
"Alexiel Za Alexander. Alex adalah sepupu ku. Dan nama asli ku Giska Alexandria. "
Aku terkejut mendengar perkataan Giska. Bukan hanya aku yang terkejut. Tapi Salsa juga. "Maaf ya. Aku menyembunyikan kebenaran ini, " Kata Giska sambil memohon maaf pada kami berdua.
"Ngg-nggak apa. Nggak apa. Yang penting udah jujur, " Ucap Salsa gagap.
"Kalau begitu apa rencana mu?, " Tanya ku antusias.
"Aku nggak ada cara lain, selain mempengaruhi ayah nya Alex, " Jelas Giska.
"Tapi. Bagaimana kalau misalnya rencana mu itu tidak berhasil?, " Tanya Salsa.
"Sebenarnya ada cara lain yang sudah ku fikirkan. Tapi tak tahu itu bisa berhasil atau tidak, " Ucap Giska.
"Apa?, " Tanya ku dan Salsa penasaran.
"Merubah sifat Alex!. "
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__