
"Jadi, kamu pilih siapa? " Tanya kakak ku sambil menyilang kan tangan nya.
"Akbar, atau Alex? ".
"Apa-apaan ini. Kenapa, tiba-tiba Alex dan Akbar?" Tanya ku pada kakak ku.
"Kakak tanya. Alex atau Akbar? Jawab saja" Kata nya.
"Tidak ada. Mereka semua teman baik ku" Kata ku sambil menghadap ke cermin kembali.
"Yang benar? Pasti kamu menyukai salah satu dari mereka" Kata kakak ku sambil memasang mimik wajah mengintimidasi.
"Tidak ada. Sudah keluar sana. Aku mau mandi" Kata ku sambil mendorong kakak ku keluar dari kamar ku.
"Heh. Tidak sopan kamu ya" Kata nya.
"Yang benar saja?! " Kata ku sambil menutup pintu kamar ku.
Aku mandi setelah mengambil handuk dan pakaian ku di lemari. Seusai mandi, aku terduduk di dekat jendela kamar ku. Aku berdiri, dan duduk di atas kusen jendela kamar ku. Dari atas sini, aku bisa langsung melihat pemandangan komplek rumah ku. Ada banyak anak-anak bermain, dan kendaraan bermotor lalu lalang.
Aku menghela nafas, dan mengeluarkan kedua kaki ku menyentuh dinding luar kamar ku. Ku ambil buku tulis ku yang sedari tadi, sudah ku letak kan di dekat jendela kamar ku. Aku mulai menulis beberapa penggal puisi. Mencoba menumpah kan segala kebimbangan hati ku.
**Dear diary, 230320
Saat ini, aku sedang jatuh cinta
Dia laki-laki yang sudah lama ku perhatikan
Menurut ku dia anak yang baik
Walau dulu, aku begitu membenci nya
Karena sikap tak sopan nya pada ku
Tapi, Lama-lama.
Aku mulai terbiasa dengan sikap nya.
Dan bodoh nya, perasaan cinta yang tak pernah ku rasakan selama hidup ku
Tumbuh begitu saja, dan membiarkan aku mengukir nama laki-laki itu di hati ku
Apa ini yang nama nya karma?.
Kebencian yang tertimbun di dalam hati ku
Tapi berbunga cinta yang sebenarnya.
-Lia**-.
"Ha-hhh, jika saja, aku tidak membenci nya waktu itu, apa cinta ini akan tumbuh? ".
*~*
Malam nya, aku duduk di meja belajar ku. Mulai menulis puisi kembali. Saat ini, aku benar-benar tidak tahu, apa yang harus ku lakukan. Aku merasa, aku tidak tahu. Seperti tidak ada yang bisa ku kerjakan selain menulis puisi di diary ku.
**Dear diary, 230320
Dari dulu, nama ku selalu tertulis rapi di buku ini
Dan mungkin saja, nama mu selanjutnya
Ukiran-ukiran aneh yang ku buat
Yang menghiasi nama ku dan nama mu
Yang mana terasa sedang mengikat kita berdua dengan suatu ikatan
Dan...
Bagaimana nasib tulisan-tulisan indah yang ku buat?
Tulisan yang sama sekali tidak bisa kau dengar
Yang hanya bisa kau rasakan lewat batin mu
Tulisan yang berharap, rasa cinta ini tersampai kan pada mu
-Lia**-
Ku tutup buku diary ku dan aku beranjak keluar dari kamar ku. Ku dengar ada suara bising dari ruang tamu. Saat ku intip, ternyata, rumah kami sedang kedatangan tamu. Aku tak mengenal siapa mereka. Tapi yang jelas, mereka terlihat akrab dengan orang tua ku.
Aku berjalan, pergi ke kamar kakak ku. Saat aku masuk ke dalam kamar nya, kamar nya begitu berantakan. Lantai nya penuh dengan kertas yang sudah di lipat. Dan ku lihat. Dia duduk di meja belajar sambil mengacak-acak rambut nya yang agak kecoklatan.
Aku tidak meminta izin pada nya untuk masuk ke dalam kamar nya. Aku langsung merebah kan diri ku ke kasur nya, yang mana berhasil membuat nya menoleh ke arah ku.
"Ngapain dek? " Tanya nya.
"REBAHAN" Jawab ku.
Kakak ku tersenyum dan kemudian fokus kembali ke buku yang ada di depan nya. Apa anak kuliah itu benar-benar sibuk ya? Setiap hari, dia selalu mengerjakan tugas nya. Tidak ada waktu untuk berkumpul dengan kami kembali. saking sibuk nya, semua bagian pekerjaan rumah nya, aku yang mengerjakan nya. Yeahh, contoh nya, nyuci piring? Ngepel, atau ya masih banyak lagi.
Setiap kali mama ku menyuruh nya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dia selalu berteriak. "Adek ma!! Dia main HP terus! ". Kata nya begitu. Setiap kali orang tua ku keluar atau bepergian ke luar rumah, dan menitip kan pesan untuk membersihkan rumah. Kakak ku pasti akan menyuruh ku melakukan nya. Gimana, kalian punya gak kakak nyebelin seperti kakak ku ini? Pasti ada.
Gimana rasa nya? Nyebelin nggak? Pasti nyebelin nya na'udzubillah. Pengen banget di hajar.
Tiba-tiba, aku mendengar suara panggilan dari mama ku. Memanggil nama ku dan nama kakak ku. Dia menyuruh kami untuk keluar dari kamar, dan juga menyuruh kami untuk menemui tamu yang datang ke rumah kami tadi. Aku dan kakak ku langsung berlari keluar kamar, menemui tamu yang ada di luar.
