
Akbar, aku tidak pernah tahu. Apakah kau jodoh ku atau bukan. Yang jelas, aku menginginkan mu untuk sebagai jodoh ku, pendamping hidup ku, dan rumah untuk ku kembali. Tapi, jika Tuhan tidak mengizinkan aku bersama mu, aku akan merelakan mu. Aku ikhlas.
Tapi Tuhan, aku minta satu hal pada mu. Hanya di saat-saat seperti ini, tolong jangan lepas kan genggaman tangan ku dari nya. Akbar, genggam lah erat tangan ku, bawa aku ketempat yang penuh cahaya. Jangan lepas kan tangan ku, aku tidak mau tersesat terlalu jauh dari mu.
Ha-hh...
Mungkin aku ini egois. Egois hanya ingin dia berada di sisi ku. Aku tahu, seharus nya aku tidak boleh egois. Tapi, aku akan sedih jika melihat nya bersama orang lain. Tunggu dulu. Seharus nya aku bahagian juga bukan?
Aku hanya harus bersikap tenang. Tenang seperti air. Aku hanya harus bersikap seperti biasa saja. Agar dia tidak menyadari kesedihan yang tumbuh di dalam hati ku. Kesedihan ku, yang belum tentu terjadi di masa depan ku nanti.
Aku masih ingin menggenggam erat tangan nya. Aku masih ingin merasa kan perhatian nya pada ku. Aku masih ingin merasa kan belaian nya pada ku. Aku masih ingin mendengar suara halus nya. Suara nya yang halus memanggil nama ku dengan indah.
*~*
Aku dan Akbar masuk kembali ke dalam dojo. Kami berjalan ke arah tim kami dan tentu nya. Genggaman tangan ku dengan nya, sudah ia lepas. Mungkin dia takut, orang malah menganggap kami pacaran. Aku dan dia berlatih kembali. Namun sekrang berbeda.
Akbar memelan kan pukulan yang ia arah kan pada ku. Takut pukulan itu akan mengenai wajah ku lagi. Padahal, aku lebih suka dia meukuk dengan kuat. Karena aku merasa, seperti sedang berada di arena pertandingan sungguhan.
"Anak-anak, tolong baris!."
Aku melihat teman-teman ku berlari-larian, kemudian berbaris dengan rapi. Aku dan Akbar saling berpandangan dan ikut berlari dan berbaris juga.
"Silakan duduk dulu, kami ingin berdiskusi terlebih dahulu, " Pinta ayah ku di sambut anggukan kepala dari kami semua.
Kami semua duduk di lantai. Akbar duduk di samping ku, menatap luas dan tajam ke arah ku. Kalian pasti tahu kan, apa yang akan kalian rasakan ketika orang yang kalian sukai menatap ke arah kalian? Salting kannkann?!
Aku mencoba bersikap tenang, bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Aku menoleh ke arah nya, dan bertanya pada nya " Kenapa melihat ku seperti itu? Seperti ingin menggigit ku saja, " Kata ku sambil memasang wajah kebingungan, padahal dalam hati ada sebuah ledakan kebahagiaan yang terjadi.
"Iya, rasa nya ingin sekali menggigit mu, " Kata nya sambil menebar kan senyuman maut nya pada ku.
Aku langsung menunduk kan kepala ku, menyembunyikan wajah ku yang sudah mulai memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan dia, dia hanya terkekeh melihat ku yang berusaha menyembunyikan wajah ku dari nya. Dia terus menertawakan ku, seperti baru saja memenang kan sebuah permainan.
"Itu siapa yang tertawa?," Tanya ayah dan senpai botak di depan.
Aku langsung menutup mulut Akbar, berusaha menghentikan suara yang keluar dari mulut nya. "Ternyata kalian berdua, push-up!. " Aku langsung menatap Akbar dengan tatapan death gaze ku yang khas.
Akbar hanya tersenyum dan mengangkat bahu nya. Kemudian dia bersiap untuk melakukan push-up, dan aku juga mengikuti nya. Yeahh karena kami berdua di hukum secara bersamaan bukan?!
"Kamu sih kak, pake acara ketawa segala, " Omel ku pada nya yang hanya dapat balasan kekehan dari nya.
"Ya, yang penting, aku tidak sendirian di hukum. Aku bersama mu, " Kata nya dengan senyuman nya yang sejuta watt.
Aku tersenyum, dan berkata " Dasar, aku di manfaatin dong, " Kata ku kesal namun dengan nada suara biasa saja.
Akbar hanya tersenyum, kemudian dia berkata " Setidak nya aku bersama dengan mu, bukan dengan yang lain, " Kata nya yang mana membuat hati ku langsung berdegup dengan sangat kencang.
*~*
"Kemarin saya, mendapat kan sebuah surat. Isi dalam surat ini bertulis tentang perlombaan kita yang di percepat menjadi minggu depan, " Kata ayah sambil membaca surat itu di depan kami semua, yang mana mengundang kericuhan.
"Gilaa, yang benar saja minggu depan. "
"Aishh aku belum siap tahu. "
"Lia, untung kita sudah siap, " Kata Akbar sambil menyenggol lengan ku dengan lengan nya.
"Iya, untung nya. "
"Dengar Lia, entah apa yang akan terjadi ke depan nya, kita lalui bersama, " Kata nya sambil menggenggam erat tangan ku.
Aku mengangguk kan kepala ku dengan wajah yang memperlihat kan senyuman ku. Hari itu, aku merasa, Akbar sedang membuat sebuah janji pada ku. Aku merasa, dia berjanji akan melalui semua nya bersama-sama.
