
Karena itu, bukan, mungkin karena kami sudah terlalu lama bersama, Salsa jadi bisa merasakan apa yang aku rasakan. Seakan-akan, ada tali yang memang benar-benar mengikat ku bersama nya. Tapi, bukan nya aku tak senang kalau dia bisa merasakan perasaan ku. Aku hanya takut dia khawatir. Dan aku malu, jika dia mencap ku sebagai orang yang lemah.
Lia and Salsa past
Krekk
Krekk
Krekk
Dari kecil, kami sudah berada di TK dan SD yang sama, sekarang kami sudah kelas 5 SD. Suara itu, berasal dari Salsa yang tengah menarik kursi nya. Sedangkan aku? Aku sibuk duduk manis melihat nya kelelahan menarik kursi nya yang berat.
Dari kecil, aku tidak terlalu peduli dengan sekitar. Aku juga malas beraktivitas, yang paling ku suka hanya REBAHAN. Dulu, Salsa itu, sangat feminim. Beda dengan ku, yang suka menggunakan celana dan selalu punya potongan rambut pendek bak anak laki-laki.
Setiap kali di minta untuk menggunakan rok seperti anak perempuan pada umum nya, aku akan kabur, berlari ke rumah Salsa, atau pergi bermain. Dan pulang nya, selalu di marahi oleh Mama. Mama ku itu, orang yang cerewet, dan disiplin. Beda dengan ibu nya Salsa, ibu nya Salsa, adalah orang yang baik, mungkin, tapi sayangnya, dia tidak terlalu peduli dengan keberadaan Salsa.
Maka dari itu, aku punya keinginan, ingin menjadi sosok ibu bagi Salsa, tapi pada kenyataan nya, aku terlihat seperti anak nya. Dan dia ibu ku. Salsa itu, orang yang dewasa. Tidak seperti ku yang masih seperti kekanak-kanakan. Di umur nya yang masih belia, dia sudah bisa mengurus rumah. Dan aku? Tidak :). Aku tuh orang yang malas.
Aku ingat, waktu kecil, kami berdua selalu bermain bersama. Dulu karena jaman kami belum ada handphone, kami sering bermain dengan tanah dan tanaman. Buat apa? Yeahhh, buat main masak-masakan. Dan ketika pulang ke rumah, kami akan di marahi, karena pakaian kami yang kotor sekali dengan tanah. Jadi kangen masa itu.
"Baiklah, sudah selesai, aku mau ke toilet" Kata Salsa sambil meninggalkan ku yang sedang membaca buku sendirian di dalam kelas.
Dulu, sebelum Salsa ikut beladiri. Dia adalah orang yang lemah. Tidak berani, atau lebih tepat nya penakut. Dia tidak bisa membela diri nya kalau ketika dia di ganggu oleh anak-anak nakal di sekolah. Yepp, Salsa itu korban bullying.
Brukkk.
Aku ingat, waktu Salsa terjatuh ke lantai, karena seseorang yang menjulurkan kaki nya dan membuat Salsa tersandung. Si Caper bermulut ular. Iyahh, begitu aku menyebut anak laki-laki yang terus-menerus mengganggu Salsa. Di karenakan, Salsa selalu berada di dekat ku seperti bakteri.
"Heh, jalan pakai mata dong" Kata nya yang membuat nyali Salsa ciut dengan cepat.
"Maaf" Jawab Salsa yang membuat ku kesal mendengar nya.
Jelas-jelas anak laki-laki itu yang duluan mengganggu Salsa, tapi malah Salsa yang meminta maaf. "Sepatu ku kan jadi kotor. Bersihin" Kata anak laki-laki itu sambil menunjuk ke arah sepatu nya yang menurut ku sama sekali tidak kotor.
Salsa merunduk, bersiap untuk membersihkan sepatu anak laki-laki itu. Saat aku melihat anak laki-laki itu, yang mana tangan kanan nya memegang sebuah botol air yang akan di jatuh kan ke punggung Salsa.