"Oalah, ini ya si bungsu" Kata wanita yang terlihat seumuran dengan mama ku.
Aku yang bingung dengan situasi ini. Hanya diam dan melayang kan senyuman pada wajah ku. Wanita itu, berdiri dan berjalan ke arah ku. Dia melayang kan senyuman pada wajah nya dan tiba-tiba tangan nya menyentuh pipi ku dengan sangat lembut.
"Saya ingat banget, waktu kamu kecil wajah mu selalu kotor dengan tanah. Dan sekarang, kamu cantik banget, udah besar lagi, nggak nyangka saya. Padahal, waktu terakhir kali ketemu saya, kamu masih kecil banget. Masih bisa saya gendong. Waktu itu cepat sekali ya berjalan " Kata nya dan tangan nya masih menyentuh pipi ku.
"Tolong. Siapapun. Selamat kan aku dari situasi Ini. Ini orang, siapa lagi? Aku gak kenal. Hey, kamu siapa? SKSD beut. Sok Kenal Sok Dekat! " Tanya ku dalam hati yang mana aku bingung karena dia terus-menerus menyentuh pipi ku dan berkata sok akrab pada ku. Padahal, aku sama sekali tidak mengenal nya.
"Kamu pasti bingung, siapa saya. Tiba-tiba langsung menyentuh pipi mu saja" Kata nya sambil menghentikan tangan nya menyentuh pipi ku.
Dia duduk, dan menyuruh ku duduk di samping nya.
Aku mengikuti perintah nya yang menyuruh ku duduk di samping ku. "Kenalkan, saya calon mertua mu di masa depan" Kata nya sambil meletakkan tangan nya di dada nya.
"Hah?! Calon mertua? " Tanya ku sambil memasang wajah kebingungan.
Kemudian seisi rumah tertawa dengan keras melihat ekspresi wajah yang ku keluarkan. Termasuk kedua orang tua ku dan kakak ku. Ya... Gimana nggak bingung coba. Aku nggak kenal dia. Dia tiba-tiba muncul. Langsung menyentuh pipi ku dan sok akrab. Dan langsung mengatakan kalau dia " Calon mertua ku di masa depan". Yang benar saja. Ini lelucon? Please dah. Jangan bercanda.
"Nggak kok, bercanda. Tapi semoga saja, di masa depan kamu nikah sama anak saya" Kata nya sambil memejam kan mata nya sembari tangan nya menggenggam tangan kanan ku dengan sangat erat.
Apa sih? Aneh. Gak jelas. Gak jelas banget sumpah. Nih orang kenapa dah? Auah, senyumin aja. Pura-pura bodoh dulu deh, biar dia senang.
Aku hanya tersenyum dengan perkataan yang di keluarkan nya pada ku. Seakan-akan, aku hanya mengiyakan perkataan nya yang sama sekali tak ku mengerti itu. Tiba-tiba dia mengambil sesuatu di dalam tas nya. Dan memberi kan aku sebuah kotak pada ku.
"Buka" Kata nya sambil tersenyum pada ku.
Saat ku buka, isi nya adalah sebuah kalung berbentuk liontin hati. "Apa ini? " Tanya ku bingung dengan pemberian nya.
"Kalung. Ini saya kasih buat kamu sebagai hadiah ulang tahun mu. Dan buat kakak mu, juga ada. Tapi dia bukan liontin berbentuk hati. Kakak mu tidak terlalu suka dengan bentuk liontin seperti itu. Dia pernah bilang waktu dia kecil, kalau dia suka dengan kalung bentuk bintang. Jadi saya beliin yang bentuk bintang" Kata nya sambil memberikan kotak yang sama pada kakak ku.
"Terima kasih" Jawab kakak ku.
"Kamu, pakai ya. Sini saya bantu Pakaikan" Kata nya sambil memasang kan kalung liontin itu pada leher ku.
"Jangan di lepas ya" Pesan nya pada ku.
"Iya, tidak akan saya lepas kan, Terima kasih untuk kalung nya" Kata ku sambil mengangguk kan kepala ku dengan pelan.
"Sama-sama" Jawab nya bersama suami nya secara bersamaan.
*~*
Sebelum mereka pulang. Mereka mengingat kan ku pesan yang di berikan nya tadi. Dia bilang, untuk tidak melepas kan kalung liontin ini, dengan alasan, biar mereka bisa mengingat ku. Terserah lah.
"Tapi, kalung ini bentuk nya bagus sekali. Pas sekali dengan ku, cocok" Kata ku sambil menatap diri ku di cermin sembari tangan kanan ku menyentuh mainan kalung berbentuk liontin hati yang menjuntai di leher ku dengan indah.
Aku berjalan ke arah tempat tidur ku. Aku duduk di samping ranjang ku, dan ku ambil boneka yang ku dapat tadi siang. Boneka pengantin, dari Akbar tercinta, aishh.
"Boneka. Situasi tadi begitu membingung kan untuk ku. Masa sih, tiba-tiba ada seorang wanita dan laki-laki yang seperti nya seumuran dengan orang tua ku. Mengaku kalau mereka akan menjadi calon mertua ku di masa depan? Yang benar saja? Aneh kan. Terus dia ngasih kalung ini untuk ku sebagai hadiah ulang tahun ku? Padahal, ulang tahun ku kan masih lama. Dan dia juga berpesan, untuk tidak melepas kan kalung ini dari leher ku. Dengan alasan, agar mereka dapat mengingat ku? Auah, aku bingung" Kata ku sambil memeluk erat boneka ku.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__