Tapi sayang nya, aku tidak tahu. Apa dia juga merasa kan hal yang sama dengan ku. Karena secara garis besar, dia sama sekali tidak pernah menyukai ku. Dia sama sekali tidak pernah menaruh perasaan pada ku.
Sedangkan aku, aku yang terlalu berharap. Malah menaruh sebuah perasaan besar pada nya. Perasaan yang sudah ku ketahui tidak akan pernah terbalas sedikit pun. Entah apa yang membuat hati ku. Membiarkan aku jatuh hati pada laki-laki yang dulu nya sangat lah aku benci.
"Akbar, jika saja, kau merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Betapa bagus nya hal itu, " Ucap ku dalam hati sambil tersenyum.
*~*
Sepulang latihan tadi, aku berniat untuk datang ke rumah Salsa. Tapi, Giska melarang ku untuk kesana. Jadi, di sini lah aku berada. Di kamar ku yang penuh sekali dengan buku. Aku tak bisa tidur, sekarang sudah pukul dua belas malam. Sudah tengah malam. Tapi mataku tetap tidak bisa tertutup.
Aku keluar dari kamar ku. Pergi ke dapur, karena tiba-tiba aku ingin meminum susu coklat. Keadaan rumah begitu gelap malam ini. Aku hanya menghidup kan lampu yang ada di dapur saja. Takut mengganggu keluarga ku yang sudah terlelap lebih dulu dari ku.
Aku menghidup kan kompor, memasak air panas untuk ku minum. Aku mengambil susu bubuk coklat di dalam lemari. Menyiap kan nya selagi air yang ku masak belum matang. Aku duduk di kursi meja makan.
Saat air yang ku masak tadi berbunyi, aku langsung mematikan nya dan menuang kan air itu ke dalam cangkir ku. Aku mengaduk nya dan membawa cangkir itu ke ruangan yang penuh sekali dengan buku. Bisa di bilang seperti perpustakaan.
Aku mengambil beberapa buku cerita, dan membaca nya. Sembari menghirup susu coklat ku. Selama itu, aku masih memikir kan apa yang terjadi di antara Salsa dan Alex. Kini, di antara mereka seperti ada dinding besar berdiri. Yang satu nya air, dan satu nya api yang siap membakar hidup-hidup.
Dan juga aku masih bingung. Kenapa timing nya pas sekali. Ayah Salsa bekerja di perusahaan ternama bernama Axiel Group, yang ternyata CEO perusahaan itu adalah ayah nya Alex. Semua ini seperti sudah di rencana kan. Tapi kenapa dia tidak bilang kalau dia adalah anak dari CEO perusahaan Axiel Group, dia malah berbohong pada kami berdua.
Dulu ayah Salsa itu, selalu bekerja dengan pekerjaan yang tidak tetap seperti ayah ku. Setelah itu, ketika aku dan Salsa menginjak usia ke delapan tahun, saat itu lah ayah kami berdua mendapat kan pekerjaan yang tetap.
Dan saat itu juga, aku, dan Salsa bertemu dengan Alex dan Giska. Waktu itu sih dia mengaku anak dari seorang pekerja serabutan pada kami. Karena masih kecil, aku, dan Salsa hanya mengangguk kan kepala. Seolah-olah menerima kalau kami sedang di bodohi.
Lain hal nya dengan Giska, dia tidak mencerita kan sama sekali tentang keluarga nya. Siapa dia, anak siapa, dari keluarga mana. Dia tidak memberi tahu kami. Yang kami tahu hanya nama nya Giska Alexandria. Nama nya seperti orang Inggris.
Dan saat itu juga, Salsa pernah bercerita pada Alex. Tentang betapa susah nya hidup kami berdua ketika ayah kami tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Alex malah merekomendasi kan sebuah perusahaan, dan perusahaan itu adalah Axiel Group.
Dan sepulang sekolah Salsa menceritakan hal itu pada ayah nya. Dan ayah nya setuju untuk melamar pekerjaan di sana. Sedangkan ayah ku, dia tidak tertarik ke sana. Dia malah melamar ke perusahaan lain.
Ayah membutuh kan 1 minggu untuk menerima kabar tentang di Terima nya atau tidak di perusahaan itu. Sedangkan ayah Salsa, hanya membutuh kan 2 hari, dan langsung di Terima.
Dan sekarang, aku merasa, kalau semua ini adalah settingan. Aku merasa ini semua sudah di rencana kan Alex. Tapi tidak mungkin kan? Anak kecil berumur 8 tahun sudah membuat rencana seperti itu? Nggak mungkin kan?
Tapi, semua bukti, dan semua yang ku lihat dengan mata dan kepala ku secara langsung, semua nya mengarah dengan hal yang sudah ku prediksi. Aku merasa, prediksi ku ini benar ada nya.
Dan juga, aku merasa kan ada sebuah masalah besar yang akan terjadi pada ku atau pun dengan Salsa. Atau juga, dengan orang di sekeliling kami. Dan apapun itu, dan apapun masalah yang akan kami hadapi di masa depan nanti, aku yakin itu bukanlah masalah yang mudah untuk di atasi dan di takluk kan.
Atau lebih tepat nya, masalah yang akan menimbul kan perpecahan di antara dua belah pihak yang akan merubah hubungan yang tadi nya baik menjadi hubungan yang penuh dengan dendam dan kebencian yang tak terhitung.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__