My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 21 Who Are You Alex?



Aku dapat melihat wajah Salsa yang tiba-tiba memucat dari balik dinding. Tiba-tiba, perasaan ku tidak enak. Aku berjalan pelan mendekati Salsa yang tampak kebingungan sekaligus ketakutan. Entah apa yang di lakukan Alex pada Salsa.


"Salsa? " Panggil ku sambil menepuk bahu kiri nya.


Dia agak terkejut dengan tepukan bahu nya yang datang dari ku. Aku menarik nya, duduk di sofa kembali. Aku membuat kan nya teh panas di dapur, karena aku fikir, teh dapat menghangat kan tubuh nya dan juga dapat menenang kan diri nya.


Aku membuat kan dua teh panas, satu untuk nya, dan satu untuk ku. Yeahh, karena cuaca sudah agak mendung dan angin yang akan membawa hujan, terus-menerus berhembus.


"Ini teh nya" Kata ku sambil memasang wajah ceria agar dia tidak curiga, kalau aku tahu Alex baru saja mendatangi nya.


"Kenapa ada dua? " Tanya nya sambil mengambil teh yang sudah ku letak kan di meja.


"Ya, satu buat ku lah" Kata ku sambil duduk di samping nya.


Aku tak berani untuk menanyakan secara langsung pada Salsa. Apa yang baru saja terjadi. Aku, hanya harus membuat nya bercerita tanpa ku minta.


"Rasa nya tadi ada handphone hitam, kok nggak ada? " Tanya ku mencoba mengalih kan perhatian.


"Oh sudah, di ambil Alex" Jawab Salsa membuat nya agak sedikit terkejut.


"Alex? Dia datang lagi? Kok nggak bilang? " Tanya ku pada Salsa.


"Eh, itu, setelah dia mengambil handphone nya, dia langsung pulang" Jawab Salsa dengan wajah yang agak panik.


"Yang benar? " Selidik ku karena aku tahu dia berbohong.


"Iya, aku gak bohong ko-".


Brukk.


Sebelum dia selesai bicara, tiba-tiba, tubuh nya ambruk ke tubuh ku. Dia pingsan?! Aku panik, kenapa dia tiba-tiba pingsan? Aku langsung membawa nya ke kamar tidur nya. Aku menelpon mama ku, meminta mama ku, memanggil bidan atau dokter terdekat.


Aku duduk di samping tempat tidur Salsa, dengan wajah yang begitu panik. Tak lama, mama ku datang bersama bidan. Dia membawa seorang bidan, dan menyuruh nya untuk memeriksa keadaan Salsa. Mama ku tak kalah panik dengan ku. Dia duduk menemani ku yang juga panik dengan keadaan Salsa.


"Bu, anak ini, hanya kelelahan di tambah tubuh nya memang agak demam. Dia terlalu banyak fikiran, karena terlalu banyak fikiran, dia jadi tertekan. Saya minta untuk anda, menghibur nya, agar dia lupa sejenak dengan masalah nya, ini saya beri obat dan vitamin" Kata bidan itu sambil memberi kan beberapa obat yang akan di makan Salsa.


Mama ku berpesan untuk menjaga Salsa dengan baik, mama ku pulang sembari mengantar kan bidan itu pulang. Sebelum pulang, bidan itu menjelaskan pada ku, untuk kapan dan bagaimana obat itu di minum. Aku memasak air hangat untuk mengompres kepala Salsa yang sedang demam.


Dia tertidur, dengan wajah yang pucat, tubuh yang hangat, dengan tangan yang masih menggenggam sesuatu padahal tidak ada yang ia genggam. Aku mengambil sapu tangan yang ada di lemari nya, dan mulai mengompres kepala Salsa.


"Cepat sembuh Salsa" Kata ku.


Aku berdiri, mengambil handphone yang ada di meja depan. Dan kembali lagi ke dalam kamar Salsa. "Siapa nama asli Alex ya? " Tanya ku dalam hati. Aku menuliskan pesan kepada Alex, menanyakan nama asli nya, karena pas sekali dia sedang online.


