
"Tuhan, tolong aku, " Ucap ku dalam hati sambil menahan sakit akibat gigitan dari Alex di leher ku.
*~*
Selagi Alex sibuk dengan leher ku. Kedua tangan ku, melepaskan gelang tangan ku. Yang pernah di berikan Salsa pada ku. Dan untung nya, gelang ini, mainan nya seperti berbentuk benda tajam, silet.
"Hei, stop! Jangan sentuh dada ku!, " Teriak ku ketika tangan Alex bergerak ke dada ku.
Alex melihat ke arah ku yang masih menutup mata. Tangan nya tak jadi bergerak ke dada ku, melainkan, dia malah sibuk menciumi leher ku. Aku mengambil mainan gelang nya dengan cepat, dan menggesek-gesek kan nya ke tali yang mengikat di tangan ku. "Akhh!." Tiba-tiba, tangan Alex mencengkram tangan kanan ku, aku kaget, dan langsung menjauhkan silet itu dari tangan ku.
Untung nya, dia tidak mencengkram tangan kiri ku juga, jika sudah ia cengkram. Bisa-bisa, aku tak bisa melarikan diri dari nya. Ptass. Aku bisa merasakan tali yang mengikat tangan ku sudah longgar, dan sudah akan putus. Sekali tarik, tali ini akan putus.
Tangan kiri ku, sudah bebas duluan, karena tangan kanan ku masih di cengkram Alex. Tangan kiri ku, menelusup ke kantong celana Alex, mengambil kunci kamar ku yang ia masukkan ke dalam kantong nya.
"Hmmmpp."
Aku tersentak kaget, ketika Alex menggigit leher ku untuk kedua kali nya. "Sumpah. Ini orang kenapa ngegigit leher ku terus? Memang nya dia vampir?," Kesal ku dalam hati.
Tangan kanan ku yang tadi nya di cengkram Alex, berhasil lepas dan langsung mencoba mendorong tubuh nya. Kali ini, aku berhasil mendorong tubuh nya menjauh dari ku.
Dia tersingkir dari tubuh ku, aku langsung berdiri, dan mencoba menggerakkan kaki ku berlari menjauhi nya. Greppp. Dia berhasil mendapat kan salah satu tangan ku. Dia kembali menarik tubuh ku mendekat ke arah nya.
Dia menarik ku, dan membuat ku duduk di pangkuan nya sambil wajah ku menghadap ke arah nya. "Le-lepas! Lepas kan aku!," Teriak ku sambil memukul-mukuli dada bidang Alex, ketika tangan Alex mengelus-ngelus paha ku.
Alex menyentuh pinggang ku dan menarik ku lagi. Kini tubuh ku dan wajah nya sudah sangat dekat. Tidak ada jarak lagi di antara kami berdua. Cup. Dia mencium kening ku, dan turun ke leher.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu, " Ucap nya sambil membelai lembut wajah ku sembari ia menciumi leher ku.
Alex menurunkan kepala nya, kembali fokus kepada leher ku. "Hentikan! Jangan gigit leher ku lagi!," Teriak ku sambil mendorong tubuh nya. Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak mau menyerah. Aku tidak mau dinodai laki-laki ini. Aku harus lepas dari nya. Aku mendorong tubuh nya, dan kepala nya berhasil menjauh dari leher ku.
Plakk!
"Kenapa sih?! Nikmati saja kenapa!, " Teriak Alex pada ku sambil menampar pipi ku.
Dia menarik kepala ku, mendekatkan wajah ku ke wajah nya. Dia memejam kan mata nya, dan mencoba mencium bibir ku, sedangkan tangan nya masih mengelus-ngelus paha ku dengan lembut.
"Tidak! Aku tidak mau!," Teriak ku sambil memaling kan wajah ku agar ia tak dapat mencium bibir ku.
"Kenapa tidak mau? Mau menyimpan nya untuk suami mu nanti?, " Tanya Alex sambil menyentuh bibir ku.
"Tentu saja! Aku tidak mau memberikan nya pada mu!. "
"Sudahlah. Tidak perlu menyimpan nya lagi. Mungkin aku yang akan mendapatkan nya terlebih dahulu, " Ucap nya sambil tangan nya mencoba membuka kemeja ku.
Buakk!
Aku melayangkan tinjuan pada nya, dan mendarat ke pipi nya. Aku terjatuh ke lantai, akibat Alex yang kaget dengan pukulan ku. Tangan ku masih di cengkram nya.
Aku berfikir, memutar otak dengan sangat cepat, dan berbicara dalam hati "Kata Lia, jika tangan di cengkram dengan sangat kuat. Aku harus memutar pergelangan tangan ku agar membuat nya melonggarkan tangan nya. Setelah longgar. Aku harus..., ".
