My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 29 A Worried



Ke esokan pagi nya. Aku dan Salsa pergi ke sekolah naik angkot. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada Giska dan Alex bersama kami. Biasa nya, kami selalu pergi bersama-sama. Kini, kami hanya berdua saja di angkot.


Sesampainya di sekolah. Kami langsung ke dalam kelas, dan mendapati Giska dan Alex sudah ada di kelas. Aku dan Salsa saling berpandangan, karena kami berdua merasakan aura permusuhan yang kuat di antara Giska dan Alex.


Telephaty mode on.


"Bersikap seperti biasa. "


"Oke."


Telephaty mode off.


"Pagi semua!, " Teriak ku dan bersikap seolah tak ada yang terjadi.


Aku langsung duduk di kursi ku, dan Salsa juga. Kali ini, aku merasakan ketiga sahabat ku sedang ada masalah. Dan tersangka yang membuat mereka seperti ini, ya aku:).


Tapi, aku sudah tahu masalah apa yang di timpa Salsa sehingga dia dan Alex hanya diam, tidak berbicara apapun. Lalu, bagaimana dengan Giska? Kenapa dia begitu? Padahal, waktu bertemu kemarin, dia baik-baik saja.


Lalu sekarang, sikap nya berubah drastis. Dia jadi pendiam, mereka bertiga menjadi pendiam. Kenapa? Padahal, aku sangat suka ketika mereka berteriak, tertawa tak jelas seperti orang gila. Aku jadi tambah merasa bersalah.


Aku melihat ke arah jendela yang ada di sebelah kanan ku. Menghela nafas, mencari ketenangan sejenak dari masalah ku. Aku memangku dagu ku dengan kedua tangan ku.


Tak tak tak.


Terdengar suara langkah sepatu guru di depan pintu kelas. Ia masuk ke dalam kelas kami, bu Airin, wali kelas kami. "Anak-anak. Kepala sekolah, baru saja mengumumkan sebuah acara liburan. Sebenarnya ada dua tempat yang sudah di pilih. Tapi banyak guru meminta untuk kalian memilih tempat liburan nya, " Kata bu Airin.


"Memang nya dimana saja bu tempat nya?, " Tanya salah satu anak perempuan di kelas ku.


"Pilihan nya ada dua. Di museum, dan di pantai, kalian mau yang man-. "


"Pantai!, " Jawab seisi kelas.


Ya iyalah, kami pasti memilih pantai dari pada Museum. Masa iya, liburan ke museum, entar di suruh catat sejarah nya, kan sama aja belajar bukan liburan.


*~*


Tringgg.


Ha-hhh. Pelajaran bu Airin hanya habis karena membahas liburan itu. Tapi tak apa lah, aku senang. Tidak ada tugas yang kami dapat kan. Aku menoleh kan kepala ku ke belakang, melihat ketiga sahabat ku masih duduk diam di kursi nya masing-masing. Biasa nya ...


Flashback on.


"Lia, kantin yuk!. "


"Kantin. Kantin. "


"Yeyyy, jajan!. "


Flashback off.


Aku menoleh ke arah Giska yang sibuk menutupi sesuatu di leher nya dengan tangan nya. Apa yang dia sembunyikan? Aku berdiri, dan berjalan ke arah Giska. Aku mengajak nya, dan juga Salsa untuk pergi ke kamar mandi. Tapi Salsa tak mau ikut, dia masih ada catatan yang harus ia catat.


Jadi hanya Giska yang ikut bersama ku. Aku masih melihat ke arah nya. Menatap nya dengan tatapan yang sedang mengintimidasi musuh nya. Aku mempercepat jalan ku, tapi tidak mengarah ke kamar mandi.


"Hei. Kenapa nggak ke kamar mandi? Tadi nya kata mau ke kamar mandi, " Ucap Giska sambil menarik tangan ku.


"Nggak jadi. Aku mau ke taman belakang sekolah, ada yang ingin ku tanyakan pada mu, " Kata ku sambil menarik tangan Giska dan membuat nya mengikuti ku.


Aku menarik tangan Giska. Kami berdua berlari ke taman belakang sekolah. Aku mengajak Giska duduk di tempat yang pernah ku duduki, di bawah pohon besar.


"Ada apa? Kenapa kita malah ke sini? Kata nya mau ke kamar mandi, kok malah ke taman belakang," Omel Giska pada ku.


"Apa yang kau sembunyikan?, " Tanya ku langsung pada nya.


"Hah? Apa? Memang nya apa yang ku sembunyikan?, " Tanya Giska dengan wajah yang mulai panik.


Aku menarik tangan Giska yang masih menutupi leher nya. Aku terkejut, ketika melihat luka samar-samar di leher Giska. Giska menutupi luka nya dengan sebuah bedak yang tebal. Tapi aku masih bisa melihat nya. Aku membersih kan bedak itu dari leher nya Giska. Dan terpampang jelas lah luka seperti bekas gigitan.


