My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 6 Try not to fall in love (1)



Aku tahu, Luna memang dari dulu suka gonta-ganti pacar. Tapi aku heran, kenapa harus Akbar target selanjutnya. Apa dia mau memainkan perasaan Akbar, tapi tunggu dulu, apa Akbar akan suka Luna.


Padahal aku sama sekali tak punya niat untuk menyukai Akbar. Tapi, setiap kali aku melihat nya, hati ku berdebar. Apa ini yang nama nya cinta, ataukah ini gejala penyakit jantung, (amit-amit dah). Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh menyukai nya. Benar. Hanya hidup seperti biasa tanpa cinta.


Tapi... apa aku harus diam saja melihat Luna menjadikan Akbar sebagai target barunya? Tapi tunggu dulu. Aku bilang aku tidak mau menyukainya!!. Lalu kenapa aku mengkhawatirkan nya?! Kenapa aku tidak sudi kalau Luna mendekati Akbar. Padahal aku dan dia hanya sebatas partner latihan. Ada apa ini?


Someone's, please tell me, what's wrong with me now?!


"Lia! ".


Lamunan ku buyar ketika Luna memanggil nama ku dengan kencang. Aku menoleh ke arah nya, sambil kedua tangan ku bertumpu di wastafel. " Ada apa Luna? " tanya ku rada bingung.


"Kamu kenapa? " tanya Luna cemas.


"Aku baik-baik saja" ujar ku.


"Kamu daritadi di panggilin sama Kak Akbar. Tuh dengerin".


Samar-samar aku mendengar suara Akbar memanggil ku dari lantai atas. Aku menoleh ke arah Luna kembali dan kemudian meninggalkan nya di toilet sendirian. " Masih hidup kamu?? " tanya Akbar dari lantai atas yang mana Dia sudah melihat ku di bawah.


"Masih! ".


Aku naik ke atas mengarah pada nya. "Sudah selesai muntah nya? Nanti kamu malah muntah ke wajah ku" ucap Akbar sambil berjalan di depan ku. "Hal itu yang paling ingin ku lakukan pada mu Kak :) " ujar ku.


"Apa? ".


" Gak! Angin lewat, bedebus! Kencang sekali!!" ucap ku sambil menggoyangkan tangan kanan ku dengan gemulai.


"Bedebus pala mu! Sini latihan lagi " katanya sambil menarik ku agar aku berjalan dengan cepat.


"Aku habis muntah lohh, istirahat dulu kenapa? " kata ku kesal.


"kan sudah kamu istirahat".


" kapan? " tanya ku.


"ha-hh, terus kamu ke wc tadi ngapain? " tannya nya sambil mengangkat salah satu alis mata nya.


"Dih, aku gak cukup istirahat sebentar itu" ucap ku.


"ya sudah, kita mulai 10 menit lagi" ujarnya sambil duduk di bawah lantai.


"kok duduk di lantai sih? " tanya ku yang mengikuti nya duduk di bawah.


"aku juga capek, jadi istirahat dulu" katanya.


Tsundere kamu mas :)


"kak aku ingin tanya pada mu, boleh nggak? " tanya ku ragu-ragu dengan nya.


"silakan" katanya sambil berbalik menghadap ku.


"kakak ada pacar ngga? " tanya ku.


"Pacar? lah kamu siapa jadi dong? " tanya nya membalikkan pertanyaan pada ku.


"maksudnya apa sih? " *kesal.


"ha-hh, maksud ku itu, kamu kan pacar ku " ucap nya sambil menyilangkan kedua tangan nya.


Blushing.


"hah?! Memangnya kapan coba kita pacaran" ujar ku.


"waktu kita kencan" ucapnya.


"kencan? Owhh, bukannya itu semua cuman pura-pura" kata ku sambil mengangkat salah satu alis mata ku.


"Memangnya kenapa kalau pura-pura? Memang nya kamu mau jadi pacar ku? " tanya nya sambil tersenyum miring.


Double Blushing.


"hah?? ".


" ehehehe bercanda kok. Aku suka kalau lihat wajah malu-malu kucing mu" katanya sambil berdiri.


Bercanda kata nya? Dia fikir semua itu lelucon bagi ku? Apa apaan dia ini. Apa dia memang menganggap ku sebagai seorang adik? Ataukah, hubungan kita hanya akan sebatas teman dan partner latihan? Apapun itu. Aku tidak mau mendengar nya lagi.