Aku yang melihat mereka dari jendela kelas, langsung berlari sekuat tenaga. Tangan kanan ku langsung melemparkan botol itu ke wajah anak laki-laki itu dan membuat wajah dan pakaian nya basah kuyup.
"Duh yahh, Salsa, kamu ngapain, kata nya mau ke toilet, udah sana" Kata ku sambil mendorong Salsa ke arah toilet.
Aku tidak ikut ke toilet bersama Salsa, urusan ku belum selesai dengan anak laki-laki itu. Ku tatap dia dengan tatapan mata yang tajam, seakan-akan aku ingin mengatakan "jauhi Salsa! Atau ku hajar kau! Enyah kau dari hadapan ku! ". Mungkin karena dia anak yang pintar, dia mengangguk dan langsung pergi dari hadapan ku.
Aku tersenyum, dan menjitak kepala nya dengan lembut, "aishhh, kalau aku nggak galak, terus siapa dong, kamu? Kamu kan lemah" Kata ku sambil merangkul nya. Kami pun tertawa bersama.
*~*
yang aku ingat selain itu, yeahhh. Waktu aku dan Salsa bertengkar. waktu itu, Salsa tidak sengaja menampar ku. Mama ku yang melihat itu, langsung memarahi Salsa dan melarang ku berteman dengan Salsa lagi. Semenjak hari itu, hubungan keluarga kami merenggang. Retak. Tidak ada yang namanya "Teguran" di kamus kami waktu itu.
Tapi, kalian tahu kan. Aku dan Salsa itu berteman dari kecil. Sangat susah jika tidak bertemu dalam satu hari. Jadi, aku dan Salsa sepakat, kami akan berteman secara diam-diam di sekolah. Tanpa sepengetahuan orang tua kami.
Di sekolah, aku dan Salsa bermain seperti biasa. Tidak ada yang tahu hubungan ku dan Salsa yang kami sembunyikan, sampai, salah satu kakak nya Salsa mengetahui hubungan kami.
Aku dan Salsa meminta nya untuk mengunci mulut nya rapat-rapat. Ternyata dia tidak mau melakukan nya. Dia bilang, ada syarat nya, yaitu, dia minta dibeliin siomay mang Aceng depan sekolah. Karena kami berdua juga lapar, ya sudahlah, belikan saja sekalian.
Kami fikir, kami akan berteman secara sembunyi-sembunyi terus menerus. Ternyata tidak. Kalian ingat kakak nya Salsa yang kami traktir siomay mang Aceng waktu itu? Pasti ingat. Dia membuat keluarga kami berbaikan. Dan, aku dan Salsa? Kami berteman kembali. Tanpa ada rasa takut ketahuan.
Terima kasih untuk kakak Salsa, untung kami traktir siomay kamu kemarin.
Tapi... Semenjak keluarga kami berbaikan. Sikap Salsa berubah. Dia jadi sangat pendiam, dia selalu terlihat tidak bersemangat ketika bersama ku. Aku penasaran, apa aku punya salah pada nya, sampai-sampai dia selalu tidak bersemangat ketika bersama ku. Dan aneh nya, dia juga selalu menggunakan pakaian dengan lengan yang panjang. Padahal, Salsa yang ku kenal, tidak suka menggunakan pakaian lengan panjang, karena menurut nya panas.
"Salsa. Apa aku punya salah pada mu? " tanya ku pada Salsa yang sedang melamun.
"tidak ada" jawab nya singkat padat dan jelas.
"terus kenapa kamu selalu tidak bersemangat ketika bersama ku? " tanya ku lagi.
"semua ini tidak ada hubungan nya dengan mu Lia. Tapi... ibu ku" kata nya sambil membuka lengan pakaian nya yang mana membuat ku terkejut. Saat itu, pemandangan yang sama sekali tak pernah ku bayangkan, yang mana tangan Salsa penuh dengan luka seperti luka sayatan.
"apa ibu mu... "
to be continued
Q: Author ganti judul ya?
A:iya
Q:kenapa?
A:karena judul yang sebelum nya itu rada gak cocok sama alur cerita nya nanti jadi begitulah, saya ganti judul dan cover nya.