My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 23 Holding My Hand Akbar



Tapi kenyataan nya. Kau tidak memilih kebahagiaan mu sendiri. Kau mengorbankan diri mu, hanya untuk diri ku yang naif. Yang sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan mu, dan hanya memikirkan apa mau ku. Maaf kan aku Salsa.


Aku memang tidak terlalu tegas dengan perasaan ku. Bahkan, jika saja kau tidak menasehati ku waktu itu. Aku pasti sudah menggila dengan perasaan yang sama sekali tidak ku sadari kapan tumbuh nya.


"Maaf kan aku. Aku janji. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada keluarga mu."


*~*


Tuk tuk.


Seseorang menyenggol ku dengan sebuah botol air mineral berukuran sedang. Ku lihat, seorang laki-laki bertubuh jangkung, berdiri di samping ku. Dan itu dia. Laki-laki yang aku sukai. Akbar.


Saat aku ingin mengambil botol air itu dari tangan nya, dia menarik botol itu kembali. Dan membuka segel yang melingkar di tutup botol itu. Kemudian dia memberi kan botol itu pada ku lagi, dan dia duduk di samping ku.


Dia meneguk air itu, dan aku hanya melirik diri nya. Tidak menatap nya secara langsung. Aku membuka tutup botol yang masih terpasang, dan meminum nya.


Glek. Glek. Glek.


Aku menutup botol itu dengan tutup botol yang ada di tangan ku. Aku meletak kan botol itu di dekat tas ku. Aku duduk memeluk lutut, melingkar kan kedua tangan ku pada lutut, dan menyandar kan dagu ku di atas lutut.


Akbar yang melihat ku seperti itu, duduk menjulurkan kaki nya. "Julur kan kaki mu. Nanti varises" Kata nya sambil menarik kaki ku. Membuat tubuh ku oleng seketika.


Greep.


Ku fikir saat itu aku akan jatuh, nyungsep ke lantai. Karena pada saat Akbar menarik kaki ku, aku tak punya pertahanan tubuh yang bagus, yang mana membuat ku akan jatuh ke lantai. Tapi tidak, ternyata, Akbar menggenggam lengan kiri ku, agar aku tidak terjatuh ke lantai.


"Ahh, Terima kasih Kak, " Kata ku sambil melepaskan genggaman tangan dari lengan ku.


"Sama-sama, " Jawab nya sambil meletak kan tangan nya ke atas paha nya.


Plakk.


"Wadaw!, " Pekik Akbar kesakitan yang mana sukses membuat ku terkejut.


Tiba-tiba, aku merasakan sebuah hawa mematikan berada tepat di belakang kami berdua. Sebuah tangan, menepuk pundak ku dan membisikkan sesuatu ke telinga kami berdua "Hayoo... Ngapain kalian? Latihan lagi sana. "


Aku dan Akbar melihat ke belakang secara bersamaan. Dan ku lihat senpai botak sudah berdiri tegap di belakang kami berdua. "Iya, senpai, kami latihan!, " Teriak ku dan Akbar secara bersamaan dan langsung berlari ke arah tim yang sudah pernah Akbar buat waktu itu.


Aku dan Akbar langsung berlatih seperti biasa. Pukul, tendang, tangkis, pukul, tendang, tangkis, pukul, tendang, tangkis, dan Bammm. Banting.


"Lia, kamu kenapa melamun?, " Tanya Akbar di sela-sela pukulan nya yang melayang pada ku.


"Aku, cuman lagi mikir doang, " Kaga ku sambil tersenyum seakan-akan tidak ada yang terjadi.


"Mikirin apa? Tugas lagi?, " Tanya nya.


Aku menggeleng kan kepala ku, memandang lurus tembok di belakang Akbar. Aku benar-benar tak fokus untuk saat ini. Sampai aku lupa, kalau Akbar masih tetap melayangkan pukulan bertubi-tubi pada ku. Sampai suatu pukulan, tak bisa ku tangkis.


Buakk.


"Aduh, " Pekik ku kesakitan.


"Eh eh, maaf Lia, kamu nggak apa?, " Tanya nya khawatir.


Aku merasakan rongga hidung ku agak perih. Dan, cuurr. Darah mengalir, dan ini lah pertama kali nya aku mimisan. "Ah aku mimisan ya?, " Tanya ku dengan nada suara yang terdengar agak senang.


"Lah kok senang sih, sebentar aku minta izin dulu, " Kata nya sambil berlari ke senpai botak.


"Senpai, Lia mimisan, tadi nggak sengaja ke pukul" Kata nya.


"Tunggu apa lagi? Ambil kotak obat sana. Bawa dia juga sekalian, di sana ada air " Kata nya.


Akbar menyuruh ku berdiri dan kami berdua pergi ke suatu tempat yang tidak ku kenal, namun ada banyak sekali peralatan kesehatan dan alat bantu untuk olahraga. Dia menyuruh ku duduk di dekat galon. Sedangkan dia mengambil kotak obat, P3K, yang ada di rak atas sekali.


Dia membuka kotak itu, dan segera mengobati ku yang mana darah ku masih mengalir. "Maaf ya, sungguh, maafkan aku, " Kata nya sambil membersihkan darah ku.


"Tidak apa, " Jawab ku dengan nada suara yang agak terdengar gugup.


"Bagaimana, apa darah nya masih keluar?, " Tanya Akbar sambil menatap ku tajam.


"Tidak, sudah tidak keluar sepertinya, " Kata ku sambil memegang hidung ku.


