
Gimana ya, pas masih bocah kalian pasti pernah minta sama Tuhan biar cepet-cepet gede. Tapi pas udah gede, kalian pingin jadi anak kecil lagi. Serba salah tahu.
*~*
Aku dan Salsa masih tertawa geli, mengingat semua kenangan masa kecil kami yang sangat lucu. Aku melirik ke arah Salsa yang melihat langit-langit rumah nya sembari ia tersenyum.
Aku mendekat kan tangan ku dan menggenggam tangan nya dan mengikuti nya yang melihat ke langit-langit rumah. "Salsa, apapun yang terjadi. Kita harus siap, " Ucap ku sambil memejam kan mata ku.
Salsa mengangguk kan kepala nya dengan pelan. "Sebenar nya. Aku tidak marah pada mu karena kamu mengikuti ku tadi. Dan juga, kamera yang kau pasang di kamar ku. Aku malah bersyukur, kau sudah mengetahui semua nya sendiri. Padahal aku tahu, kamu ingin mendengar semua ini dari ku secara langsung kan?, " Tanya Salsa sambil menoleh ke arah ku.
Aku membuka mata ku, dan menoleh ke arah nya. "Sa. Kita kan sahabat, seharus nya kau tak perlu menyembunyikan masalah ini, " Omel ku pada Salsa. Salsa hanya tersenyum kecil, kemudian memalingkan pandangan mata nya dari ku.
"Lia. Dengar, kau harus hati-hati. Mungkin, beberapa hari ini, aku tidak bisa bersama mu, " Ucap Salsa.
"Kau mau kemana?, " Tanya ku bingung.
"Aku ada rencana. Sini ku bisik kan, " Ucap Salsa sambil duduk dari rebahan.
*~*
Giska poV.
Keluarga ku, sedang tidak berada di rumah. Mereka pergi ke rumah paman. Sebenarnya aku ingin ikut ke sana. Menjelaskan situasi yang ku lihat dan dengar sendiri tadi siang. Tapi, aku memilih untuk berdiam di rumah terlebih dahulu. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus ku katakan di sana. Lebih baik, aku memikirkan rencana ku dengan sangat matang. Agar tak ada masalah sedikit saja yang terjadi.
"Aku ingin semua ini mulus. Tanpa di ketahui Alex sedikit pun, " Kata ku sambil melihat ke arah buku catatan ku.
"Aku apa?!. "
Aku tersentak kaget dengan suara itu. Aku melihat ke arah pintu rumah, dan ku lihat Alex sudah berdiri di depan sana. Aku langsung menutup buku catatan ku yang berisi semua rencana yang akan ku jalan kan nanti untuk membantu kedua sahabat ku itu.
"Buku apa itu?, " Tanya Alex sambil masuk ke dalam rumah ku tanpa meminta izin dari ku.
Aku mengambil buku itu, dan menyembunyikan nya di belakang tubuh ku sambil berkata " Bu-bukan apa-apa. Ini hanya buku catatan bahasa, " Ucap ku mencoba tetap tenang, walau jiwa ketakutan ku bergetar.
"Benar kah? Coba ku lihat. Kebetulan aku ada yang kelupaan untuk di catat, " Ucap nya sambil berjalan mendekati ku sembari tangan nya mencoba mengambil buku yang ku sembunyikan tadi.
"Ti-tidak ada apapun, " Ucap ku sambil melempar buku itu ke dalam kamar ku, dan mengunci kamar ku. Dan ku letakkan kunci kamar ku di kantong celana pendek ku. Aku tahu Alex tidak akan berani masuk ke dalam kamar ku, apalagi aku sendirian di rumah. Kalau dia macam-macam tinggal teriak dan di hajar warga.
"Apa sih, gak jelas, " Ucap Alex kesal sembari duduk di tempat yang ku duduki tadi.
"Sehabis kamu duduk di sini, panas banget nih sofa. Aku yakin, pasti di masa depan anak mu banyak sekali, " Ledek nya.
Aku hanya diam. Memperhatikan gerak-gerik nya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Biasa nya di sekolah, dia terkenal anak laki-laki yang populer dan sopan. Tapi jika di rumah. Dia menjadi anak yang tidak sopan, tidak tahu malu, dan mesum:).
"Duduk lah, ada yang ingin ku tanya kan pada mu, " Ucap Alex sambil menarik ku duduk di sebelah nya.
"Hey-".
" Jika tentang Lia ataupun Salsa lagi, jawaban ku tidak akan berubah. Tetap sama, " Ucap ku sambil agak menjauh kan tubuh ku dari tubuh besar nya.
"Bukan tentang Lia ataupun Salsa. Tapi tentang kebohongan mu, " Ucap Alex sambil mendekat kan tubuh nya pada ku.
"Nih anak mulai deh mesum nya, awas saja kau jika macam-macam, ku hajar kau, " Umpat ku dalam hati.
"Kebohongan apa?, " Tanya ku bingung dan bersikap sok cool.
"Ingat waktu kita berdua di minta Lia untuk menjaga Salsa karena dia demam. Kau bilang adik mu jatuh dari tangga? Tapi nyata nya, adik mu baik-baik saja tuh. Tidak ada yang terluka," Ucap nya dengan tatapan mata nya yang tajam.
"Kemana kau?, " Tanya Alex lagi.