Akbar poV.


Apa dia bakal merasa tersinggung? Kek nya sihh iya.


Ha-hh, aku cuman takut Lia, kalau kau hanya menganggap ku sebagai seorang kakak. Aku juga takut, kalau kau hanya menganggap hubungan kita hanya sebatas teman dan partner latihan. Apapun itu. Aku tidak mau mendengar nya lagi.


Akbar poV end.


"Semua nya baris!! ".


Kami di minta baris oleh senpai kami. " lah senpai botak" ucap ku tanpa sadar kalau Akbar mendengar nya. "Heh bocah, jangan ngomong gitu, nanti kamu di suruh Push-up, ngerti?! " kata Akbar sambil memarahi ku.


"Siap pak".


" Mulai besok, kita akan tidur di mess, jangan khawatir, soal biaya bapak yang akan menanggung nya. Kalian hanya perlu tidur di mess bapak, dan sebagai gantinya, bapak yang akan mengajar kalian semua! ".


" Mampus kau_-" *dalam hati lia.


Kenapa ku katakan mampus? Karena senpai itu terkenal dengan ke killeran nya waktu mengajar. "Dan orang yang akan bapak latih, ialah ~~, ~~, ~~, dan Lia, Akbar! ".


" Nah lohhh"*Dalam hati Lia.


Ingin ku teriakkkk.


Hiks hiks,,, kenapa kalau aku yang dapat guru killer seperti nya. Hueeee. Mama mau pulang, hiks.


"kita dapat dia tuh Liii... ".


" Tahu" ucap ku lemas tak berdaya karena mengetahui siapa yang akan melatih kami.


"ehh kamu kenapa pucat begitu? ".


Ya diaa.


Senpai Vionar.


Senpai botak yang nyeremin nya minta ampun.


" haa sudahlah, ayo kak latihan lagi" ucap ku.


Aku menarik tangan Akbar mendekat ke arah tim kami yang isinya cowok semua selain aku. Rasanya penderitaan ku bertambah, pertama dengan Anak laki-laki yang sedang ku genggam ini, dan di tambah di ajar dengan senpai botak itu, double penderitaan dahh.


Lalu... Kenapa ini? Tep. Tangan Akbar membalas genggaman ku dengan lembut. Dia menggenggam tangan ku juga? Tumben. Pura-pura gak tahu ahhh (modus, jangan di tiru ya teman-teman). Aku yakin, wajah ku sekarang ini sudah berubah menjadi kepiting rebus. Maluuu guyss.


"Lia".


Luna memanggil ku dari kejauhan. Akbar melepaskan genggaman tangan nya pada tangan ku. Aishhh, kok di dilepas seihh. Aku berjalan ke arah Luna yang mungkin sudah menunggu lama diri ku.


" Ada apa Lun? " tanya ku.


"kamu bisa bantuin aku nggak? " tanya nya.


"bantu apa? " tanya ku.


"bantu aku ya, biar bisa deket sama Akbar" ujar nya.


"Hah?! ".


" Aku jadi mak comblang nihh? " tanya ku tak percaya dengan apa yang Luna minta pada ku.


"iya, bantu ya.... " kata Luna sambil berlari menjauh dari ku.


Lia poV.


Apa apaan ini? Kenapa harus aku yang menjadi jembatan di antara mereka berdua. Kenapa dia tidak mendekati nya saja sendiri. Tanpa meminta bantuan dari ku? Apa Luna sengaja membuat ku bimbang begini? Kalau boleh jujur, aku gak tahu harus ngapain.


Aku bahkan gatau pasti dengan perasaan yang ada di hati ku. Sebenarnya, apa aku memang suka sama Akbar. Gak bisa. Luna menyukainya. Aku gak bisa menyukainya. Aku gak mau, pertemanan ku dengan Luna hancur begitu saja. Hanya karena, aku menyukai laki-laki yang Luna juga sukai.


Tapi apa boleh aku egois untuk kali ini? Apa kah bisa? Aku cuman takut kalau Luna, Alex, kedua sahabat ku, dan terutama Akbar, menjauhi ku. Karena mereka bisa saja menganggap ku egois. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang egois.


Lia poV end.


"aku gak tahu" ujar ku sambil terduduk dan mengacak-ngacak rambut ku.


Kau harus apa!!


"Lia, kau baik-baik saja? " Tanya seseorang dari belakang ku.


Tentu saja dia, Akbar.