Akbar tersenyum, mengeluarkan senyuman maut nya pada ku. Yang mana berhasil membuat wajah ku memanas. Akbar membereskan kotak obat itu, dan ketika ingin berdiri " Aduh, kaki ku keram. Seperti kelamaan jongkok, " Kata nya sambil memijat lembut kaki nya.


"Biar aku yang meletak kan nya, " Kata ku sambil merebut kotak obat itu dari tangan nya.


"Eh jangan, itu terlalu tinggi, " Larang nya.


"Kamu meremehkan ku? Aku ini tinggi, " Ucap ku ngeyel.


Saat aku ingin meletak kan kotak itu ke rak yang bagian nya paling atas, kaki ku yang menginjit tiba-tiba terpeleset namun aku tidak terjatuh. Tapi yang jatuh malah kotak obat itu.


Buakk.


"Ah-."


Kotak itu jatuh, mengenai tepat di punggung Akbar. Dia terdiam, tidak terdengar kata aduh sedikit pun dari mulut nya. Aku langsung berjongkok di hadapan nya. Menepuk bahu nya lembut dan mengguncang tubuh nya pelan.


"Kak? Kau baik-baik saja?, " Tanya ku khawatir.


"Mungkin, ini adalah definisi karma karena memukul mu tadi, " Kata nya dengan tatapan yang hampa.


"Maaf kan aku, " Kata ku memohon maaf.


Tiba-tiba dia menegapkan tubuh nya. Membuka sabuk yang mengikat pada tubuh nya. Aku bingung kenapa dia membuka ikatan sabuk pada pinggang nya. Kemudian, dia membuat ku kaget setengah mati. Karena tindakan nya, yang membuka pakaian yang membalut tubuh nya.


"E-eh kok buka baju kak?, " Tanya ku dengan wajah yang memanas.


Aku menutup mata ku dengan kedua mata ku. Aku mengintip dari balik telapak tangan ku. Mengintip Akbar yang masih membuka pakaian nya. "Lia, buka mata mu. Tolong lihat di punggung ku, merah atau tidak?, " Perintah nya. Aku membuka mata ku dan langsung berdiri.


Aku melihat punggung nya yang sudah memerah. Tangan ku menyentuh lembut punggung nya, "aduh, pelan-pelan Lia, " Desis nya kesakitan. Aku melihat sebuah salep untuk memar, dan aku mengoles kan nya ke punggung Akbar.


Seusai aku mengoles kan salep itu, dia berdiri, dan ughhh dia berdiri di hadapan ku, dengan telanjang dada. Aku langsung memalingkan pandangan mata ku dari ABS yang terpampang jelas dari Akbar.


"Mau nya sih liat, tapi, aku malu, " Ucap ku dalam hati dengan tangan yang masih menutup mata ku dengan kedua tangan ku.


"Kenapa mata mu di tutup? Buka, aku sudah pakai baju ku lagi, " Perintah nya sambil mengikat sabuk yang tadi nya ia lepaskan dari pinggang nya.


Aku membuka mata ku, dan berkata " Siapa suruh main buka baju aja, " Kata ku kesal. Akbar terkekeh, dan dia menjulur kan tangan kanan nya, menggenggam lengan kursi yang sedang ku duduki. Dan dia membisikkan sesuatu ke telinga ku.


"Tapi kamu senang kan melihat ku telanjang dada? Kamu bisa melihat ABS ku," Bisik nya lembut ke telinga ku, dan kemudian, dia meniup lembut telinga ku. Fuuhhhh.


Aku bergidik merinding, bulu kuduk ku langsung berdiri. Ketika hembusan nafas dari mulut Akbar, sampai di telinga ku. Aku langsung mendorong tubuh nya menjauh dari ku. Karena pada saat itu, wajah ku dan wajah nya sudah sangat dekat. Aku takut, aku khilaf. Bisa-bisa, aku mencium nya nanti.


"Ya Tuhan, kuat kan lah, kuat kan lah iman hamba, jangan sampai hamba khilaf, " Kata ku dalam hati.


Akbar memberes kan obat-obatan yang berserakan di lantai, dan kemudian meletak kan kotak itu ke bagian yang paling atas. Dia menggenggam tangan ku, menarik ku keluar dari dalam ruangan itu. Dia mengunci pintu itu, dan berjalan di depan ku.


"Ayo, kita latihan lagi, " Kata Akbar sambil menggenggam tangan ku, menarik ku kembali, mengikuti nya yang berjalan di depan ku.


Aku tersenyum dan menunduk kan kepala ku. Wajah ku masih memanas. Memerah ketika aku mengingat, ABS yang terpampang jelas di depan mata ku. Ahhhh. Nikmat apa lagi yang kau dustakan Tuhan.


Terima kasih untuk kaki ku yang terpeleset dan juga Terima kasih untuk kotak obat yang sudah membuat ku melihat ABS Akbar. Huahhh astagfirullah. Aku mengerat kan genggaman tangan ku. Membalas genggaman tangan Akbar yang sedari tadi menggenggam lembut tangan ku.


Akbar, aku tidak pernah tahu. Apakah kau jodoh ku atau bukan. Yang jelas, aku menginginkan mu untuk sebagai jodoh ku, pendamping hidup ku, dan rumah untuk ku kembali. Tapi, jika Tuhan tidak mengizinkan aku bersama mu, aku akan merelakan mu. Aku ikhlas.


Tapi Tuhan, aku minta satu hal pada mu. Hanya di saat-saat seperti ini, tolong jangan lepas kan genggaman tangan ku dari nya. Akbar, genggam lah erat tangan ku, bawa aku ketempat yang penuh cahaya. Jangan lepas kan tangan ku, aku tidak mau tersesat terlalu jauh dari mu.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__