
"Lia! ".
Suara Akbar semakin keras. Suaranya membuat ku ingin muntah. Aku pusing. Saat ini kepala ku pusing sekali. Tolong. Berhenti, jangan berteriak lagi. Aku mohon. Kepala ku rasa nya mau pecah. Aku gak kuat. Aku butuh waktu.
Aku berdiri, berlari ke kamar mandi. "Hueekk!". Dan memuntahkan semua isi perut ku yang sedari tadi membuat ku semakin pusing. Aku terduduk di dalam toilet, sambil mengacak-acak rambut ku. Dan tanpa ku sadari, air mata ku mulai mengalir.
"Sebenernya, aku ini kenapa? Apa aku ini memang menyukai Akbar? Tidak bisa! Luna menyukai nya juga. Aku muak! Tolong hentikan perasaan ini! Aku tak mau pertemanan ku dan Luna hancur, hanya karena kami menyukai laki-laki yang sama" teriak ku di dalam toilet.
Sementara di dekat pintu kamar mandi;
"Lia... ".
*~*
Aku berjalan ke arah wastafel yang terpasang kaca. Melihat mata ku yang sembab, dan wajah kusut ku. Rambut ku acak-acakan. Dan pakaian ku tak rapi. Ku buka sabuk yang membalut tubuh ku, untuk merapikan pakaian ku. Sekalian merapikan rambut dan wajah kusut ku.
" okey. Let's do this! ".
Aku berlari menaiki anak tangga dengan cepat (jangan di contoh ya, nanti kalian jatuh:). Aku melihat Akbar dan senpai botak berjalan mondar-mandir, ke kanan dan ke kiri. Ku hampiri mereka berdua, dengan wajah tak berdosa.
" nah ini anak nya senpai" kata Akbar sambil menunjuk ke arah ku.
"nak kamu kemana aja? Kamu tahu gak kamu bikin saya khawatir. Saya udah lama berdiri di sini, dan kamu belum ada? Terus Akbar bilang kamu lagi di kamar mandi. Dan lama nya minta ampun. Saya gak ngerti, kenapa sih cewek selalu lama kalau ke kamar mandi? " ucap senpai itu sambil meletakkan kedua tangan nya di bahu ku.
"saya juga gak tahu senpai. Kenapa cewek selalu lama di kamar mandi" ucap ku sambil mengangkat kedua bahu ku pertanda tak tahu.
"yahh, sudah lah, sekarang kamu push-up! Kamu ngabisin waktu ngajar saya".
" Apes dah. Baru muntah udah di suruh push-up, ya Allah kuatkan hamba mu" kata ku dalam hati.
"ya sudah. Kita pemanasan dulu".
Senpai itu kemudian memperagakan pemanasan nya, dan kami mengikuti gerakan nya. Selama pemanasan, aku mencuri pandang pada wajah tampa-eh bukan. Wajah ngeselin Akbar.
" Lia kenapa kamu ngeliatin Akbar terus? " tanya senpai.
"nggak ada " ucapku cepat-cepat mengalihkan pandangan ku.
"kenapa suka kamu ya? " tanya senpai itu.
"nggak " jawab ku cepat sambil menggeleng kan kepala ku.
"terus ngapain kamu ngeliatin dia? " tanya nya lagi.
"suka? " lanjut nya.
"hyiii. Aku ngeliatin wajah nya, karena aku udah nggak sabar senpai, buat ngehajar wajah nya " ucap ku dengan semangat membara.
"bagus. Ini lah semangat yang senpai suka. Ayo kita berlatih!! ".
Padahal dalam hati, aku gak semangat untuk berlatih. Maaf keun daku.
Keesokan harinya:
Pagi-pagi sekali, aku berniat berjalan kaki ke sekolah. Niat nya mau naik angkot aja, karena pagi, biasanya angkot sepi. Begitu fikir ku. Tapi nyata nya, Ramai cuyy T_T. Ramai karena ibu-ibu pulang dari pasar, mana belanjaan nya makan tempat lagi.
" Neng, mau kemana? " tanya pak sopir.
