My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 1 My Absurd Encounter



Pagi ini pagi minggu. Pagi yang selalu di nantikan oleh semua pelajar. Sampai-sampai mereka ada yang tidak mandi sama sekali.  Readers udah mandi belum ??.


Tapi bagi ku hari minggu adalah hari yang paling menyebalkan. Karena aku harus menghadiri pelatihan bela diri setiap jam 2 sore. Dan hal itu adalah hal yang paling menyebalkan.


Ha-hh Oke langsung ke jam 2 aja ya.


Mataku saat ini masih mengantuk karena habis tidur siang di mobil. Cuman 30 menitan. Masih kurang lah bagi ku. Waktu tidur yang cukup untuk ku itu hingga 8 jam. Lagian aku males banget jalanin pelatihan hari ini.


Tapi ya mau tak mau aku harus ikut pelatihan di sana. Karena ayah ku seorang pelatih bela diri disana.


Aku pun melangkahkan kaki ku dengan malas memasuki gedung olahraga yang  menjulang tinggi di depan ku saat ini. Dan terlihat ayah ku sedang berbincang penting dengan pelatih yang ada di sana.


Malas mendengar suara bincangan mereka seperti ibu-ibu komplek yang sedang bergosip itu. Aku pun langsung mengambil perlengkapan latihan ku. Dan aku berganti pakaian di wc. Yaiyalah masa di luar.


Tetiba di kamar mandi aku langsung menatap kaca. Menepuk-nepuk pipi ku hingga memerah. Agar aku tidak mengantuk lagi. Segera aku mengganti pakaian ku.


Dan setelah aku selesai berganti pakaian aku naik ke atas lagi. Btw wc nya ada di lantai bawah. Lupa nyeritain nya tadi.


Waktu aku sedang menelusuri anak tangga dengan perlahan, dan kemudian tiba di atas. Tiba-tiba ada seseorang yang menabrak ku. Membuat ku terjatuh ke lantai.


Bruk!!


"Arghh sakit, " Ucap ku dengan berdesis kesakitan.


Aku pun langsung berdiri. Tapi aku lupa kalau aku baru saja jatuh dengan posisi kaki terduduk. Membuat kaki ku oleng sementara.


"Akh jatuh lagi aku, " Kesal ku. Aku pun langsung mendongakkan kepala ku untuk melihat siapa yang baru saja menabrak ku.


" Woe kagak liat ya aku jatuh nih, bantuin kek, " Teriak ku padanya. Ternyata dia seorang lelaki. "Kalau bisa berdiri ya berdiri saja sendiri".


Mendengar ucapannya barusan otakku langsung berkata " Neh anak sombong bet dah, minta digiling ya. "


" Kan kamu yang menabrak ku, jadi bantu kek atau apa kek, " Teriak ku lagi. "Makanya jalan pakai mata, jangan pakai kaki doang, " Ketus nya.


Aku pun berdiri dengan perlahan. Dia pun berjalan dan menabrak pundakku dengan kasar, tapi kali ini aku tidak jatuh.


" Fix minta di giling beneran ini anak, awas aja ku balas kau nanti, " Ucapku sambil mengepal kan tangan seakan ingin menghajar.


"Sumpah anak itu, minta maaf aja enggak, mau nya apa sih dasar cowok!. "


(Cewek selalu benar -_-).


Saat aku berjalan ke arah tas perlengkapan ku. Kaki ku tiba-tiba terasa nyeri. " Cih kaki ku jangan sekarang sakitnya, aku mau balas orang itu dulu, " Ucapku sambil mengelus kaki ku dengan lembut. Tiba-tiba ada seorang pelatih yang lumayan tua, menyuruh kami untuk segera berbaris. Aku pun berjalan perlahan untuk berbaris.


Dan sialnya ternyata laki-laki yang menabrak ku tadi berbaris di samping ku. "Elah kenapa harus se sampingan sama si gadis berisik ini dah, " Ucapnya sambil memutar bola mata nya.


" Ikh aku juga malas se sampingan dengan mu, " Ucap ku kesal.


Sekarang langsung saja ke pelatihan yang memakan waktu selama 1 jam setengah. Kemudian kami di minta untuk duduk  sambil menjulurkan kaki kami semua. Karena takut varises.


