My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 2 Bad boy



Ya dari awal inilah aku mulai menyukainya.


" Ya udah cepet berdiri, " Ujarnya sambil menegakkan tubuh nya. " Ugh bisa bantu aku berdiri?!, " Tanya ku sambil memalingkan pandangan dari nya.


" Kalau minta bantuan itu tataplah wajahnya!, " Teriak nya sambil menarik wajah ku agar kembali menatap nya.


" Nih udah natap kan!? Cepat bantu aku!, " Teriakku.


"Mana ada orang minta bantuan ngomong nya seperti orang marah, hoi gadis berisik kalau mau minta bantuan ngomong yang baik!. "


" Iya iya, tolong bantu aku berdiri, " Ucapku.


" Kurang lembut!, " Bentak nya.


" Cowok ini mau nya apa sih?, " Tanyaku dalam hati. Kali ini aku berdiri sendiri. Tidak minta bantuan nya sedikit pun.


" Sudah capek minta tolong?!, " Tanya nya sambil melirik kaki ku yang merah.


" Iya!. "


Sebenarnya kaki ku masih sakit. Tapi aku harus menahan nya jika untuk balas dendam ke cowok nyebelin ini.


Aku pun melanjutkan latihan ku. " Kalau masih sakit pelan-pelan saja, " Ucapnya sambil melihat kaki ku lagi.


" Ah tidak apa, tidak usah pedulikan aku?!, " Ucapku tanpa mempedulikan perkataan nya.


"kamus wanita ' tidak apa ' artinya 'ada apa-apa' ya kan?. "


"Bagaimana dia tahu hal itu, aku bilang tidak apa biar dia tidak mempedulikan kaki ku kok dia malah tambah perhatian, " Tanya ku dalam hati.


" Kamus macam apa itu?!, "Tanyaku sambil membentak.


" Bukan apa-apa, " Katanya sambil tersenyum ke arah ku.


Saat melihat nya tersenyum hanya ada satu kata di benakku yaitu MasyaAllah "ganteng ". Latihan pemanasan pun selesai. Kami istirahat sebentar dan langsung diminta pelatih untuk membuat beberapa kelompok.


" Hoi gadis berisik cepetan sini!, " Panggil nya. Orang ini padahal dia tahu kaki ku sedang terluka, dia malah nyuruh aku jalan cepet. Apa gak sakit ini kaki!.


Aku pun berjalan cepat ke arah nya. Sesampai disana dia langsung membentuk kelompok. Dan ternyata 3 cowok dan 1 cewek. Dan 1 cewek itu adalah aku.


" Sudah selesai bentuk nya, sekarang kita baris, " Katanya sambil berjalan menjauhi ku.


"Hei... Cowok nyebelin, aku gak mau ada cowok semua, " Ucapku sambil menarik lengan nya.


" Kenapa?, " Tanya nya langsung.


" I-itu aku t-tak.... "


" Takut?, " Tanya nya langsung memotong perkataan ku. Aku pun mengangguk malu padanya.


" Ngapain takut, lagian kami gak mau sama cewek berisik seperti mu, " Ujarnya sambil menatap ku jahil. Aku pun dengan sigap menjitak kepalanya yang membuat nya kesakitan.


" Huh!? Menyebalkan!, " Ucapku pada diri sendiri. Aku pun meninggalkan nya sendirian di sana.


" Hoi gadis berisik kita mau baris, kamu mau kemana!?, " Teriak nya. Langkah ku pun terhenti oleh teriakan nya. " Cih!? Malesin!. "


Aku pun berjalan pelan ke arahnya kembali. Saat ini aku sedang berhadapan dengan cowok nyebelin ini.


" Ngomong-ngomong kita belum kenalan dengan benar kan?, " Tanya nya. Aku pun mendengakkan kepala ku.


" Iya terus?," Tanya ku.


" Aku Akbar , panggil aku Kak Akbar, aku lebih tua setahun dari mu, " Katanya sambil menjulurkan tangannya.


" Sudah tahu, " Jawab ku dingin.


" Oh, yeahh setidaknya beritahu nama mu, " Tanya nya.


" Nasalia, panggil saja Lia, " Jawab ku singkat sambil menjabat tangannya.


" Nama yang bagus, tapi aku akan tetap memanggil mu gadis berisik, dan kau panggil aku kak Akbar, " Ucapnya sambil menatap ku dengan remeh.


" Gak mau!, " Kata ku dingin.


" Terserah lah!. "


Aku pun terkekeh melihat sikap nya yang sudah kelelahan menghadapi sikap dingin ku ini. Tiba-tiba pelatih tua itu menyuruh kami mendekat untuk diberi instruksi.


Dan tanpa sadar aku malah menarik tangannya cowok nyebelin ini. Kami berdua pun berlari pelan bersama, dengan kaki merah ku ini.


" Selama 2 bulan ke depan kita akan berlatih dengan keras, berjuang keras untuk mendapatkan pengalaman dalam bertanding, beserta penghargaan yang akan kita dapat. Jadi saya selaku pelatih akan membuat jadwal setiap malam kita akan berlatih di gedung ini. "


Seusai mendengar ceramah dari pak pelatih kami di  bubarkan untuk berlatih kembali.