"Alex, ganggu nggak? ".


" Nggak, kenapa? " Balas nya.


"Mau tanya. Nama asli mu siapa? Tadi bu Ana nanya" Ketik ku dengan menyertakan emoticon tertawa.


"Alexiel Za Alexander, buat apa?" Tanya nya.


"Oke, mana ku tahu, bu Ana yang tanya" Jawab ku.


"Oke".


" maafkan aku bu Ana" kata ku memohon maaf.


Aku langsung menyalin nama asli Alex, dan mencari nya di internet. Tiba-tiba, semua artikel langsung muncul begitu saja. Saat ku lihat satu persatu artikel itu. Betapa terkejut nya aku. Kalau dia, adalah anak dari CEO di perusahaan Axiel Group. Tempat kerja nya ayah Salsa?


"Apa ini? Kenapa seperti ini? ".


Aku langsung mematikan handphone ku saat aku mendengar Salsa mengerang. Aku langsung menyentuh kening nya yang masih panas, aku kembali mengompres nya.


Aku memegang tangan nya yang dingin. Saat ku lihat ternyata kipas kamar menyala. Aku langsung mematikan kipas itu, dan kemudian duduk kembali ke sebelah Salsa.


"Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada keluarga mu" Kata ku sambik menggenggam tangan Salsa.


*~*


Aku meninggalkan Salsa di kamar nya sendirian. Dan aku pergi ke dapur untuk memasak. Tapi sayang nya, aku tidak bisa memasak. Niat nya sih mau cari tahu resep nya di internet, tapi aku takut gagal.


Jadi aku meminta bantuan pada Akbar. Iya, aku tahu, aku modus. Tapi gak apa lah, sesekali. Aku mengirimi nya pesan, bertulis "bagaimana cara masak nasi goreng? " Tanya ku.


"Cari di internet" Jawab nya.


"Nanti aku gagal".


" Kalau begitu nanti gagal juga dong kalau ku kasih tahu" Jawab nya lagi.


"Nggak bakal" Jawab ku.


"Ya sudah, bahan nya itu bla... Bla... Bla".


" Ok thanks ".


Dia hanya membaca pesan terakhir ku. Balas kek, atau apa kek, ini malah di read doang. Aku langsung mengikuti tata cara yang di ajar kan akbar pada ku tadi.


15 menit kemudian;


Jeng... Jeng....


" Makanan ku berhasil! Wuihhh aku berhasil" Kata ku senang tapi dengan suara yang pelan agar tidur Salsa tidak terganggu.


"Lia! ".


Salsa memanggil ku, aku berlari ke arah kamar nya. Ku lihat dia ingin beranjak bangun dari tempat tidur nya. Tapi aku melarang nya bangkit dari tempat tidur nya. Aku menyuruh nya untuk duduk saja di sana.


"Yeyy, hebat".


Aku mengambil kursi yang ada di meja belajar Salsa. Aku mendudukkan pantat ku, dan tangan ku bergerak untuk menyuapi Salsa makan.


" Aku bisa makan sendiri " Kata Salsa sambil menggeleng kan kepala nya.


"Hari ini, aku akan jadi perawat mu, jadi jangan banyak protes" Kata ku sambil memarahi nya.


Salsa pasrah dengan aku yang baru saja memarahi nya. Salsa membuka mulut nya, dan tangan ku menyuapi nya. Salsa mengunyah nasi goreng itu dengan perlahan.


"Bagaimana? Enak nggak? " Tanya ku dengan mata berbinar.


"Enak, lebih enak dari buatan ku" Kata Salsa.


"Kamu tahu nggak, aku di ajarin akbar loh bikin nasi goreng" Kata ku dengan wajah yang begitu bahagia.


"Kok bisa? Cieee... Udah ada nomor nya" Kata Salsa sambil memasang wajah menggoda ku.


"Iya dong" Kata ku.


Aku dan Salsa tertawa, aku kembali menyuapi nya. Seusai Salsa makan, kini giliran ku makan. Aku makan di kamar Salsa. Dan Salsa tidur di kasur dengan kompresan yang masih menempel di kepala nya.