"Luka apa ini?, " Tanya ku pada Giska.


Giska mencoba membuka mulut nya. Mencoba berbicara pada ku, namun tiba-tiba suara nya terdengar seperti ketakutan. "Ada apa?, " Tanya ku pada Giska karena aku sudah mulai panik dengan nya.


"Lu-luka ini. Alex yang melakuka-. "


"Lia!. "


Ketika Giska mencoba membuka suara nya dan ingin memberitahu ku sesuatu. Alex datang dari belakang kami, mengaget kan aku dan Giska.


"Untung saja ketemu. Kamu di cari bu Airin, " Kata Alex sambil berjalan mendekat ke arah ku.


"Ah iya ya? Kalau gitu aku ke sana dulu ya Gis, " Ucap ku sambil meninggalkan Giska dan Alex berdua di taman belakang.


Alex poV.


Aku melihat ke arah Giska yang masih duduk di sana. Aku berjalan mendekati ke arah nya. Aku bisa melihat tubuh nya yang bergetar ketakutan ketika melihat ku.


Saat aku akan duduk di dekat nya. Giska berdiri, dan mencoba menjauh dari ku. "Mau kemana? Duduk!, " Perintah ku sambil menarik tangan Giska dan dia terduduk kembali.


"Lepas!, " Teriak Giska sambil menghempas kan tangan ku.


Aku masih diam, berdiam diri dengan sikap Giska. Giska kembali berdiri, dan berjalan. Aku berdiri, dan langsung berjalan ke arah Giska dengan cepat. Aku menjulurkan kedua tangan ku, memblokir pergerakan nya.


"Mau apa kamu?, " Tanya Giska sambil menatap tajam ke arah ku.


Aku mendekat kan wajah ku, ke wajah nya, seperti ingin mencium nya. Dia tidak memejamkan mata nya ataupun menundukkan kepala nya. "Apa kau tak takut kena kasus di sekolah?, " Tanya Giska dengan menatap ku sinis.


"Ini di sekolah. Jangan macam-macam. Atau mau ku tendang lagi 'punya' mu? , " Tanya Giska sambil tersenyum miring.


Aku langsung mengingat bagaimana rasa nya ketika ia menendang bagian bawah ku. Rasa nya begitu perih. Aku menurunkan kedua tangan ku dari nya. Aku melihat ke arah luka yang ada di leher nya, yang ku gigit kemarin.


"Bagaimana rasa nya ketika aku menggigit leher mu?, " Tanya ku sambil mengelus leher nya.


"Ya sakit lah boncel!, " Teriak Giska sambil menghempas kan tangan ku dari leher nya.


"Boncel. Aku lebih tinggi dari mu sayang, " Kata ku sambil mendekat kan tubuh ku ke tubuh nya.


"Sayang, sayang, sayang, pala mu peyang! Berhenti memanggil ku begitu!, " Teriak Giska sambil mencoba mendorong tubuh ku.


Aku menjauh kan tubuh ku dari Giska. Aku berjalan membelakangi nya dan kemudian berkata " Jangan sampai semua orang tahu kalau luka itu dari ku, apalagi kalau kau memberi tahu nya pada Lia. Siap-siap tak perawan kau!, " Kata ku sambil melihat nya dengan sinis.


Alex poV end.


Sementara di tempat yang sama;


"Tak perawan?. "


*~*


Setelah Aku mendatangi bu Airin, aku langsung pergi ke kelas. Karena aku yakin, Giska dan Alex sudah kembali ke dalam kelas. Ketika aku masuk ke dalam kelas, sekretaris kelas sedang mencatat sesuatu.


"Apa yang sedang kau catat?, " Tanya ku pada nya.


"Jadwal kita berangkat nanti, " Ucap nya.


Aku melihat ke arah papan tulis yang sudah ada banyak tulisan. Dan saat ku lihat tulisan itu, jadwal berangkat kami, sama dengan jadwal ku berlomba. Mungkin kali ini, aku tidak akan ikut liburan. Aku akan bersama Akbar saja:D.


Dan juga, mungkin kali ini. Aku akan membiarkan Salsa pergi sendirian ke sana. Tidak sendiri, bersama Giska dan Alex tentu nya. Tapi, bagaimana ya? Aku merasa tetap khawatir. Inikah nama nya, anak jauh dari emak? Bercanda kok.


Aku yakin, Alex pasti akan ikut. Yeahh, karena dia anak yang populer, pasti dia akan selalu di kerubungi wanita yang meminta nya untuk ikut acara ini. Dan dia pasti akan ikut, yeahh demi menjaga kepopuleran nya.


Yang jadi masalah ini. Aku khawatir kalau hanya Salsa dan Giska yang ikut. Aku mau ikut, tapi bagaimana ya?


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__