My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 22 Raindrop (1)



Dia bangun dan menatap ku dengan tatapan terkejut. Dia langsung duduk menjauh dari ku. Wajah nya tiba-tiba menjadi ketakutan. Seperti melihat hantu saja ketika melihat ku.


" Ke-kenapa kau ada di kamar ku?," Tanya nya.


Dia memasang wajah ketakutan ketika melihat ku. Aku berjalan mendekati nya dan duduk di samping kasur nya. Saat aku duduk di samping kasur nya, dia duduk semakin menjauh dari ku. Hufftt. Aku menghela nafas ku, mencoba bersabar dengan Salsa.


"Aku di sini buat ngejagain kamu, sebenarnya sih aku males, kalau bukan Lia yang minta, aku mana mau," Kata ku sambil memainkan handphone ku.


"Pulang. Aku nggak perlu di jagain, aku bisa sendiri," Kata nya lembut tapi tegas.


"Tidak bisa. Lia masih ada di rumah nya. Saat dia kembali, maka aku akan pulang," Kata ku sambil berhenti memainkan handphone ku.


Krucukk.


Suara apa itu? Suara perut Salsa? Saat aku menatap wajah Salsa, wajah nya sudah memerah pertanda malu. Dia menunduk kan kepala nya, takut aku tahu kalau dia malu. Mungkin.


"Hufftt. Tunggu, aku buat kan makan siang dulu, " Kata ku sambil pergi meninggalkan nya di kamar nya.


Aku berjalan ke arah dapur rumah nya. Biasa nya, kalau orang sedang demam, makanan apa yang enak? Mungkin sup ayam? Aku membuka kulkas yang dekat dengan rak piring, melihat-lihat bahan makanan yang ada di dalam nya.


"Pas sekali untuk membuat sup ayam."


20 menit kemudian:


Seusai memasak sup, aku langsung mencuci piring kotor nya. Setelah itu, aku membawa sup itu ke dalam kamar Salsa. Aku duduk di samping kasur nya, bersiap untuk menyuapi nya. Dia terlihat kebingungan.


"Lia bilang, aku harus menyuapi mu, jadi makan, " Kata ku tegas.


Sekilas dia memasang wajah cemberut. "Aku bisa makan sendiri," Kata nya. Aku menggeleng kan kepala ku, dan berkata " Makan, Lia menyuruh ku untuk menyuapi mu. "


Dia membuka mulut nya, dan tangan ku langsung memasuk kan sesuap sup itu. "Bagaimana, enak kan?," Tanya ku dengan percaya diri. Dia hanya mengangguk pelan, sambil mengunyah makanan nya.


Sesudah makan, aku membawa piring kotor itu, dan langsung mencuci nya. Tiba-tiba, aku mendapat kan notifikasi pesan dari Giska. Menyuruh ku memberikan Salsa obat.


"Sa, obat mu ada di mana?, " Tanya ku.


"Di atas televisi," Jawab nya.


Aku mengambil obat nya bersama air putih untuk nya minum. Aku memberi kan obat itu, menyuruh nya untuk memakan obat itu. Aku meletakkan gelas air putih yang di minum Salsa tadi di atas meja. Aku kembali memainkan handphone ku.


"Kamu melakukan semua ini karena Lia kan?," Tanya nya sambil menundukkan kepala nya.


"Iya, memang nya kenapa? Jangan kamu pikir aku melakukan ini karena mu," Kata ku tanpa menatap nya.


Dia diam. Tidak menjawab perkataan ku sama sekali. Aku melirik ke arah nya yang masih menundukkan kepala nya. Aku duduk semakin mendekat ke arah nya dan berkata "kamu tidak mengatakan apa-apa kan ke Lia? Soal buku diary itu? Dan rencana ku?, " Tanya ku.


Dia menggeleng kan kepala nya, tanpa menatap mata ku. "Bagus. Kalau kau macam-macam dengan ku, ingat, nasib keluarga mu ada di tangan ku" Kata ku mengancam diri nya, yang mana berhasil membuat tubuh nya gemetar.


"Aku tahu kau takut, jadi tak usah macam-macam."


" Apa hubungannya dengan keluarga ku? Semua ini tidak ada hubungan nya dengan keluarga ku, kenapa kau mengancam ku seperti ini?, " Tanya nya dengan suara yang tegas namun kepala nya masih tetap menunduk.


"Kenapa ya? Karena kamu, orang yang lemah. Di gertak sedikit saja, sudah ketakutan. Malah jatuh sakit lagi, merepotkan," Kata ku dengan suara mengejek.


"Aku memang orang yang lemah. Tapi bukan berarti kau harus bersikap seperti ini pada ku," Kata nya agak meninggi.


"Kau tidak berhak memanggil Lia sebagai milik mu. Dia bukan milik mu. Tidak akan pernah. Dia sahabat ku, tidak akan ku biarkan kau menyakiti nya, menyentuh nya saja, aku tidak akan pernah membiarkan mu," Kata nya sambil turun dari kasur dan berdiri, mencoba pergi dari kamar tidur nya.