"Kamu mikirin apa sih Sa? Sampai sakit begitu? " Tanya ku sambil menyuapkan nasi ke mulut ku.


"Eh, nggak tahu" Kata nya memaling kan pandangan nya dari ku.


"Aih, nggak tahu semua kamu" Kata ku sebal.


*~*


Malam nya, aku tidur di sebelah Salsa. Salsa tidur dengan sangat tenang, aku masih mengompres kepala nya. Aku berniat untuk tidak tidur malam ini. Aku akan menjaga Salsa.


*~*


Keesokan pagi nya;


Di sekolah;


"Kenapa Salsa tidak sekolah? " Tanya Giska di depan ku dan Alex.


"Dia sakit. Dia demam" Kata ku.


"Demam? " Tanya Alex.


"Iya, demam. Setelah kamu pulang dari rumah Salsa kemarin. Dia tiba-tiba pingsan, aku panik kenapa dia tiba-tiba pingsan. Ternyata dia kelelahan" Kata ku sambil memakan makanan yang ku beli di kantin.


"Kalian berdua bisa kan jagain Salsa hari ini? Aku mau tidur, semalam aku nggak tidur ngejagain Salsa" Kata ku sambil memasang wajah memelas pada Alex dan Giska.


Mereka berdua mengangguk kan kepala nya pertanda setuju. "Baik" Jawab Giska di sambut anggukan kepala Alex.


"Terima kasih" Jawab ku.


Sepulang sekolah;


"Salsa ada di kamar nya, mungkin. Jangan biarin dia tidur di lantai, dengan kipas angin yang menyala, suruh dia tidur di kamar. Makan juga suapin, jangan nggak di suapin" Pesan ku pada mereka berdua.


"Iya Lia" Jawab Giska.


Aku langsung pulang ke rumah ku.


Alex poV


Malesin. Malesin banget. Sebenarnya aku malas banget ke sini. Karena permintaan Lia aja aku mau kesini. Sebenarnya, sih malesin minta ampun. Untung ada Giska di sini.


Drrtt... Drrtt... Drrtt...


Handphone Giska berbunyi. Telepon dari seseorang. Dia mengangkat nya. "Eh? Aku harus pulang? Adek jatuh dari tangga? Iya ma, aku segera pulang" Kata nya.


"Alex, aku pulang dulu ya. Jagain Salsa bener-bener ya. Adek ku jatuh dari tangga" Kata nya sambil berlari meninggalkan aku di rumah Salsa sendirian.


"Gis-".


Hufftt. Aku masuk ke dalam rumah Salsa dengan mengetuk pintu rumah nya. Tidak ada jawaban. Aku mengintip, dan ku lihat Salsa tidur di lantai dengan kipas angin yang menyala. Tiba-tiba aku mengingat pesan yang di berikan Lia pada ku, untuk tidak membiarkan Salsa tidur di lantai.


" Sa, bangun. Jangan tidur di lantai. Tidur di kamar" Kata ku sambil menggoyang kan tubuh nya.


"Nggak mau. Panas" Kata nya.


Ini anak bandel banget. Di bilangin jangan tidur di lantai, masih aja tidur di lantai. Aku meletakkan tas sekolah ku di sofa. Aku menundukkan tubuh ku. Dan... Aku menggendong Salsa ke dalam kamar nya. Tiba-tiba, mata ku melihat wajah nya yang tertidur.


"Apaan sih, kenapa malah ngeliatin dia? " kata ku dalam hati kesal.


"Tidur di kamar saja" Kata ku sambil menurun kan nya perlahan-lahan.


"Ih panas Lia" Teriak nya.


Dia bangun dan menatap ku dengan tatapan terkejut. Dia langsung duduk menjauh dari ku. Wajah nya tiba-tiba menjadi ketakutan. Seperti melihat hantu saja ketika melihat ku.


" Ke-kenapa kau ada di kamar ku? " Tanya nya.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__