Mendengar ucapan cowok nyebelin ini, aku pun melihat ke arah tangan ku, dan benar saja aku sedang memegangi tangan nya. Dengan spontan aku pun langsung melepaskan genggaman tangan ku dari tangannya. Dan memalingkan tatapan ku yang pasti nya telah memerah.


" Enak ya?, " Tanya nya.


" Mana ada!, " Ucapku kesal.


"Apa nyaman ya megangin tangan anak cowok?," Jawabnya sambil menatap ku dengannya jahil.


"Enggak?!. "


Aku pun berjalan meninggalkan nya lagi. Dan pergi ke kelompok ku yang telah di buat si cowok nyebelin itu.


" So gerakan kita sama kan?, " Tanya cowok nyebelin itu.


Kami bertiga pun mengangguk dengan serempak. Tiba-tiba pelatih memberikan kami secarik kertas yang berisi tentang gerakan yang akan kami peragakan nanti.


" Oh ini gerakan nya, hei gadis berisik cepet lakukan ini dengan ku!, " Teriaknya.


" Pertama jangan berteriak pada ku, kedua nama ku Lia jadi jangan panggil aku gadis berisik, " Ujarku kesal.


" Nama Lia terlalu manis untuk anak cewek  berisik seperti mu, " Ucapnya tanpa melihat ke arah ku.


Mendengar ucapannya pipi ku merona merah dengan hebat. Pertanda malu. "Dia ini selalu membuat ku tersipu, menyebalkan!. "


Kami kembali berlatih dengan keras. " Sudah c- cukup kaki ku sakit, " Ujarku sambil terengah-engah kelelahan.


Aku pun duduk di lantai sambil mengelus kaki ku. Tiba-tiba cowok nyebelin ini membungkukkan tubuhnya kembali. Dan duduk di depanku.


"Kamu ngapain duduk juga!?, " Tanya ku sambil membentak. Tiba-tiba tangannya menyentuh kaki ku dengan lembut.


" E.. Eh ngapain?. "


" Sudah diam!, " Bentaknya. Aku pun terdiam dengan sekali bentakkan oleh nya.


" Yang mana yang sakit?, " Tanya nya. Aku pun menunjukkan bagian kaki ku yang sakit padanya. Dan Tiba-tiba dia menyentuh bagian yang sakit itu.


" Akh!!  Sakit kak!, " Teriak ku sambil memegang tangan nya agar tangannya berhenti menyentuh kaki ku. Aku dan dia pun saling bertatap beberapa menit. " Hentikan sakit. "


" Sudah diam!. " Dia pun kembali menekan kaki ku yang sakit dengan pelan. Tentu saja walau pelan pun kaki ku masih tetap sakit.


Tapi aku menahan rasa sakit itu agar tidak dimarahi nya lagi 😖.  Tiba-tiba tangannya menghentakkan kaki ku dengan keras.


" Akh!  Sakit!. " Tanganku pun tanpa sadar bergerak untuk memukulnya.  Dia pun menangkap tangan ku yang hampir saja mengenai kepalanya.


" Sudahlah diam!  Sekarang sudah tidak sakit lagi kan!  Sekarang coba gerakan kaki mu!, " Perintahnya sambil menurunkan tangan ku ke pahanya.


Aku pun melakukan sesuai perintahnya. Ku gerakkan kaki ku dengan pelan. Dan benar saja kaki ku tidak terasa sakit lagi. Beneran sembuh nih?


"Se-sembuh kah?,  " Tanya ku. Dia pun mengangguk dengan pelan. Akhirnya tangan ku di lepas oleh nya. Dia juga berdiri kembali dan mengulurkan tangannya untuk membantu ku berdiri.


Aku pun memegang tangannya kembali. Dan Tiba-tiba dia menarik ku dan mendekat ke tubuhnya. " Duh pelan dikit napa nariknya, ikhlas gak sih!. "


Tanpa sadar saat ini kami berdua sangat dekat. Eaa kayak sinetron apa ya??  Aku pun dengan sigap menjauh kan tubuhku dari nya.


" Terima kasih, " Kata ku sambil menundukkan kepala. " Iya sama-sama, sekarang jangan teriak-teriak lagi ke aku!. "


" Lah kan kamu yang teriak, dasar cowok nyebelin!. "


" Btw kamu manggil aku kakak ya tadi??, " Godanya


" Eh Iya memang nya kenapa?, " Tanya ku.


" Gak apa, rasanya senang di panggil begitu oleh cewek berisik seperti mu, " Katanya sambil mengusap Kepala ku.


Blush!!


Pipiku benar-benar memerah. Apalagi saaat ini tangannya sedang berada di atas kepala ku. Aku jadi salting ikh.


" Wah pipimu merah, kamu demam?, " Tanya nya.


" Dasar cowok gak peka! Semua cowok sama aja, gak peka!, " Kesal ku.


" Gak peka katamu?  Aku tahu kalau kamu sedang tersipu malu karena aku mengusap Kepala mu, ya kan. "


Triple blush!!


Pipiku tambah merah. Akh harga diri ku sebagai cewek dingin. Hancur oleh cowk nyebelin ini.


" Akh tambah merah deh." Mereka bertiga terkejut melihat ku yang tersipu malu oleh cowok nyebe... Ah maaf si kak Akbar ini.