"2 bulan lagi akan ada pertandingan di kabupaten Lahat, jadi kami selaku pelatih ingin mengikut sertakan kalian. Ada yang mau ikut dalam pertandingan ini??, ".


Sontak semua anak yang ada di dalam gedung mengangkat tangan dengan penuh percaya diri. Ya termasuk aku. Lagian siapa sih yang gak mau ikut dalam pertandingan, apalagi jalan-jalan.


Semua anak langsung berlarian ke arah 3 kardus air minum yang sudah terbuka. Mereka berlari seperti anak-anak ayam yang baru saja keluar dari kandangnya.


Saat aku sedang minum, tiba-tiba ada tepukan di pundak ku. Dan ternyata dia adalah teman ku, Luna. Dia ini pemuja cowok ganteng.


" Ugh ngapain dah, untung gak keselek, " Ucapku sambil mengusap area bibir ku yang basah karena air.


"Eheheh sorry, btw kamu kenal gak sama si Akbar itu??, " Ucapnya sambil menunjukkan arah entah berantah. Sedangkan aku sibuk mencari arah yang Luna  tunjuk.


" Yang mana?, "Tanya ku yang sudah mulai kelelahan mencari orang yang sedang ia tunjuk tersebut.


" Itu loh yang sedang duduk di kursi itu, kagak keliatan ya? Matamu rabun kah?," Ucapnya.


Heleh ternyata si cowok sombong itu yang di tunjuk Luna. Tunggu!? Berarti nama dia Akbar ya. Baru tahu aku.


" Oh itu, " Ucapku tanpa basa-basi.


"Ikh kok malah jawab gitu sih, dia kan ganteng, tinggi, populer...."


" Percuma ganteng, kalau hati nya busuk, " Kataku yang langsung memotong bacotan Luna.


Setelah memotong bacotan Luna barusan, mata ku kembali tertuju ke cowok nyebelin itu. Tiba-tiba cowok itu menatap ke arah ku. Saat ini mata kami beradu pandang. Aku pun sontak memalingkan wajah ku darinya.


Tiba-tiba pelatih menyuruh kami untuk berbaris kembali. Setelah kami berbaris, pelatih segera mengumumkan nama partner kami. Dan sialnya aku malah se partner dengan si Akbar ini. Kami pun diminta untuk mendekat ke arah partner kami semua. Ckk malesin banget dah.


" Ha-hh harus se partner dengan gadis berisik ini, nyebelin banget, " Ucapnya dengan ketus tanpa menatap ku. "Ikh malesin juga tahu!. "


" Napa natap-natap tadi, suka!?, " Tanya nya sambil membentak.


" Mana ada suka sama cowok nyebelin kayak kamu, " Ucapku tak karuan.


" Oh ya?! Awas aja ya kalau suka sama aku, aku gak mau tanggung jawab kalau kamu suka sama aku nanti nya, " Ucapnya yang membuat nya semakin menyebalkan.


" Anak ini benar-benar bikin marah, " Ucapku dalam hati.


Oke pertama-tama kami di perintahkan untuk menendang lawan dengan kecepatan super. Sepatu super!! Ea malah nyanyi author. Saat mengangkat kaki yang tidak sedang terluka, tiba-tiba kaki ku yang terkilir tadi kesakitan karena menjadi beban penahan tubuhku.


" Argghhh, " Teriak ku sambil tersungkur kesakitan. Semua orang mungkin saat itu tidak mendengar suara teriakan ku, karena saat itu sangat berisik.


Tiba-tiba cowok menyebalkan itu membungkukkan tubuhnya,menjadi setara dengan ku.


" Hoy gadis berisik jangan duduk mulu, entar kita dimarahin, " Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.


" Elah ini kaki terkilir oleh mu, " Ujarku padanya.


" Makanya jalan tadi tuh pakai mata, apa gunanya mata loe, " Katanya yang membalik memarahi ku.


Dalam hati ingin sekali meneriakkan perkataan kasar padanya, tapi takut dosa. Ya inilah pengalaman pahit ku ketika bertemu dengannya. Untuk pertama kali lagi. Menyebalkan. Tapi di mulai dari sinilah asal aku menyukai nya.


Bersambung...