"ke sekolah ~~~".
" oke neng".
Di perjalanan, fikiran ku kemana-mana. Aku masih memikirkan perasaan yang tak kunjung ku sadari. Perasaan ini... sudah lama tak ku rasakan, semenjak kejadian "itu".
" Lia.. ".
Akh, Tiba-tiba pikiran ku melintas ke " Dia" lagi. Iya..., dia, sahabat kecil ku yang telah menghilang.
*~*
"makasih neng".
Aku menganggukkan kepala ku, dan bergegas masuk ke sekolah. Di sana, aku tak merasakan tanda-tanda kehadiran, 3 sahabat ku. Giska, Salsa, dan Alex. Mereka kemana ya??
" Halo... beb kuu".
Suara yang paling gak gua srek.
"jijik ah. Loh kok kalian berdua aja? Mana Alex? " tanya ku sambil menatap kedua sahabat ku dengan heran karena tidak ada kehadiran sahabat ku satunya.
"oh, biasa, Alex di panggil kepsek. Kan orang pintar mah sibuk" jawab Salsa sambil merangkul ku dan Giska.
" iya, gak kayak kita, otak nya cetek" ucap Giska.
"sayangnya kami nggak " ujar ku dan Salsa berbarengan sambil terkekeh.
"aishh" dengus Giska dengan kesal.
Kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak.
*~*
"Lia! ".
" Lia! ".
Jduakk.
" Aduhhh, bola siapa nihhh! " teriak ku kesakitan karena habis di cium oleh bola.
Bola basket?
Oh iya, kita kan lagi main bola basket.
"Lia, kamu gak apa? Kepala mu benjol gak? " tanya Salsa.
"kamu ingat gak kamu siapa? Nama? Pacar? Jangan lupa ingatan dong, nanti kami gak bisa nyontek PR mu lagi" kata Giska dengan polosnya.
"aku anak yang cerdas. Nama ku lia. Pacar gak ada, w jomblo. Dan aku gak mau kasih liat PR ku lagi " ucap ku.
"kamu beneran gapapa Lia? Tadi benturan nya kenceng banget loh" ucap Salsa.
"aku gak apa kok" kata ku sambil duduk di kursi panjang sembari tangan ku mengambil air minum di samping kiri ku.
Salsa, dan Giska, kemudian duduk bersama ku di kursi itu. "kamu gak biasanya gak konsen gini beb, biasanya kamu yang paling energik kalau jam olahraga. Tapi sekarang , aku ngerasa kalau ada yang kamu sembunyikan. Cerita Lia" ucap Salsa sambil memasang wajah khawatir.
"aku gak apa " ucap ku sambil tersenyum.
" Bohong. Aku sudah berteman dengan mu dari kecil. Aku tahu kebiasaan, semua tentang mu. Kau bilang, jika seseorang sudah berteman karib, akan ada ikatan perasaan. Sekarang aku bisa merasakan kalau kamu sedang sedih" kata Salsa.
"kok aku gak ngerasain ya? " tanya Giska.
"kamu kan gak peka!" kata ku dan Salsa bersamaan.
"jahat kalian! " jawab Giska.
"Hilih ngambek" teriak Salsa sambil menarik rambut Giska dengan pelan.
"hee narik rambut orang kamu ya, hiyat" seru Giska sambil menarik rambut Salsa juga.
"hehh udah, entar berantem beneran" kata ku sambil tersenyum.
Aku pernah bilang kan, kalau aku, Salsa, Giska, dan Alex adalah teman lama semasa SD? Iya kami memang teman semasa SD. Tapi tidak dengan Salsa. Dia sahabat ku dari kecil, mungkin dari kami bayi.
Karena itu, bukan, mungkin karena kami sudah terlalu lama bersama, Salsa jadi bisa merasakan apa yang aku rasakan. Seakan-akan, ada tali yang memang benar-benar mengikat ku bersama nya. Tapi, bukan nya aku tak senang kalau dia bisa merasakan perasaan ku. Aku hanya takut dia khawatir. Dan aku malu, jika dia mencap ku sebagai orang yang lemah.
...