Buakkk!
Bletakk!
"Layang kan tinju secara tiba-tiba!. "
Aku langsung pergi ke pintu kamar, dan mengeluarkan kunci yang sudah ku dapat kan dari Alex. Aku melihat ke arah Alex yang sudah berdiri. "Tunggu! Mau kemana kau!, " Teriak Alex sambil berlari ke arah ku.
"Waw, masih bisa berdiri ya. Ku acungi jempol untuk anak basket seperti mu! Kalau begitu, nikmati tendangan ini, " Ucap ku sambil memutar tubuh ku dan menendang nya dengan tendangan kaki belakang.
Buakkk!
Aku langsung menendang perut Alex. Walaupun perut nya keras, aku mengenai langsung ke titik lemah nya, ulu hati. Membuat nya terjatuh memegangi perut nya dengan nafas yang sesak.
"Uhuk, uhuk, uhuk. "
Aku langsung membuka pintu kamar ku, dan keluar dari sana. Brakk. Aku menutup pintu kamar ku dengan kencang, dan tak lupa mengunci kamar ku kembali. Agar Alex tidak bisa keluar dari kamar ku.
"Buka! Buka! Buka pintu nya Giska! , " Teriak Alex sambil mendobrak-dobrak pintu kamar ku.
Aku terduduk lemas di depan pintu kamar ku. Nafas ku sesak kelelahan. "Ya Tuhan. Terima kasih sudah melindungi ku, dan Lia. Terima kasih sudah mengajari ku cara melepaskan diri, jika saja aku tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri. Bisa-bisa aku sudah tak perawan lagi karena laki-laki itu, " Ucap ku dengan mata yang sudah ada genangan air mata ku.
Air mata ku mengalir dengan sangat deras. Mengingat kejadian barusan yang nyaris saja membuat ku tak perawan lagi. Aku mengacak-acak rambut ku. Kepala ku pusing sekali. Rasa nya stress tiap kali memikir kan kejadian yang tak ku percaya terjadi pada ku, apalagi itu ulah nya.
"Giska! Buka pintu nya!, " Teriak Alex masih mendobrak-dobrak pintu kamar ku.
"Tidak mau!, " Teriak ku tak kalah besar dari nya.
Brakkk!
Alex memukul pintu kamar ku karena ia kesal dengan ku. Biarkan saja dia. Aku ingin menenangkan diri ku terlebih dahulu. Aku berlari ke kamar atas, tempat adik ku tidur. Meninggalkan Alex yang masih sibuk mendobrak pintu kamar ku. Aku bersembunyi di sana, dan memainkan handphone ku.
Sementara di dalam kamar Giska;
"Jadi, rencana ini yang dia sembunyi kan? Menarik. "
*~*
Ketika aku sudah tak mendengar suara gaduh dari dalam kamar ku. Aku mengintip di celah lubang kunci pintu kamar ku. Aku tidak melihat Alex di sana. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
Ckleek.
Aku membuka pintu kamar ku pelan-pelan. Takut Alex hanya mengelabui ku. Tidak ada siapapun di dalam kamar ku selain aku. Aku melihat jendela kamar ku terbuka. Aku yakin, Alex keluar dari jendela kamar ku.
"Alex, kenapa kau jadi seperti ini? Padahal kau dulu adalah orang yang baik. Kenapa kau berubah menjadi laki-laki yang tak sopan begitu? Padahal, waktu kecil, kita selalu bermain bersama. Kau tahu, dari sebanyak sepupu yang aku miliki. Cuman kamu sepupu yang paling ku sayang, " Ucap ku dengan wajah yang basah akibat tangisan ku, sembari tangan ku memegangi luka yang ada di leher ku akibat gigitan dari Alex.
Alex, aku tak suka kau kasar seperti ini. Aku tak suka kau memainkan wanita seperti tadi, apa kau menganggap seorang wanita itu boneka mu? Bukan Alex! Kami manusia. Bukan boneka mu.
Lagi pula, kejadian 'Itu' sudah tujuh tahun berlalu. Kejadian yang sudah pasti merubah sikap mu yang tak kenal ampun itu. Aku harap, kau bisa melupakan kejadian itu. Tolong Tuhan, biarkan Alex melupakan kejadian 'Itu', biarkan dia hidup dengan tenang.
"Pantas saja Salsa menyuruh ku melindungi Lia dari laki-laki itu. Hufftt Salsa. Kenapa kau malah jatuh cinta dengan laki-laki seperti itu, " Kata ku sedih sambil melihat foto ku, yang ada Lia, Salsa, dan Alex.
Giska poV end.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__