Dia diam, kemudian berkata "Pulang lah. Aku sendirian di rumah. Aku takut, bisa jadi gosip kalau seorang laki-laki ada di kamar anak gadis yang sendirian di rumah," Kata Salsa sambil memasang wajah tegas namun suara nya bergetar ketakutan sembari melepaskan genggaman tangan ku.


"Baik. Tapi ku ingat kan sekali lagi. Jangan bicara apa-apa pada Lia tentang kejadian kemarin," Kata ku membisikkan nya ke telinga nya. Kemudian aku pergi dari rumah nya, tak lupa membawa tas yang ku tinggalkan di sofa tadi. Sebelum meninggalkan Salsa sendirian di rumah nya, aku menoleh ke belakang melihat nya terduduk memeluk lutut.


"Terserah lah."


Brummm.


Alex poV end.


Sementara di tempat Lia dan Giska;


"Apa-apaan ini? Rencana apa yang di maksud Alex?." Giska menatap lurus ke kamera.


"Apa semua ini berhubungan dengan ku?, " Tanya ku dengan kristal bening yang menggenangi mata ku dan siap meluncur bebas ke pipi ku.


*~*


Sebelum pergi ke sekolah tadi. Aku memasang sebuah kamera kecil di kotak yang ada di atas meja belajar Salsa. Kamera itu, ku pasang untuk jaga-jaga. Siapa tahu, ketika Alex di rumah Salsa, maka dia akan mengucap kan sesuatu yang bisa memberi ku petunjuk. Atas ancaman nya yang ku dengar waktu itu. Ancaman yang mengarah ke pada Salsa.


Makanya, ketika aku sampai di rumah. Aku langsung menelpon Giska. Menyuruh nya, untuk ke rumah ku. Dan membuat Giska meninggalkan Alex sendirian di rumah Salsa. Tapi, aku kecewa. Aku tidak banyak mendapatkan petunjuk dari rekaman kamera itu. Yang ku dapat, hanya diary, nama ku, dan ancaman yang ku dengar waktu itu.


Aku juga mendengar Salsa berteriak pada Alex. Dan mengatakan, kalau dia tidak akan membiarkan Alex menyakiti ku. Memang nya, ada apa ini? Apa aku adalah inti dari semua masalah ini? Kenapa harus aku? Why me?


"Lia. Hari ini kamu pelatihan kan. Aku yang akan jaga Salsa di rumah, kita gantian. Aku juga sudah bilang ke orang tua ku, kalau aku akan menginap di rumah Salsa. Jadi, kau bisa tidur dengan nyenyak malam ini,"Kata Giska yang berada di samping ku.


Aku mengangguk kan kepala ku dengan pelan dengan tatapan hampa menatap luas dunia dari jendela kamar ku. Giska pergi ke rumah nya terlebih dahulu, untuk mengambil pakaian ganti.


Aku berjalan, mendekat ke arah jendela kamar ku. Ckleek. Ku buka, jendela kamar ku, dan hufffttt. Aku menghela nafas ku, mencari ketenangan sebentar. Mencoba, menyeka turun nya kristal bening yang sudah menggenang di mata ku.


"Nggak. Nggak bisa. Mata ini sudah hangat."


Aku terduduk di depan jendela kamar ku. Menangisi semua kejadian yang sama sekali tidak ku mengerti. Kenapa ada aku di antara mereka berdua? Kenapa harus aku yang menjadi penyebab utama dari masalah ini?


*~*


Malamnya. Aku melakukan pelatihan. Aku datang dengan mata yang masih sembab akibat menangis tadi siang. Sungguh, hari ini aku benar-benar tidak merasa bersemangat. Padahal, ada Akbar di depan ku. Menatap ku dengan senyuman hangat nya.


Seharusnya aku bahagia. Seharusnya aku semangat bertemu dengan nya. Tapi, apa pantas? Aku bahagia, di atas penderitaan sahabat ku? Salsa menahan sakit di hati nya. Menahan takut ancaman dari Alex, dan masih berniat melindungi ku.


Aku tak pantas untuk di lindungi Salsa. Apalagi, kalau kau yang melindungi ku. Bukan. Bukan nya meremeh kan mu. Aku hanya tidak mau membuat mu terluka. Selama ini, kamu selalu menasehati ku. Untuk memilih kebahagiaan ku sendiri, agar tidak ada rasa sakit yang tumbuh di hati ku.


Tapi kenyataan nya. Kau tidak memilih kebahagiaan mu sendiri. Kau mengorbankan diri mu, hanya untuk diri ku yang naif. Yang sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan mu, dan hanya memikirkan apa mau ku. Maaf kan aku Salsa.


Aku memang tidak terlalu tegas dengan perasaan ku. Bahkan, jika saja kau tidak menasehati ku waktu itu. Aku pasti sudah menggila dengan perasaan yang sama sekali tidak ku sadari kapan tumbuh nya.


"Maaf kan aku. Aku janji. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada keluarga mu."


To be continued...


Terima kasih atas saran dari @namiyanwh untuk memperbaiki bagian dialog cerita ini. Sekali lagi, Terima kasih. Bagi kalian, yang ingin memberikan saran dan kritik, silakan. Saat ini, saya benar-benar membutuhkan kedua nya.


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__