Alex tersenyum nakal, dan kemudian berkata "Kau tahu Giska. Kau itu sama cantik nya dengan mereka berdua. Tapi sayang nya, kau itu adik sepupu ku, jika kau bukan adik sepupu ku, aku pasti sudah..., " Ucap nya mengantung sambil tangan kanan nya mengelus wajah ku dengan sangat lembut.
"Sudah apa?!, " Kata ku dengan nada suara yang sudah mulai terdengar ketakutan.
"Pasti sudah ku serang, " Ucap nya sambil mendorong tubuh ku menjauh dari nya, membuat tubuh ku telentang di atas sofa rumah ku yang memang berbentuk seperti kasur.
"Akhhh. Sakit tahu?! Aduh pantat ku, " Ucap ku menahan sakit.
"Ada apa dengan pantat mu? Mau ku elus? Dan lagi, seperti nya kamu benar-benar membuat ku tergoda dengan celana pendek mu yang memperlihatkan jelas paha mu, " Ucap nya sambil menatap ku dengan tatapan nakal nya. Alex berdiri, berjalan mengarah ke pintu rumah. Apa yang ingin dia lakukan.
Klapp.
Dia menutup pintu rumah ku dan mengunci nya dari dalam. Aku semakin ketakutan. "Ke-kenapa kau tutup pintu nya? Bu-buka, " Kata ku mencoba berdiri.
Seperti nya Alex tak membiarkan aku bangun dari sofa. Dia berjalan dengan cepat ke arah ku. Aku ingin berlari, tapi kaki ku tiba-tiba sakit. Aku tidak bisa berlari.
Aku siap meneriakkan suara ku. "To-". Alex dengan cepat membungkam mulut ku dengan tangan nya. Kini aku merasa tubuh ku tak dapat bergerak sama sekali. Aku menaikkan wajah ku, mencoba melihat, kenapa aku tidak bisa bergerak.
Kaki Alex mengunci kaki ku. Dan dia dengan cepat menindih tubuh ku dengan tubuh nya yang besar. Tangan ku mencoba untuk memukul kepala nya, namun tangan nya Alex malah membuat tangan ku melingkar di atas leher nya.
"Wahh, seperti nya kau sudah tak tahan lagi ya, " Ucap nya dengan tatapan mata nya yang nakal.
Aku menatap Alex dengan tatapan yang mempunyai banyak arti. Aku terpaksa memelas, agar dia bisa melepaskan aku dari tindihan tubuh nya. "Awhh, jangan memelas sayang. Aku semakin bergairah loh, " Kata nya sambil tangan nya mengelus wajah ku dan kemudian turun ke leher ku.
Air mata ku turun dengan sangat cepat. "Tunggu sebentar, ada yang kurang, " Ucap nya sambil merogoh sesuatu di kantong celana nya.
"Untung aku selalu menyimpan ini, " Ucap nya sambil menunjuk kan pada ku sebuah tali berwarna merah.
Dia memotong tali itu dengan mulut nya. Dan menarik kedua tangan ku ke atas, dan mengikat kedua tangan ku. Aku semakin ketakutan. "Lepas!," Teriak ku pada nya. Alex hanya tersenyum nakal melihat ku yang sudah sangat ketakutan.
Aku dapat melihat wajah mesum Alex. Seperti nya dia sudah tidak tahan dengan nafsu nya. Aku harus mencari jalan keluar. Untung nya kaki ku tidak ia ikat, tanpa fikir panjang, aku langsung menendang nya tepat di bagian privasi nya.
"Akhhh!. "
Alex kesakitan dan memegangi bagian privasi nya. Selagi dia sibuk dengan rasa sakit nya. Ku putar otak ku, mencari jalan keluar dari masalah ini. Aku berdiri dan berlari ke arah kamar tidur ku. Tapi aku lupa, kunci kamar ku ada di kantong celana ku.
"Bagaimana ini, bagaimana ini, " Risau ku dalam hati sembari tangan ku merogoh-rogoh kantong celana ku.
Crikkk.
Akhh, kunci nya jatuh ke lantai. Aku menundukkan tubuh ku untuk mengambil kunci itu. Tapi aku terlambat, Alex sudah berdiri di hadapan ku dengan wajah yang terlihat jelas sangat marah. Aku menelan ludah ku saking takut nya aku.
Alex mengambil kunci kamar ku, dan membuka kamar ku. "Uahhh." Dia langsung menggendong ku ke dalam kamar ku, dan melempar ku ke kasur. Dia mengunci kamar ku lagi. Ia juga tak lupa, meletakkan kunci itu di kantong celana nya.
"Ahhhh, kamu pintar sekali sayang. Mengajak ku bermain di kamar, " Ucap nya sambil melihat-lihat kamar ku.
Dia dengan cepat menindih tubuh ku. Nafas ku tersendat, karena sesak akibat tindihan tubuh nya yang secara tiba-tiba. "Sayang, kamu agresif sekali ya, main tendang aja. Kalau terjadi apa-apa dengan 'nya' bagaimana, nanti kamu gak bisa merasakan kenikmatan 'nya' loh " Ucap nya sambil mengelus paha ku.
"Tidak akan pernah!, " teriak ku.
"Siap-siap ya. Ku pasti kan kau akan menerima kesakitan dan kenikmatan yang luar biasa, " Ucap nya sambil menciumi leher ku dan mulai turun ke dada.
"Tuhan, tolong aku, " Ucap ku dalam hati sambil menahan sakit akibat gigitan dari Alex di leher ku.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__